Hidup dan tinggal di negara dengan keragaman agama, suku, ras, dan bahasa adalah sebuah tantangan sekaligus berkah untuk warga Indonesia termasuk mungkin penulis sendiri. Banyaknya kasus yang dilatar belakangi oleh perbedaan-perbedaan tersebut lumrah terjadi di Indonesia. Isu yang cukup sakral sekaligus rentan menjadi penyebab terjadinya perselisihan antar penduduk di Indonesia adalah permasalahan agama. Diakuinya enam agama yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Kong Hu Chu sebagai agama resmi sadar tidak sadar memunculkan prasangka akan kepercayaan di luar kepercayaan arus utama. Bahkan antar agama arus utama sendiri pun sering terjadi perselisihan. Untuk itulah Young Interfaith Peacemaker Community (YIPC) Indonesia secara serentak mengadakan Student Interfaith Peace Camp di beberapa kota salah satunya di Kopeng, Salatiga pada 7-9 November yang lalu. Mengangkat pelajaran “12 Nilai dasar Perdamaian Versi Mahasiswa”, acara ini diikuti oleh 25 peserta beragama Islam dan Nasrani dari universitas-universitas di Yogyakarta, Surakarta, dan Semarang yang sebelumnya telah melalui tahap seleksi.

YIPC adalah komunitas lintas agama yang didirikan oleh dua mahasiswa Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS), sebuah program Ph.D internasional dalam bidang lintas agama kerjasama antara Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Sunan Kalijaga), dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Komunitas ini berdiri semenjak Young Peacemaker Training di Gedung Pasca Sarjana UGM, Yogyakarta pada 9-12 Juli 2012. Digawangi oleh 25 generasi peacemaker pertama, mereka mulai mengadakan berbagai pertemuan yang membahas kajian kitab suci, dialog, dan penyebaran nilai-nilai perdamaian di kalangan muda Indonesia dengan misi “Building Peace Generation Through Young Peacemakers”.

Nilai Dasar Perdamaian Versi Mahasiswa

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dan dipandu oleh empat fasilitator yaitu Riston Batuara, Saskya Veronica Cleopatra Silalahi, Betriq Kindy Arrazy, dan Ahmad Shalahuddin Mansur ini, dimulai dengan mengenal dan menerima diri sendiri. Setiap peserta diberi secarik kertas untuk menggambarkan diri sendiri, kekurangan, dan kelebihan masing-masing.

“Mari kita memandang diri kita secara adil dan seimbang. Jangan menganggap diri kita lebih tinggi. Namun jangan memandang rendah diri sendiri,” papar Saskya pada sesi “Mengenal dan Menerima Diri Sendiri” dalam slide presentasinya.

Antusias peserta terlihat saat acara memasuki “Pemanasan”. Pada tahap ini peserta dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok diberi waktu sekitar 15 menit untuk saling mengenal teman satu kelompoknya melalui pemaparan gambaran diri sendiri dari tiap-tiap peserta.

“Kepribadian saya ibarat buku dan gunting. Buku adalah hobi saya. Tapi saya jarang sekali menyelesaikan bacaan (ibarat gunting) … Saya berusaha menjadi penengah untuk menyatukan dua kelompok yang sangat kontradiktif untuk mendamaikan suku, ras, dan agama,” ungkap Mokhammad Umarul Qohar (Umar), mahasiswa Perbandingan Agama, IAIN Wali Songo, Semarang saat menjelaskan kepribadiannya.

Meskipun acara berlangsung dari pukul 04.30 sampai 22.00 WIB, hal ini tak menyurutkan semangat peserta untuk mengikuti setiap rangkaian acara. Seperti telah disinggung sebelumnya, pada setiap sesi materi selalu disisipi “pemanasan” sebagai aplikasi dari materi yang disampaikan. Inti dari pemanasan adalah menjalin kekompakan dan kerja sama rekan satu tim. Hal ini dikarenakan setiap kelompok tak jarang harus menentukan strategi yang matang untuk memenangi setiap sesi pemanasan.

Menghalalkan segala cara pun tak jarang diperbolehkan agar menang. Contohnya pada saat sesi rekonstruksi konflik dengan mengumpulkan bola plastik ke dalam kardus. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok melalui undian. Setiap anggota kelompok harus mengumpulkan sebanyak-banyaknya bola plastik dengan segala cara lalu menjaga kardus kelompoknya agar bola tidak dicuri oleh kelompok lain. Pemanasan ini ternyata memakan seorang korban luka-luka akibat terkena cakaran dari peserta lain saat berebutan bola.

Inti pelajaran dari perebutan bola ini sebenarnya bukan menghalalkan segala cara untuk menang melainkan perwujudan akan transformasi konflik dalam kehidupan sosial yang dapat merusak hubungan atau malah membuat kita dewasa.

Menyikapi Perbedaan dan Keberagam(a)an

Berkumpulnya dua agama dalam satu forum yang sama barang tentu bukan hal yang mudah. Prasangka antar umat sudah pasti tidak terhindarkan. Dalam satu agama pun tak jarang terjadi prasangka karena perbedaan penafsiran akan ajarannya apalagi lintas agama. Bertolak dari sinilah setiap peserta diajarkan mengenal agama masing-masing, bagaimana ia menjelaskan keyakinannya, mengenal agama orang lain, dan bagaimana orang lain beribadah.

Mempelajari kitab suci agama lain adalah salah satu sesi dalam kegiatan ini. Setiap pagi sebelum memulai acara, peserta yang terdiri dari peserta beragama Islam dan Nasrani dibagi dalam beberapa kelompok untuk saling mempelajari ajaran toleransi yang ditorehkan dalam kitab suci masing-masing. Baik peserta beragama Islam maupun Nasrani, keduanya saling mengkaji Al Qur’an, Injil, dan Taurat dalam satu forum yang sama yaitu Morning Devotion.

Untuk menyikapi setiap prasangka antara Nasrani dan Islam, dalam sesi Dialog Hati setiap peserta diberi kesempatan untuk menyampaikan uneg-uneg mereka mengenai agama yang dianut oleh peserta lain. Dalam sesi ini, Adrianus Venda dan Swito Silalahi, mahasiswa Nasrani dari Antropologi Budaya dan Teknik Elektro, UGM mempertanyakan tentang konsep pengkafiran umat selain umat Islam. Dari sisi Islam, Athok Shofiudin Ma’arif, mahasiswa Kedokteran Umum, Universitas Sebelas Maret (UNS)  pun mempertanyakan tentang prinsip Trinitas dalam agama Nasrani.

Pada dasarnya tujuan dari Peace Camp ini adalah menularkan perdamaian dan menghasilkan agen-agen perdamaian dari kalangan mahasiswa.

Peace camp kali ini menjadi tonggak baru terbentuknya komunitas YIPC baru terutama di Solo dan Semarang (sebagai anggota baru YIPC),” tutur koordinator YIPC wilayah Jogjakarta, Solo, Semarang (Joglosemar), Riston Batuara, pada kesempatan terpisah.

Tiada pertemuan tanpa perpisahan, begitu juga dengan Peace Camp ini. Dengan berbagi pesan dan kesan selama mengikuti acara serta mengucapkan janji akan perdamaian selepas kembali ke regional masing-masing, Peace Camp pun berakhir.

“Bertemu dan berbagi cerita (dalam) menemukan Tuhan dengan orang di luar iman kita ternyata mengajari aku agar berpikiran lebih terbuka bukan statis seperti ideologi yang aku dapatkan di pesantren selama enam tahun,” ujar Abdullah Kohar, mahasiswa jurusan Ilmu Falaq (Astronomi Islam), IAIN Wali Songo saat ditanya mengenai kesannya mengikuti Peace Camp. (Any)