Sore yang mendung beberapa orang mengenakan baju hitam berkumpul di Boulevard, UNS. Tiba-tiba mereka menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya dan Mars Mahasiswa. Suara itu mengudara bersautan dengan suara kendaraan yang melintas Jl. Ir. Sutami.

 

Gerombolan itu adalah mahasiswa yang menyebut sedang dalam aksi refleksi hari pendidikan nasional bertepatan pada tanggal 2 Mei. Aksi tersebut dicetuskan oleh BEM FKIP UNS, diikuti oleh sejumlah mahasiswa UNS dan disaksikan oleh beberapa penjual es atau bisa jadi dilirik oleh beberapa pengendara jalan Ir. Sutami yang penasaran.

 

Para mahasiswa ini menjalankan peran masing-masing, ada yang sedang berorasi, ada yang memegangi poster “Pendidikan Untuk Siapa?”, “Kurikulum Mau Dibawa Kemana?”, “Pendidikan Tinggi Gaji Rendah”, ada yang sebagai penonton saja. Tak hanya orasi, acara ini juga di isi dengan aksi teatrikal, pembacaan puisi dan penulisan 100 harapan untuk pendidikan.

 

Apakah gunanya seseorang

Belajar filsafat, teknologi, ilmu kedokteran, atau apa saja

Ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:

“di sini aku merasa asing dan sepi”

 

Sepenggal puisi berjudul Seonggok Jagung karya WS. Rendra, menjadi salah satu puisi yang dibacakan dalam aksi refleksi hari pendidikan tersebut. Dalam puisi tersebut bercerita mengenai seorang mahasiswa rantau yang  kembali ke daerah asalnya dan menemukan keterasingan.

 

Aksi teatrikal juga ditampilkan oleh beberapa mahasiswa yang berperan sebagai guru honorer, siswa yang terkena AIDS, korban bidikmisi, anak pelosok semuanya tangan saling diikat dengan tali rafia oleh menteri pendidikan.

 

Pemeran guru honorer bercerita bagaimana tidak adilnya gaji yang sangat berbeda jauh dengan gaji seorang guru PNS. Korban bidikmisi mengadukan betapa tidak tepat sasaranya mahasiswa penerima bidikmisi. Siswa yang mengidap penyakit AIDS tidak bisa bersekolah karena penyakitnya.

 

“Wahai pemerintah yang jahanam, kau terus tingkatkan pendidikan di Jawa sedangkan kami anak-anak pelosok juga ingin merasakan nikmatnya pendidikan layaknya di Jawa. Kami juga ingin merasakan guru yang kompeten, sarana dan prasarana yang memadai.” Keluhan yang diucapkan oleh mahasisawa pelosok terhadap Pak Menteri Pendidikan.

 

“Bacot kalian, semua itu urusan pemerintah!” kata sang Pak Menteri Pendidikan gadungan, seakan menertawai semua keluhan-keluhan.

 

“Aksi refleksi ini hanya sekedar merefleksikan permasalahan pendidikan yang sedang terjadi di Indonesia, contohnya terkait guru honorer lebih tepatnya yang masih mengusahakan bisa menjadi guru tetap atau minimal gajinya sama lah dengan guru tetap, juga kita bahas anggaran pendidikan yang belum merata.” Ucap Faisal Ghifari koordinator aksi refleksi pendidikan.

 

Dia juga melanjutkan bersama BEM FKIP UNS akan mengawal isu-isu pendidikan di Surakarta, dengan menjaring beberapa lembaga-lembaga, dan elemen masyarakat. Kedepannya juga ingin menjaring lebih banyak mahasiswa antar kampus di Surakarta.

 

“Kita memaknai hari pendidikan itu bukan cuma satu hari, tetapi setiap hari adalah hari pendidikan. 2 Mei ini bukan awal bukan akhir juga, tapi bagian dari proses. Pun tidak hanya dengan cara aksi juga ada cara-cara lain.” Tambahnya.[]

 

Reporter: Lutfia Nurus Afifah