“Kebohongan yang sudah dikenali lebih baik daripada kebenaran yang masih tersembunyi,” kata setan kepada wanita di depannya dengan raut wajah datar. Wanita itu mengatakan dirinya seorang filsuf. Kerjanya berpikir. Tidak ada yang bisa menolong setan, selain kepalanya yang penuh pikiran itu. Setidaknya, begitulah pikir sang setan.

 

BISIK-BISIK penonton berhenti ketika lampu menyala dan seorang wanita duduk di kursi kayunya dengan wajah gelisah. Buku-buku bergelayut di atap panggung yang berlatarkan warna hitam. Tidak jauh dari wanita itu duduk, ada meja dan tiga kursi bewarna putih yang dihiasi bunga warna-warni. Ia membuka buku-bukunya yang berserakan di meja kayu, lalu mengangkat telepon yang tiba-tiba berbunyi di tengah malam.

 

“SETAN?” Sang filsuf tertawa keras. Ia berdiri dengan ponsel di telinganya. “Astaga! Jangan bercanda! Ini sudah larut malam. Anda tidak perlu mengajak orang seperti saya bergurau. Sudah matikan saja!”

 

Lampu mati, terdengar suara ketukan horor yang mengiringi kedatangan sesosok setan. Dengan sepasang mata yang merah menyala di tengah kegelapan, setan menampakkan dirinya kepada sang filsuf. Setan menerima segelas kopi yang sang filsuf berikan dan mengatakan bahwa dirinya tengah galau karena dirundung bencana. Ia ingin filsuf membantu berpikir untuk menyelesaikan masalahnya.

 

“Perang,” ucap setan dengan nada tinggi. Sang filsuf menatap setan tak percaya. “Tentu saja perang mengancam aku. Apa yang membuat kau jadi terkejut dalam hal ini! Dan kukira kau bukan tidak tahu. Bom-bom atom dan peluru-peluru kendali akan menghancurkan dunia dan membinasakan umat manusia. Hidupku ini bergantung pada manusia, kalau terjadi kiamat, maka semuanya akan berakhir.”

 

Setan berdiri, melangkah menuju kursi sang filsuf. Ia membalik lembaran buku sang filsuf dengan wajah tidak tertarik.

 

“Aneh! Dunia semua menduga, setan lah yang menggoda pemimpin-pemimpin negara besar itu supaya mereka mengobarkan api peperangan yang akan datang. Sekarang malah setan sendiri mau cuci tangan dan mau mungkir,” sarkasnya pada setan.

 

Sementara itu, perdebatan antara setan dan sang filsuf terus bergema. Datang lah seorang wanita dengan baju tidur merah muda yang terlihat menahan amarah, wajahnya memerah, menatap sang filsuf geram. Sang filsuf yang hanya menumpang di rumah adiknya itu mengusap kepalanya ringan. Ia tidak suka akan kedatangan adiknya yang selalu menimbulkan pertengkaran.

 

“Belum habis-habis juga membaca dan menulis?! Lampu listrik yang terpasang sepanjang malam ini dengan uang atau tidak dengan uang?! Dan siapa yang membayar tiap bulan? Dari kantongmu atau dari uang belanjaku?”

 

Setan yang melihat pertengkaran itu hanya menggelengkan kepala. Sang adik terus mengoceh, sedangkan setan asik meniup telinganya. Beberapa kali ia mengganggu sang adik hingga percek-cokan kedua manusia itu semakin panas. Wanita pemilik rumah itu mengancam akan melemparkan sebotol tinta di buku-buku sang filsuf jika ia tidak segera meninggalkan rumahnya. Melihat itu, setan hanya tertawa.

 

“Mau pergi kau? Dan meninggalkan aku berada dalam ancaman. Tolong, tolonglah aku,” pinta sang filsuf kepada setan.

 

Setan berlari keluar sambil melambaikan tangannya pada sang filsuf. Ia merasa kecewa. Rupanya, sang filsuf pun tidak bisa menyelesaikan perangnya sendiri dengan otaknya yang penuh pikiran itu.

 

Rabu malam, gedung Student Center UNS disulap menjadi sebuah panggung sederhana oleh Teater Sopo. Namanya “Pentas Bikin-Bikin”, sebuah agenda tahunan yang dilakukan sebagai penjajakan dan pengenalan mengenai seluk beluk teater khususnya kegiatan memproduksi pergelaran pentas yang dilakukan oleh Teater Sopo.  Pentas yang ke-XXIV ini mengangkat “Karsa dalam Satu Rasa” yang memiliki makna penyatuan rasa untuk menciptakan sebuah karya. Pentas ini digelar pada 13 Maret 2019 dengan penampilan dua pentas drama, yaitu “Setan dalam Bahaya” dan “Dukun-dukunan”, dari judulnya memang terlihat berkaitan, tetapi nyatanya kedua pentas sangat berbeda.

 

“Fokus permasalahan pentas pertama ini adalah mengenai emansipasi wanita, bahwa wanita tidak hanya bisa diam di rumah tanpa melakukan apapun. Wanita punya pikiran yang tidak kalah hebat, bahkan setara dengan laki-laki,” kata Dimas Prasodjo, Sutradara “Setan dalam Bahaya” ketika diwawancarai seusai pentas.

 

Dari ruangan sang filsuf yang gelap dan sepi, latar panggung beralih menjadi pedesaan jaman dahulu. Lemari kayu yang sudah lapuk berada di pojok ruangan, seorang pria bangun dari tidurnya di sebuah tempat tidur kecil tanpa kasur, kain-kain bergeletak di lantai. Sangkar burung dengan dua burung putih tergantung di atap rumah. Pertengkaran hebat antara suami-istri akan terjadi sebentar lagi.

 

Oalah…Pak.. Pak…, mbok sekali kali, kerja yang bener, yang menghasilkan duit. Biar bisa untuk beli beras, untuk makan, untuk hidup sehari-hari,” omel istri sambil menyapu lantai. “Puasa kok setiap hari. Puasa bagi orang yang mampu itu memang ajaran agama, tetapi bagi kita kaum duafa? Puasa itu karena keadaan, Pak, karena memang tidak ada yang dimakan.”

 

Naskah “Dukun-dukunan” mengisahkan pertengkaran suami istri yang hidup dalam keterbatasan. Suami yang pemalas dan istri yang pemarah, keduanya tak pernah akur. Sedangkan di tempat lain, keluarga kaya sedang dilanda kebingungan atas penyakit misterius yang diderita anaknya. Mereka berusaha mencari cara untuk menyembuhkan anak mereka dengan mencari dukun. Meskipun terlihat menyedihkan, tetapi pentas “Dukun-dukunan” ini sarat akan komedi. Dari aroma horor yang kental, kini ruangan pentas sarat akan tawa yang saling bersahutan.

 

Sang ajudan mencari dukun hebat di sekitar desa untuk mengobati anak tuannya yang sedang sakit. Mereka bertemu dengan sang istri yang sedang menjemur baju di depan rumah. Karena iming-iming uang, sang istri pun mengatakan bahwa suaminya lah dukun hebat itu. Mereka pun membawa sang suami ke rumah majikannya yang kaya. Setelah diperiksa ala kadarnya dan meninggalkan sang putri berdua dengan dukun-dukunan itu, rahasia kecil sang putri terbongkar.

 

Lha aku lho cantik-cantik begini masa mau dijodohin. Masih muda, mau masuk kuliah, tetapi malah dijodohin sama Mas Turah Wojo. Mending kalau cakep, lha mukanya kayak bapak ini lho …” Gelak tawa terdengar ketika sang putri menjelaskan alasannya berpura-pura bisu.

 

Kong kalikong pun terjadi di antara mereka. Cukup mudah, sang suami berhasil menyembuhkan putri dan perempuan muda itu tak jadi dijodohkan dengan Turah Wojo. Ketika semua memasang raut bahagia, tiba-tiba, dengan tubuh penuh barang-barang mahal, sang istri mendatangi sang suami dengan mata berbinar.

 

“Jadi, ibu ini istrinya dukun ini?”

“Ya iyalah”

“Berarti …”

 

Sang majikan pun mengarahkan pistolnya pada dua orang tersebut.

 

Azmi, sang filsuf, yang juga Pimpinan Produksi Pentas Bikin-Bikin di kehidupan nyata, mengatakan bahwa pentas ini termasuk program kerja untuk anggota baru. “Tujuannya sendiri untuk melatih anggota baru agar lebih mengenal tentang dunia pementasan,” ujarnya kemudian. Ia juga menambahkan perasaannya bergabung dengan Teater Sopo untuk pertama kalinya. “Rasa tertantang yang pasti, kebetulan baru pertama ini masuk ke teater, baru pertama kali ngerasain dunia keteateran itu seperti apa. Ternyata nggak cuma ngurusin pentas dan panggung aja, tetapi juga birokrasi dan lain-lain yang ternyata lebih ribet dari yang saya bayangkan.”[]

 

Baca Juga: Menilik Pentas Bikin-bikin XXIV Teater Sopo

 

Reporter: Hesty Safitri