Oleh: Iffah Nailul

UNS ACTIVE! Slogan yang dikoarkan kepada mahasiswa Universitas Sebelas Maret rupanya mampu menyedot perhatian. Wajah-wajah antusias dapat ditangkap saat mahasiswa mencermati kepanjangan yang tersurat di dalamnya. A-C-T-I-V-E: Achievement orientation, customer satisfaction, teamwork, integrity, visionary, dan entrepreneurship.

Menarik saat menyoroti alfabet terakhir dari slogan tersebut. “E” yang mewakili “Entrepreneurship” atau berwawasan kemandirian. Akan menjadi lebih tenar saat kita hubungkan dengan kata “Wirausaha”. Saat ini, wirausaha menjadi pilihan yang menggiurkan. Berbagai kalangan berbondong-bondong menggeluti bidang tersebut. Tak pandang usia, jenis kelamin, status, maupun profesi. Maka tidaklah mengherankan bila mahasiswa pun meramaikan jagat profesi tersebut.

Bagi mahasiswa, kegiatan wirausaha dapat dikembangkan melalui hobi atau sekedar ikut-ikutan. Hal lain yang dapat memantik semangat kewirausahaan mahasiswa ialah mencari dana usaha untuk sebuah pagelaran. Tak peduli apapun motif di balik wirausaha tersebut, semua mahasiswa dapat berwirausaha, asalkan ada kemauan serta modal.

Terdapat rasa kepuasan tersendiri dalam menekuni profesi tersebut. Mahasiswa masih merasa diuntungkan walau hasil yang didapat belum menutupi modal, “Toh, namanya juga mahasiswa. Masih belajar.”

WIRAUSAHA VS MAHASISWA

Baliho besar berisikan slogan “UNS Active” yang terdapat di sisi jalan tiap fakultas dinilai mendapat respon positif. Mahasiswa antusias untuk menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Fokus pada entrepreneurship, mahasiswa mencoba menggali pundi-pundi rupiah dengan menyentuh ranah wirausaha. Nampak beberapa mahasiswa menitipkan barang dagangannya di Koperasi Mahasiswa (Kopma), membuka kantin kejujuran di depan ruang kuliah, menjajakan dagangan, bisnis online, serta berbagai cara lainnya.

Hal yang pertama kali dilirik oleh mahasiswa yang ingin berwirausaha adalah sisi finansial. Menambah uang jajan, bahkan dapat meringankan beban orang tua jadi alasan utama. Jika dipikirkan lebih dalam, kegiatan wirausaha dapat diartikan sebagai “kuliah tambahan”. Dari segi mental, mahasiswa yang berwirausaha telah melatih dirinya bangkit lebih cepat atas berbagai kegagalan yang pernah dialami. Sehingga, mereka cenderung tangguh serta mudah menyelesaikan masalah. Mereka juga lebih bijak dalam menggunakan uang, memanajemen dengan cerdas prioritas kebutuhan, modal, serta tabungan. Dari segi sosial, mahasiswa yang berwirausaha dapat menambah relasi, banyak teman banyak rezeki. Mereka pun cenderung kreatif, ide selalu muncul dalam benak. Selalu berusaha membuat inovasi demi kepuasan konsumen.

MENYAMBUT MEA

Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) akan segera berlaku akhir tahun 2015 ini. Apa yang akan terjadi? Tentu jawaban sederhananya, akan terbentuk sebuah pasar yang membuka pintu selebar-lebarnya kepada negara-negara tergabung (ASEAN) untuk saling menjual barang dan jasa. Ini artinya, akan terjadi persaingan yang sengit antara negara ASEAN. Bagaimana kabar Indonesia dalam upaya menghadapinya?

Mahasiswa tentu telah mengetahui apa yang akan terjadi dalam kehidupannya mendatang. Tak ayal, kecemasan dalam menghadapi MEA pun akan dirasakan oleh mahasiswa. Persaingan sengit antarpemuda se-Asia Tenggara dalam menggeluti profesi, salah satunya. Sejalan dengan hal tersebut, UNS Surakarta ikut andil membangun mental mahasiswa dalam menyambut MEA dengan memberlakukan slogan Active. Poin entrepreneurship yang berkaitan erat dengan  kegiatan ekonomi, memiliki makna tersirat bahwa mahasiswa diharapkan mampu membuka peluang usahanya sendiri. Seperti yang telah dijabarkan di atas, berwirausaha dapat menjadi sarana belajar mahasiswa agar mempunyai mental kompetitif serta tangguh. Mahasiswa akan senantiasa meng-upgrade dirinya agar tak kalah saing serta menjadi Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul.

MEMILIH BERWIRAUSAHA

Wirausaha kini menjadi salah satu dari berbagai pilihan profesi yang menggiurkan. Beberapa orang yang melihat celah usaha menjanjikan tersebut, senantiasa menjadikannya topik hangat dalam perbincangan. Terlebih, berbicara masalah omzet laba. Maka tak heran, beberapa orang yang telah memiliki pekerjaan tetap mempunyai pekerjaan sampingan sebagai wirausahawan. Berdalih gaji yang tidak dapat menutupi kebutuhan. Ada yang mengaku tidak suka menjadi bawahan, lebih memilih jadi bos, juragan, dan istilah lain penyebutan atasan. Terdapat sebuah kepuasan tersendiri saat kita bisa menggaji orang lain, bukan orang lain yang menggaji kita.

Bagi kita, selaku mahasiswa yang memiliki kebiasaan kuliah-UKM-pulang, mungkin pernah berpikir untuk mengikuti jejak wirausahawan muda tersebut. Namun bagaimana memulainya? Setiap individu mempunyai caranya masing-masing, lakukan dengan diawali niat serta konsistensi tanpa takut terjatuh.

Menanamkan jiwa kewirausahaan pada generasi muda saat ini dianggap perlu. Hal ini disebabkan perlunya peran pemuda yang mejadi kunci untuk membuka solusi atas tantangan Indonesia, yakni masalah pengangguran. Indonesia yang menduduki peringkat keempat dengan jumlah penduduk terbanyak, usia produktif yang berkisar di bawah 30 tahun mendominasi tanah air. Saatnya, mahasiswa menjadi penggerak kualitas Sumber Daya Manusia.

Kepada para mahasiswa

Yang merindukan kejayaan,

Siap berwirausaha?