“Saya itu bapak kalian, kalian itu anak-anakku. Apa artinya sebuah tulisan yang harus saya tanda tangani. Mengapa kalian memaksa saya untuk menandatangani (pakta integritas) itu?” ungkap Jamal Wiwoho dalam forum tersebut.

 

Berbeda dengan tahun sebelumnya, dalam memperingati hari pendidikan nasional kali ini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS adakan forum mahasiswa dengan rektor baru (2/5). BEM UNS juga adakan dua agenda lainnya yang menjadi rangakaian peringatan hari pendidikan yaitu konsolidasi seluruh mahasiswa dan aksi refleksi (bersama BEM FKIP).

 

Dalam rangkaian aksi pendidikan tersebut, agenda konsolidasi seluruh mahasiswa dan aksi refleksi hanya dihadiri oleh beberapa mahasiswa saja. Tidak sesuai dengan tujuan konsolidasi yang merupakan penguatan untuk mempersiapkan forum bersama rektor yang diadakan pada waktu berikutnya.

 

Sepinya audiens sangat berkebalikan dengan keadaan ketika aksi forum rektor bersama mahasiswa digelar. Ratusan mahasiswa menghadiri forum ini. Forum rektor bersama mahasiswa yang awalnya digelar di Aula FKIP gedung F, namun aksi tersebut terpaksa harus berpindah di gedung rektoran ruang sidang lantai dua. Alasan pemindahan tempat ini tidak disampaikan secara jelas. Akibat dari pemindahan tempat tersebut, banyak mahasiswa dilarang masuk dikarenakan ruangan sudah penuh. Bahkan pintu masuk bagian belakang gedung rektorat di blokir oleh satpam, sehingga beberapa audiens yang telat datang, tidak diperbolehkan memasuki rektorat.

 

“Kami hanya mengantisipasi hal-hal yang semestinya tidak tejadi” kata salah satu satpam yang memblokir pintu belakang rektorat.

 

Setelah menunggu sekitar satu jam lebih, dengan melalui perundingan panjang, satpam mengajak dua perwakilan dari audiens yang belum dapat masuk ke dalam gedung rektorat untuk melihat keadaan yang ada dalam ruang sidang. Setelah dua perwakilan dari audiens tersebut diperbolehkan masuk ke dalam gedung rektorat, akhirnya semua dapat memasuki gedung rektorat. Sesampainya di depan ruang sidang, kami masih tertahan tidak diperbolehkan untuk masuk, dan masa pun semakin banyak.

 

Setelah berunding dengan penjaga pintu, awalnya audiens diperbolehkan masuk, namun hanya perwakilan dari masing-masing BEM fakultas, organisasi kampus, dan mahasiswa dari masing-masing fakultas dengan masing-masing satu perwakilan saja. Namun, sekitar pukul setengah delapan, seluruh audiens yang masih di luar ruangan diperbolehkan memasuki ruangan forum rekor bersama mahasiswa. Akhirnya audiens masuk dengan berdesak-desakan.

 

Ruang sidang tempat forum tersebut mendadak penuh yang sekira terisi 200 orang. Bahkan berpuluh-puluh mahasiswa banyak yang tidak mendapat akses tempat duduk yang terpaksa duduk dibawah dan sampai membludak hingga ke tepian pintu.

 

Awak BEM UNS sendiri juga terlihat bingung dengan membludaknya peserta forum, karena sejak pagi rangkaian agenda hari kependidikan yang dimulai pada konsolidasi teknis forum serta aksi refleksi di depan Bulevar UNS sore hari peserta tidak sebanyak aksi forum bersama rektor.

Para mahasiswa duduk di luaran ruang sidang karena tidak dapat memasuki ruangan – Septiarani Ayu/LPM Kentingan

 

Baca Juga: Seonggok Refleksi Pendidikan

 

Dalam forum tersebut beberapa jajaran petinggi rektor yang turut menghadiri ialah Jamal Wiwoho sebagai Rektor baru UNS, Drajat Tri Kartono selaku Staf Ahli Rektor Bidang Pengembangan Akademik, Sutanto selaku Staf Ahli Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Kuncoro Diharjo selaku Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Hery Widijanto selaku Wakil Dekan FP Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Supardjo selaku Wakil Dekan FIB Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Lukman Hakim selaku Wakil Dekan FEB bidang Kemahasiswaan dan Alumni serta Rohman Agus Pratomo selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni.

 

Tanggapan Terkait PTNBH, WCU, dan Sekolah Vokasi

Dalam forum tersebut beberapa peserta menyampaikan keluhannya kepada petinggi rektor, salah satunya Rohadi Setyawibowo mengeluhkan kebijakan penggunaan Student Center (SC) dan GOR yang harus berbayar. Hal tersebut secara gamblang ditanggapi oleh rektor dengan tegas.  “Untuk kegiatan mahasiswa, mestinya itu gratis.” tegas Jamal setelah mendengar keluhan salah satu peserta forum.

 

“Pak Tomi ditulis ya, mahasiswa pake GOR, SC tidak usah ditarik (berbayar) mesakke.” Ujarnya pada Tomi selaku Kepala Biro Kemahasiswaan dan Alumni. Mahasiswa tentu mengamini janji rektor tersebut, setelah itu sorak ria tepuk tangan bertautan.

 

Menurutnya fasilitas-fasilitas itu adalah punya UNS bersama. Sehingga untuk kegiatan-kegiatan kemahasiswaan mestinya adalah tidak berbayar. “Untuk kegiatan kemahasiswaan tidak ditarik, tetapi untuk event-event yang diciptakan, seperti narik sponsor sana-sini sebenarnya itu hanya ditarik biaya kebersihan. Tapi kok iurannya sampai jutaan tho pak?  tanyanya bingung pada petinggi rektor.

 

Hal tersebut didukung pendapat petinggi rektor lainnya, “Saya ikut mendukung usul dari mahasiswa, bahwa ada hal-hal yang sifatnya berbayar tadi, dimohon untuk Pak Rektor mencabut dan mengoreksi SK (Surat Keputusan) yang sudah ada.” Kata Sutanto. Ia menyayangkan mahalnya biaya fasilitas di UNS, dibandingkan biaya menggunakan fasilitas di luar UNS yang lebih murah.

 

Kemudian mengenai jaminan kebebasan dalam menyuarakan pendapat sebagai bentuk respon atas terjadinya kasus pembredelan di USU dan universitas lainnya, Jamal mengatakan bahwa seharusnya di UNS tidak terjadi hal yang demikian karena selayaknya dalam membuat sebuah tulisan kita tidak boleh merugikan orang lain. Dalam hal ini Jamal secara terang-terangan sangat mendukung adanya kegiatan penulisan jurnal yang dilakukan oleh mahasiswa dan dosen. Yaitu tulisan yang sifatnya konstruktif bukan sebuah tulisan yang berisi kritikan akan tetapi tidak dilengkapi dengan saran.

 

Digiatkannya penulisan jurnal oleh mahasiswa dan dosen tidak bisa dilepaskan dari cita-cita UNS untuk mencapai PTNBH dan World Class University (WCU). UNS menurutnya telah siap menyandang gelar sebagai kampus berbadan hukum atau PTNBH, hal tersebut tinggal menunggu terkait turunnya surat keputusan resmi mengenai penetapannnya. Mengenai berkas dan juga aspek kesiapan-kesiapan lainnya UNS telah mampu memberikannya, dapat dikatakan UNS menjadi PTNBH tinggal menunggu waktu saja. Sebagai buntut dijadikannya UNS sebagai universitas berbadan hukum, Jamal menjamin hal tersebut tidak akan berimbas pada kenaikan ukt mahasiswa.

 

Sementara itu, jika disinggung lebih lanjut mengenai kepantasan UNS menuju World Class University (WCU). Pada saat ini UNS sedang berusaha memantaskan diri untuk mencapa hal tersebut. Salah satu upaya UNS menuju WCU yaitu dengan memisahkan antara program studi yang berbasis keilmuan (S1, S2, S3) dengan program studi berbasis praktik (D3, D4). Hal tersebut terbukti sedang didirikannya kampus vokasi UNS di daerah Tirtomoyo yang digadang-gadang nantinya akan menjadi tempat belajar baru bagi mahasiswa D3 dan D4 yang selama ini masih tergabung pembelajaraannya di kamus pusat. Adanya pemisahan tersebut diharapkan dapat membuat program studi vokasi UNS serta program studi keilmuan menjadi lebih fokus dalam pelaksanannya.

 

Petinggi rektor menganalogikan WCU adalah sebagai tempat untuk mengorbit, dan untuk bisa sampai ke orbit itu, pesawatnya adalah PTNBH. Sehingga ada keterkaitan keduanya, maka untuk menuju World Class University maka dibutuhkan PTNBH.

 

Jamal Wiwoho saat berdialog bersama mahasiswa – Septiarani Ayu/LPM Kentingan

 

Menolak Pakta Integritas

Kemudian dipenghujung acara forum, mahasiswa meminta adanya penandatanganan pakta integritas yaitu dengan ditandatanganinya notulensi forum tersebut oleh rektor. Adanya pakta integritas tersebut dianggap sebagai sebuah bentuk komitmen Jamal atas hal-hal yang telah dikatakan terkait akan kebijakan-kebijakan yang sangat pro terhadap mahasiswa. Akan tetapi, dengan dengan lagu klasik Jamal yaitu menganggap dirinya sebagai” Bapaknya Para Mahasiswa”.

 

“Sebagai bapak, saya tak pernah ada kontrak tanda tangan dengan anak-anak saya. Tanda tangan kontrak saya adalah dengan Pak Mentri. Tetapi seandainya nanti saya mengingkari, tolong diingatkan saja. Forum sangat terbuka seperti ini, kurang opo aku?”  tuturnya pada mahasiswa.

 

Ia mengulangi lagi ucapannya dengan tegas, “Jika ada masalah mari kita selesaikan bersama-sama. Apa artinya sebuah tulisan yang harus saya tanda tangani, manakala saya mengingkari itu.”

 

Para audiens yang datang tentulah kebingunan dibalik ucapan sang rektor dan bertanya maksud ucapannya. Setelah itu forum selesai karena sudah melebihi waktu yang disepakati.[]

 

Reporter: Imriyah, Lulu Febriana, dan Umi Wakhidah