Oleh: Ririn Setyowati

 

BERTEPATAN dengan orientasi mahasiswa baru yang kian lucu, saya menemukan sebuah film yang membahas tumbuh kembang bangku perkuliahan yang juga semakin wagu. Menontonnya membuat saya cuma bisa tertawa tertahan. “Wah kampus ku juga seperti itu, sial!” Film tersebut apabila digubah ke bahasa Indonesia berjudul Menara Gading. Istilah keminggrisnya, Ivory Tower (Andrew Rossi, 2014).

 

Bagi yang tidak tahu, jangan tanya apa arti istilah “menara gading” pada saya. Coba langsung tanya Rektor saja. Pasalnya pada masa orientasi, para mahasiswa tidak diberi tahu apa pentingnya kuliah, apa itu universitas, apa itu civitas academica. Yang saya ingat, mahasiswa cuma diberitahu kalau kampus ini sedang sibuk meng-internasionalisasi-kan diri menuju World Class University. Itu saja. Tak luput dari unsur foya-foya masa orientasi, antek-antek pemerintahan kampus juga setuju membuat suatu formasi sebagai tanda kebanggan terhadap kampus. Agar lebih bangga lagi, juggling shuttlecock juga dilakukan demi pecahkan rekor Muri. Persetan dengan terik matahari dan peserta yang pingsan karenanya. Yang penting kita bangga dan bisa selfie. “Pasang jempol dulu, Pak!”

 

Ketika saya menonton Ivory Tower, kesimpulan awal terarah pada semakin bobroknya sistem pendidikan tinggi. Degradasi kualitas lah, degradasi moralitas lah. Namun, ketika menilik dari perspektif yang lain saya menarik kesimpulan yang berbeda, yaitu munculnya nasionalisme sempit di institusi pendidikan.

 

Nasionalisme. Utopia bangsa yang didengungkan secara retoris, berfungsi sebagai kata anjuran dan pencitraan. Hemat saya, nasionalisme saya artikan saja sebagai paham atau ajaran untuk memiliki dan mencintai negerinya sendiri. Dalam lingkup Ivory Tower, saya anggap pembahasannya lebih sederhana nan sempit, yaitu tentang Nasionalisme Kampus alias Kampusionalisme. Anjuran untuk mencintai kampusnya lebih dari apapun. Membikin menara gading yang ditempati mahasiswa semakin kokoh. (Masih juga belum tahu makna “menara gading?”)

 

Ivory Tower mengungkap semakin berlomba-lombanya Universitas di Amerika Serikat (AS) dalam memikat dan memuaskan mahasiswanya. Visi utama bukan lagi mencerdaskan manusia, tapi prestise dan gengsi antar universitas. Dengan promosi jam kelas yang semakin berkurang, fasilitas bintang lima seperti lapangan olahraga, ruang teknologi, hingga kolam renang untuk berpesta, mahasiswa ditumbuhkan rasa cintanya pada kampus. Gejolak muda dikembangkan. Pemerintahan AS pun tahu bahwa semakin kesini, tren yang berlaku bukan lagi diskusi maupun debat di ruang kelas. Tapi asyiknya party pool dan bercumbu di lorong-lorong kaca di sepanjang kampus.

 

Ladang Bisnis

Profesor Sosiologi dan Pendidikan Universtas New York, Richard Arum bahkan mengungkapkan bahwa satu-satunya yang kini diperhatikan oleh institusi pendidikan – termasuk universitas ialah, “apakah mahasiswa sebagai konsumen merasa puas?”

 

Ya, mahasiswa kini ialah konsumen. Universitas tak lebihnya sebuah ladang bisnis, sebuah industri. Industri pendidikan yang dikuasai konglomerat-konglomerat bertoga. Setiap aksara yang keluar dari lisan dosen adalah barang dagangan yang harus ditebus para pendengarnya. AS lambat laun mengakui itu, baik secara langsung maupun dengan malu-malu. Sedangkan Indonesia sedang memasuki era industri itu, hanya saja bahasanya lebih diperhalus. Yang dikoarkan bukanlah industrinya, namun penanaman kebanggaan berkedok kampusionalisme. Lhadalah!

 

Setelah disuguhi dengan rekor Muri, akreditasi tinggi, dan mimpi menjadi World Class University, universitas pun ingin melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) seperti yang dilakukan para korporat. Dengan dalih cinta lingkungan bertajuk Green Campus, pohon-pohon dipaksa ditanam, namun AC dan lampu masih ada yang menyala 24 jam. Mahasiswa juga terlena dan kerap meminta, “besok-besok colokan-nya ditambah lagi ya!”

 

Asalkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dikatrol dan tugas bisa copy-paste, saya rasa hakikat perkuliahan cukup sampai disitu saja. Ditambah, sedikit pengalaman jadi Event Organizer (EO) dalam acara semisal beauty class atau seminar motivasi pengumbar mimpi. Mahasiswa dibiarkan terlena, stigma kebanggan kepada kampus menjadi semakin berlebihan. Istilahnya “Asal Mahasiswa Senang.” Kini giliran peringkat turun, dosen ngayem-ayem mahasiswa dengan menurunkan jenjang perolehan IPK. Sekarang dengan nilai 85 bisa dapat A. Jangan lewatkan, besok harga naik!

 

Saya kutipkan dari sebuh buku guratan Benedict Anderson, empunya konsep Nasionalisme yang saya rekomedasikan untuk dijadikan buku diktat bagi para mahasiswa. Jadi, mahasiswa tidak lugu-lugu amat untuk mengenal kampusnya. Buku itu berjudul, Hidup di Luar Tempurung (Marjin Kiri, 2016). Di situ Ben berbagi tentang perumpaan seekor katak yang menjalani seumur hidupnya di bawah tempurung. “Duduk anteng dibawah tempurung, tak sampai lama si katak pun mulai merasa tempurung itu mencakup keseluruhan semesta. Si katak itu berpikiran sempit, picik, diam terus di rumah dan tanpa alasan jelas mereka berpuas diri” (Anderson, 2016: 25).

 

Mana bisa orang seperti Benedict Anderson yang telah wafat sebelum tahu kondisi UNS, bisa menebak sebegitu benar dengan perumpamaannya. Kurang ajar!

 

Itulah yang tengah diterapkan kampus. Tingginya menara gading dan gemerlapnya fasilitas membuat tembok antara mahasiswa dan dunia luar semakin tebal. Mahasiswa turun ke masyarakat dan tempat kerja hanya bermodalkan nama universitas (dan koneksi orang dalam). Bukan intelektualitas.

 

Namun nilai yang diterapkan hanya sebatas kebanggaan birokratis. Bukan merupakan implementasi dari buku yang dibaca, diskusi yang ia lakukan bersama masyarakat, atau karya-karya yang mereka tulis. Di dalam menara gading yang kokoh nan tinggi, Universitas sedang membangun tempurung yang indah bagi katak-kataknya, agar sang mahasiswa lupa bahwa di luar sana masih banyak hal yang lebih indah untuk dipelajari.

 

Terakhir, saya ungkapkan keheranan dan harapan yang mendalam saat melihat salah satu universitas di California dalam Ivory Tower. Ialah Deep Spring University, universitas yang menerapkan lebih dari sekadar gengsi tinggi dan kampusionalisme semu. Yaitu interaksi bersama masyarakat dan alam. Ia berusaha bebas dari ancaman menjadi katak di dalam tempurung yang tinggal di menara gading. Buktinya Deep Spring University tak segan mengajak mahasiswanya angon sapi dan bergulat dengan rerumputan. Bahkan tak lupa menikmati angin di alam terbuka sembari berdebat tentang Teori Politik Marx hingga Filsafat Hegel.

 

Kampusku dibuat seperti itu? Pak Rektor prei kenceng![]

 

(Foto dilansir dari harian.analisadaily.com)


Ririn SetyowatiRirin Setyowati. Seorang mahasiswi pembelajar pesan. Sering dikatakan terlalu belia dan belum pantas. Namun, menepis stempel dini bukan merupakan hal yang salah. Mencoba mengimplikasikan ‘manusia bermoral’ seperti apa yang diharapkan Moctar Lubis dalam pahamnya. Surel:[email protected].