Universitas yang memiliki misi menjadi World Class University harus mampu mendorong mahasiswa untuk bersaing dalam ranah global. (Prof Harjanto Prabowo, Rektor Binus University)

World Class University sudah selayaknya menjadi label yang tak hanya sekadar isu di lingkungan kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Sudah selayaknya pula kampus ini berusaha berbenah untuk menjadi “kampus dunia” dengan sebenarnya, baik dari segi internal maupun eksternal. Tak hanya beban bagi mahasiswa dan seluruh civitas akademika, namun pembenahan itu juga meliputi sistem dan jaminan mutu serta apresiasi.

Masih hangat diperbincangkan, bahwa beberapa pekan lalu salah seorang mahasiswa UNS, Indira Nurul Qomariah, dinobatkan menjadi duta lingkungan hidup dalam ajang bergengsi tingkat internasional oleh US Embassy (Kedutaan Besar Amerika) di Kamboja dan Amerika Serikat. Indira merupakan satu-satunya perwakilan UNS yang lolos dalam ajang internasional yang terangkum dalam program Youth South East Asia Leadership Inisiative (YSEALI) dan merupakan salah satu dari delapan orang yang terpilih mewakili Indonesia untuk menjalani training duta lingkungan negara asal selama satu minggu di Kamboja. Program tersebut bertujuan untuk melatih kepemimpinan serta kepedulian terhadap lingkungan bagi para generasi muda se-Asia Tenggara.

Prestasi yang diperoleh Indira memang pantas untuk dibanggakan dan diapresiasi oleh pihak kampus. Namun, Indira mengaku bahwa dirinya justru tidak mendapatkan dukungan moril maupun materiil apapun dari pihak UNS. Bahkan, mahasiswa Biologi tersebut seperti diabaikan oleh birokrasi kampus, baik dari ketua jurusan, pihak fakultas maupun pihak kemahasiswaan. Sejak awal, Indira mengurus segala persiapan dan keperluan mengikuti program YSEALI tersebut secara pribadi. Bahkan, ketika bernegosiasi dengan pihak birokrasi kampus, mereka hanya menanggapi dengan jawaban yang singkat dan terlihat menyepelekan prestasi mahasiswa yang turut membawa nama baik UNS itu.

Peristiwa itu sedikit mengundang lirikan saya mengenai UNS yang konon mengatasnamakan dirinya sebagai World Class University. Secara universal, World Class University diistilahkan dengan universitas yang mendunia, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, konteks mendunia ada pada peran utama perguruan tinggi dalam memberikan kualitas metode pembelajaran yang mampu disejajarkan dengan metode pembelajaran berskala internasional. Selain itu, dalam lingkup eksternal, kampus harus menciptakan iklim persaingan global bagi para mahasiswanya.

Rektor Binus University Prof Harjanto Prabowo, menegaskan bahwa universitas yang memiliki misi menjadi World Class University harus mampu mendorong mahasiswa untuk bersaing dalam ranah global. Binus merupakan universitas yang meraih akreditasi internasional dari Europe Foundation for Management Development, 20 Januari 2015 lalu. Apabila dikaitkan dengan peran mahasiswa dalam mengisi kompetisi ranah global, sudah tembuslah UNS menjadi World Class University berkat kontribusi yang dilakukan oleh Indira. Namun, sekali lagi, sudah adakah kontribusi birokrasi kampus terhadap pencapaian internasional yang dilakukan oleh mahasiswanya?

UNS, yang sedang menapaki jalan dalam menggapai realitas World Class University, seharusnya mampu memberikan dorongan kepada mahasiswa yang ikut andil dalam “meningkatkan derajat” dalam kancah internasional, baik dari segi motivasi maupun finansial. Negosiasi yang dilakukan Indira dan pihak birokrasi kampus terlihat seperti tidak memberikan pengaruh yang berarti. Pihak birokrasi yang sudah lama bersentuhan dengan berbagai program bergengsi mahasiswa nyatanya belum mampu merespon dengan baik. Padahal, apresiasi dari pihak kampus sangat berpengaruh terhadap kualitasnya dalam menjalani pelatihan lanjutan di tingkat internasional.

Pelayanan maksimal dalam rangka progresivitas prestasi dan keahlian mahasiswa, apalagi di tingkat internasional sudah sepatutnya menjadi kewajiban kampus sebagai lembaga pengembangan ilmu pengetahuan dan potensi mahasiswa. Bak “sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui”, keberhasilan mahasiswa di tingkat internasional mampu menaikkan “singgasana” UNS dalam skala internasional pula. Bahkan secara psikologis mampu memberikan ekspektasi dan kekuatan motivasi kepada adik-adik tingkat untuk lebih maju dalam hal pengembangan keahlian.

Banyak hal yang perlu diperhatikan untuk menampakkan kenyataan sebuah universitas kelas dunia. Sudah menjadi kewajiban untuk memberikan kontribusi dan apresiasi lebih, baik moril maupun materiil kepada mahasiswa yang berprestasi di bidang apapun agar label World Class University itu bukan menjadi label “siluman” belaka. Lebih dari itu perilaku dan ciri kampus level dunia sesuai standardisasi dan etika internal kepada mahasiswa yang sudah disepakati bersama harus mampu ditunjukkan. (Citra)