Oleh: Inang Jalaludin dan Lulu Puruhita

SEMESTER akhir menjadi masa paling hiruk-pikuk dalam balada kehidupan kampus setiap mahasiswa. Masa-masa ini menjadi masa-masa pengumpulan berbagai laporan, pengumuman nilai, dan tentu saja penyusunan skripsi. Yang paling akhir inilah yang kerap kali muncul menjadi bahasan obrolan para mahasiswa semester akhir. Penyusunan skripsi sering kali, menjadi momok bagi setiap mahasiswa semester akhir. Skripsi sering dijadikan kambing hitam dari kemalasan bertemu dosen pembimbing, hingga minimnya ilmu yang dimiliki selama perkuliahan. Dari permasalahan-permasalahan itulah, muncul suatu jasa yang “berharap” menjadi solusi: jasa pembuatan skripsi.

Mencari jasa seperti ini pun sangat mudah. Banyak poster yang tertempel di pohon-pohon atau tiang listrik hingga blog-blog di internet yang menawarkan jasa pembuatan skripsi ini.  Berbagai cara promosi dilakukan si empunya jasa, muulai dari yang paling mudah ditemui promosi melalui brosur yang tertempel jasa fotocopy, hingga promosi melalui broadcast media sosial seperti facebook atau blackberry messenger. Seperti yang telah diungkapkan oleh dua narasumber LPM Kentingan yang ditemui di kompleks taman Sriwedari, Solo, dalam wawancara pada pertengahan November lalu.

Awal transaksi dan proses pengerjaan

Salah satu narasumber sekaligus pemilik jasa pembuatan skripsi, Agus (samaran) yang ditemui di kantornya, menceritakan bahwa pengguna jasa yang datang biasanya mendapat informasi dari mulut ke mulut. Pengguna jasa skripsi kebanyakan adalah karyawan atau mahasiswa yang sudah bekerja, karena kesibukan dan minimnya waktu mengerjakan itulah, mereka datang menggunakan jasanya.

Pada awal transaksi, rata-rata mahasiswa pelanggan Agus datang dengan mengantongi judul yang sebelumnya telah disetujui oleh dosen pembimbing. Selanjutnya, judul tersebut akan dipelajari Agus kurang lebih selama satu jam.

“Pelajari maksud judulnya apa, ini mengacu ke mana, kamu (pengguna jasa) harus cari buku ini itu, (nanti) tinggal saya mengolah judul tersebut,” ujar pria yang bisa memperoleh empat sampai lima permintaan pembuatan skripsi tiap bulannya.

Untuk lama proses pengerjaan bisa tergantung permintaan pelanggan. Biasanya Agus akan langsung meminta deadline. Menurutnya, sistem semacam ini membuat pelanggannya juga ikut aktif menyelesaikan skripsi, seperti segera berkonsultasi dengan dosen pembimbing. Tahap berikutnya, pembicaraan mengenai kesulitan yang dihadapi, buku panduan yang digunakan universitas untuk penyusunan hingga biaya operasional. Setelah dicapai  kesepakatan, barulah skripsi mulai dikerjakan. Biasanya, dalam satu minggu Agus mampu mengerjakan dua bab, bahkan untuk dua judul sekaligus.

Dalam mengumpulkan materi, Agus masih melibatkan pelanggannya. Selain untuk ikut membantu, Agus berharap dengan banyak melibatkan pelanggan tersebut, pelanggannya juga menjadi lebih mengerti  dan menguasai materi yang digunakan. Bahkan bila diperlukan, Agus akan menyempatkan diri untuk mencari referensi hingga ke toko buku. Maka, tak heran Agus memiliki beberapa referensi skripsi di kantornya.

Penyedia jasa skripsi lainnya, Beni, mengkhususkan diri untuk menerima penelitian kualitatif bahasa Inggris. Beni memiliki system yang sedikit berbeda dengan Agus. Pada awal transaksi, Beni akan mengajak diskusi terlebih dulu membahas permintaan pelanggannya, apakah hanya per bab atau per konten? Atau bimbingan untuk menghadapi pendadaran atau utuh bab 1 sampai bab 5? Untuk sekadar konsultasi atau meminta “pencerahan” judul, Beni sangat terbuka kepada siapa pun tanpa memungut biaya.

Sama seperti Agus, Beni juga selalu melibatkan mahasiswa pelanggannya dengan harapan supaya lebih mengerti materi. Untuk mencari referensi, perpustakaan adalah tempat yang sering dia sambangi. Kini, pekerjaannya pun lebih dimudahkan setelah tersedianya perpustakaan online.

Setelah materi terkumpul, Beni akan mengajak mahasiswa untuk berdiskusi. Setelah itu menyetorkannya ke mahasiswa pelanggan untuk dikonsultasikan kepada pembimbing. Sebelum pendadaran, Beni juga melakukan persiapan dengan membuatkan power point dan menjelaskan materi.

Kan ga mungkin kan kita bikin terus dia ga tahu apa-apa, kan kasian to? Nanti tetep kita yang disalahin, risiko! Habis ujian diinjek-injek malah, tetep kita kasih tahu (bantu) jelasin,” ujar pria yang  setiap minggu bisa mendapat dua sampai tiga permintaan pembuatan skripsi.

Mekanisme pembayaran

Setelah melakukan sidang, penyedia jasa skripsi masih membantu mengerjakan revisi sesuai kesepakatan. Di sini pula biasanya pembayaran uang muka diberikan. Agus mengenakan tarif 1,5 juta untuk pengerjaan skripsi penuh dari bab satu hingga revisi. Untuk sistemnya, dia menerapkan pembayaran 25% setelah proposal, kemudian naik menjadi 50% setelah bab 4 dan sisanya setelah pendadaran.

Mengingat jumlah permintaan yang begitu tinggi, jasa skripsi bisa menjadi usaha yang menjanjikan. Walau begitu, Agus tetap menolak untuk mengatakan bahwa ini adalah pekerjaan utamanya. Sehari-hari, Agus adalah seorang penjaga toko prin dan fotocopy. Namun, dia pun mengakui pendapatannya menjadi semakin besar dengan usaha jasa pembuatan skripsi. Lebih lagi, pundi-pundi uangnya bisa semakin bertambah banyak ketika permintaan yang datang adalah pengerjaan tesis. Untuk tesis, Agus membadrol harga 2,5 hingga 3 juta rupiah. Bahkan jumlah tesis yang dikerjakan pun lebih banyak dibanding skripsi.

“Ibaratnya rejeki orang tidak ada yang tahu, untuk satu tahun bisa dapat dua puluh tujuh (tesis),” ujar pria yang sudah tiga tahun menjalani bisnis jasa pembuatan skripsi ini.

Sementara ituu Beni mematok biaya 3 juta untuk semua bab termasuk revisi dan bimbingan pendadaran. Dia juga menerapkan sistem Down Payment (DP) dengan pelunasan setelah pendadaran.

Sama seperti Agus, Beni juga menganggap bahwa pekerjaan ini tak lebih hanya sebagai pekerjaan sambilan. Bahkan, dia mengakui bahwa penghasilan dari usaha ini lebih besar dari pekerjaan utamanya sehari-hari yaitu guru di sebuah bimbingan belajar.

Tingginya permintaan tak serta-merta membuat jasa pembuatan skripsi mengekspolitasi pengguna jasa. Beni misalnya, dia selalu mengingatkan untuk memikirkan dulu matang-matang apakah benar-benar ingin memakai jasa ini. menurutnya, skripsi adalah karya seumur hidup. Jadi ada rasa kepuasan dan kebanggaan tersendiri setelah mengerjakannya.

Agus pun mengungkapkan bahwa mahasiswa yang datang biasanya memang yang sudah mentok dengan waktu walapun mereka mampu. Mengingat rata-rata pengguna jasa adalah karyawan dan mahasiswa yang sudah bekerja. “Kalau saya lihat dia (pengguna jasa) sebenarnya mampu mengerjakan, mungkin cuma terpaut waktu,”jelasnya.

Jasa pembuatan skripsi pun menjelma menjadi tempat konsultasi bagi mahasiswa selain dosen. Bagaimanapun, pengerjaan skripsi masih melibatkan mahasiswa.

“Ibaratnya di sini kan saya bukan membantu (dengan) memperingan semuanya, enggak. Di sini kan (saya) juga membantu mengurangi beban dia. Dia tuntutan pekerjaan, saya juga tuntutan pekerjaan, (saya) memberikan ilmu yang dia belum tahu.”

Terlepas dari stigma miring yang melekat pada jasa skripsi. Paling tidak, keberadaanya telah mampu ikut membantu mengerjakan/membimbing skripsi, bila dosen atau tenaga pengajar tidak mampu. Semacam bimbingan alternatif bergaransi skripsi.[]