SEPERTI YANG sudah diketahui khayalak ramai warga Surakarta bagian Kentingan, perguruan tinggi yang terletak di barat Taman Satwa Taru Jurug bertambah usia. Perguruan tinggi yang kita bicarakan ini sangat jelas, yaitu UNS. UNS telah mencapai usia 43 tahun pada 11 Maret 2019. Harlah UNS tersebut dirayakan oleh hampir semua warga UNS, baik birokrat, organisasi mahasiswa (ormawa), mahasiswa perorangan, maupun warga sekitar. Perayaan harlah UNS dirayakan dengan berbagai acara yang digelar pada Januari sampai Juli 2019, atau sekadar poster-poster yang tersebar di berbagai media sosial.

 

Poster-poster termaksud diunggah dalam berbagai macam bentuk, namun tetap memggambarkan logo ataupun ciri khusus UNS sebagai pusatnya. Salah satu poster yang yang diunggah yaitu milik salah satu lembaga pers mahasiswa (persma) di UNS. Awalnya saya cukup heran dengan persma yang identik dengan warna merah ikut  merayakan harlah UNS, meskipun sekadar poster, sih. Tumben banget.

 

Ilustrasi poster yang diungggah di akun Instagram dengan menandai akun @uns.official sebenarnya tidak ada masalah. Poster itu bergambar tokoh berkepala logo UNS yang sedang meniup lilin berangka 4 dan 3 di atas kue tart, serta diampit robot dan manusia yang tersenyum bahagia. Masalahnya ada di caption poster tersebut. Tertulis dalam caption “Selamat ulang tahun ya @uns.official. Student Center gratis dong, nga usah bayar”. Nyinyir amat nih persma.

 

Usut punya usut ada kabar gedung Student Center (SC) akan dikenai biaya per harinya. Gedung yang terletak di belakang Grha UKM itu terkenal akrab dengan ormawa karena mereka bebas menggelar acara dan berlatih tanpa dipungut biaya. Tidak heran jika SC merupakan rumah kedua bagi ormawa setalah Grha UKM.

 

Biro Kemahasiswaan bagian Minat dan Bakat selaku pihak yang mengurus segala keperluan ormawa tidak memberikan alasan yang jelas memberikan tarif pada SC. Saya mendengar kabar tersebut dari teman-teman ormawa, termasuk dari persma nyinyir tersebut. Mereka merasa resah dengan pemberian tarif Student Center. Mendengar keluh kesah dari teman-teman ormawa justru membuat saya setuju dengan dikenakannya tarif pada SC.

 

Alasan saya setuju adalah supaya ormawa bertanggungjawab. Soalnya, biasanya, mahasiswa tak acuh dengan kebersihan usai menggunakan tempat. Maka tidak heran kalau sebagian besar gedung di UNS dikenakan tarif. Gunanya untuk membayar kebersihan. Maksudnya untuk berjaga-jaga kalau tidak dibersihkan, pihak kampuslah yang menyediakan orang untuk membersihkan.

 

Alasan lain saya setuju dengan adanya biaya sewa pada SC adalah hal ini akan melatih ormawa mengatur keuangan, baik pengeluaran maupun pemasukan. Mengenai pemasukan, ormawa dapat berlatih mencari sumber dana di luar kampus. Caranya bekerjasama dengan sponsor atau mencari  sumber dana mandiri dengan berjualan. Bukankah sekaligus melatih jiwa kewirausahaan anggota ormawa?

 

Coba dihitung, selama ini sebagian besar pemasukan yang kalian (ormawa) peroleh berasal dari kampus. Apa salahnya kampus meminta uangnya kembali? Yah, meskipun dengan cara seperti itu. Mungkin saja kampus sedang ada kepentingan lain dengan memanfaatkan uang dari penggunaan SC.

 

Jangan dulu berpikiran buruk mengenai kepentingan lain yang saya maksud. Kita ibaratkan saja kampus itu sebuah perusahaan yang membutuhkan daya tarik investor. Sebagai perusahaan, investor akan tertarik dengan keadaan perusahaan yang baik, salah satunya laporan keuangan.

 

Kita ibaratkan saja kepentingan yang sedang dibutuhkan kampus itu laporan keuangan. Perusahaan dapat mengotak-atik laporan keuangan supaya terlihat bagus. Misal, untuk menaikkan laba, salah satu caranya dengan menaikkan penjualan (bisa kredit maupun tunai). Penjualan yang meningkat dipengaruhi oleh potongan harga atau jangka pelunasan yang panjang. Barangkali seperti itu yang kampus butuhkan. Anggap saja sebagai balas budi dengan jasa kampus yang kita nikmati.

 

Jadi, jangan banyak nyinyir, mendingan perbanyak instropeksi dan mencari solusi. Jangan gelisah kalau memang tidak ada uang untuk menyewa SC. Jangan risau kalau gagal mendapatkan uang dari luar kampus. Masih bisa mendapatkan uang dari kampus dengan jumlah banyak, dengan catatan kalian harus lebih cerdik dari birokrat kampus. Mwehe.[]

 

 

Safrida Esa Herawati
Mahasiswa yang gagal penelitian di Bulan Maret. Doakan segera penelitian, ya! Surel: [email protected]