Konon, laki-laki yang salat Jumat gantengnya bertambah sekian persen. Sebab itulah, aku selalu mengunjungi Masjid Nurul Huda UNS di hari tersebut. Setiap kali jam menunjuk pukul setengah dua belas siang, aku bergegas ke kamar mandi Grha UKM. Kebetulan di sana ada keran yang bisa dipakai berwudu. Kalau tidak, aku juga bisa saja berwudu di keran dekat parkiran. Tapi Jumat lalu (12/6) aku langsung ke masjid tanpa sempat berwudu dahulu. Ya sudah, wudu masjid sekalian.

Mahasiswa-mahasiswa UNS yang rajin ke Masjid Nurul Huda pasti tahu kalau setiap Jumat tempat wudu selalu penuh. Buat wudu saja mesti antri bak pembagian sembako. Itu baru wudu, belum lagi kalau sedang kebelet pipis, harus antri juga. Buat pipis mesti antri, habis itu masih harus antri wudu, jangan-jangan yang dapat saf terdepan datangnya jam 10-an? Rajin betul, masya Allah.

Sebagai mahasiswa tertuduh liberal, bahkan atheis, tentu aku tak serajin itu. Sudah cukup jelas alasanku suka berwudu di Grha UKM lantaran malas mengantri. Maka, saat berwudu di Masjid Nurul Huda, bisa dibayangkan betapa dongkolnya aku. Antrianku cuma tiga baris. Padahal cuma, ternyata lama! Dua orang di depanku wudunya lama, ora cak-cek. Sampai giliranku, aku berwudu sesempurnanya dan cuma butuh waktu setengah, atau sepertiga kali pewudu sebelumku. Ojo-ojo aku sing salah?

Seingatku, ustaz mengajarkan: wudu itu yang penting sejak tangan sampai kaki terbasuh sempurna. Tentu sesuai tata cara yang diajarkan junjungan kita Muhammad SAW. Seingatku pula, tidak ada aturan rigid terkait lama-tidaknya mengambil wudu. Tidak ada keharusan kalau wudu mesti setara pembacaan empat puluh ayat misalnya. Lantas, buat apa wudu berlama-lama? Terlalu suci bisa mengawetkan kejombloan lho! Bayangkan ada perempuan yang menolakmu dengan: “maaf, kamu terlalu suci buat aku.” Sedih.

Ada dua hal yang menurutku cukup jadi alasan mengapa wudu tak usah lama-lama. Pertama antri, terkhusus menjelang salat Jumat. Tentu tidak lucu kalau terpaksa masbuk gara-gara wudunya mesti mengantri bukan? Jadi, setiap kita pun menanggung kesempatan berpahalanya orang lain. Kedua, semakin lama wudumu, semakin banyak air yang kau buang sia-sia. Padahal, air bekas wudu itu tidak kotor-kotor amat, itu pun dialirkan ke selokan-selokan, tidak langsung meresap tanah.

Kita paham, betul-betul paham, bahwa di daerah lain masih banyak orang-orang yang kesulitan mengakses air bersih. Barangkali mereka yang hobi berwudu lama-lama itu lupa atau malah tidak tahu bahwa mereka membuang sia-sia sesuatu yang bagi orang di lain sangat berharga. Bahkan, bukan hanya bagi orang lain, air sangat berharga bagi kehidupan di bumi ini. Jadi, jangan sampai niat beribadah justru berakhir penzaliman bumi. Naudzubillah.

 Wisuda juga Jangan Lama-Lama

Sebagaimana wudu, bagi mahasiswa wisuda hendaknya juga jangan lama-lama. Wisuda cepat-cepat itu baik. Pertama, peluang kerja lebih besar, mengingat batas usia perekrutan lazimnya 25 tahun. Mereka yang wisuda cepat, atau pada umur 22 tahun katakanlah, punya waktu 3 tahun untuk mencari pekerjaan. Peluangnya lebih besar ketimbang yang lulusnya pada usia 23-24 tahun. Semakin cepat mendapat pekerjaan, maka semakin siap nikah dan bagian ini yang enak!

Kedua, setiap tahun UNS menerima sekira 5000 mahasiswa baru, dedek-dedek gemes gitu. Kalau mahasiswa-mahasiswa lama belum juga wisuda, dapat dibayangkan betapa penuh-sesaknya kampus ini. Tempat parkir bakal penuh, sementara pengaturan parkir di beberapa fakultas masih amburadul. Apabila ada mahasiswa yang hendak berurusan dengan dosen, harus menunggu sekian waktu lantaran dosen terkait masih diajak konsultasi mahasiswa tua. Yo selak kuliah to, Mas, Mbak.

Ketiga, percayalah, semakin lambat skripsi dikerjakan, semakin aras-arasen. Skripsi, sebagai syarat wisuda, yang mestinya bisa dikerjakan beberapa bulan malah jadi menahun. Sekali menunda pekerjaan, malah bakal keteteran di belakang. Aku pun sudah membuktikannya! Maka, benar bila sudah selesai dengan satu pekerjaan, segera lakukan pekerjaan lain. Kalimat ini aku kutip dari kitab suci, mahasiswa yang gemar mengaji pasti bisa menebak surat dan ayat apa. Nah, itu lho!

Sayangnya, baik wudu atau wisuda, durasi lama malah dianggap wajar, dijadikan narasi besar. Terutama setelah bulan lalu aktivis mahasiswa se-Indonesia berdiskusi dengan Presiden Joko Widodo ihwal lama kuliah S1 di Indonesia. Sambil melahap santapan kepresidenan, aktivis mahasiwa menuntut supaya batasan kuliah maksimal lima tahun dihapuskan. Itu namanya kontraproduktif! Mestinya mahasiswa distimulasi biar lulus cepat, bukannya dimaklumi. Ya jadi keblinger!

Belajar itu tidak harus di bangku kuliah. Jadi menyegerakan wisuda ialah sebaik-baik pembelajar. Malah kalau boleh jujur, aku pribadi merasa belajarku bukanlah dari bangku kuliah. Misalnya saat mata kuliah Sosiologi Hukum, ketika dosennya ngelantur ini-itu, aku malah baca kumpulan cerita pendek Albert Camus, Orang-orang Terbungkam. Begitu pula dengan mata kuliah lain, hampir-hampir aku jarang mendengarkan pidato dosen, malah asyik baca buku sendiri di kelas. Aku tetap mengatakan itu belajar! Jadi, mari kita segera lulus, dan segera menikah. Eh.

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Mahasiswa Sosiologi UNS, jamaah Masjid Nurul Huda (kalau hari Jumat saja).