Oleh: Muhammad Satya

Pengalaman dua tahun di BEM UNS menjadikan Wildan Wahyu Nugroho paham betul seluk beluk organisasi itu. Event kaderisasi terbesar, Sekolah Penerus Bangsa (SPB), sukses dipimpinnya awal semester ini. Kini, ia masih menjabat sebagai staf Pengembangan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM) BEM UNS.

“Maaf ya, saya belum makan dari pagi soalnya,” kata Wildan sambil mengeluarkan bungkusan siomay dan es cincau. Sabtu (31/10) sore, lpmkentingan.com berkesempatan bertemu dan melakukan wawancara dengan mahasiswa Jurusan Agribisnis ini.

Sembari menikmati santapan, calon Wakil Presiden BEM UNS 2016 dari Partai Kebangkitan Mahasiswa Kita (Kemaki) ini menjawab pertanyaan dengan lugas. Berikut petikan wawancaranya.

Bagaimana awalanya sampai Anda bisa terpilih sebagai cawapres Partai Kemaki?

Saya hampir tiga bulan masuk Partai Kemaki. Lalu ada musyawarah seperti biasa untuk menentukan capres dan cawapres. Setelah mempertimbangkan angkatan, fakultas, dan lain sebagainya, akhirnya terpilihlah Mas Doni sebagai capres. Untuk cawapresnya juga begitu. Pertimbangan memilih angkatan 2013 untuk cawapres, agar terjadi regenerasi yang baik. Ya, akhirnya terpilihlah saya.

Kira-kira apa keunggulan Anda dan Doni dibanding calon nomor urut satu?

Saya udah dua tahun di BEM UNS. Udah tahu dinamika BEM UNS. Kalau Mas Doni, lebih ke relasi antar BEM fakultas.

Bagaimana kinerja BEM UNS satu tahun ini?

BEM tahun ini lebih dinamis, walaupun tidak semua pihak sepakat dan sepaham dengan kita. Lalu kebijakan-kebijakannya lebih terukur.

Seperti apa contoh-contoh kebijakan yang terukur itu?

Dari SPB (Sekolah Penerus Bangsa) sendiri, bahkan dari awal udah punya konsep yang jelas. Lalu SEF (Sebelas Maret Education Fair) dan FSB (Festival Seni Budaya). Kita punya pertimbangan kenapa harus begini, kenapa harus begitu.

Untuk eksternal, lebih bergerak berdasarkan kajian. Tidak hanya dari BEM UNS saja tapi juga BEM-BEM universitas lain, karena kita juga tergabung ke BEM SI (Seluruh Indonesia). Jadi nggak asal demo.

Apa permasalahan yang harus segera diselesaikan oleh BEM UNS?

Menurut saya, kita harus perlu bergerak dari bawah. Misalkan, apakah SEF dan FSB benar-benar dibutuhkan oleh mahasiswa. Jadi bukan menurut kita apa yang mereka butuhkan, tapi kita menjaring aspirasi, apa yang mereka butuhkan. Kadang-kadang kita udah capek-capek kerja tapi ternyata mahasiswa belum merasakan dampaknya.

Memangnya, apa yang kini tengah dibutuhkan oleh mahasiswa?

Menurut saya di bidang advokasi yang terpadu dan merata. Lalu kita pilih event-event internal yang memang dibutuhkan mahasiswa. Yang ketiga, apresiasi. Banyak mahasiswa yang punya prestasi, tapi minim diapresiasi.

Bagaimana relasi dengan BEM Fakultas?

Tahun ini memang ada BEM fakultas yang sedang ada masalah internal. Seperti FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) yang tahun lalu nggak ada Pemilu. Lalu FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) yang telat Pemilunya. Memang dinamika tahun ini tidak stabil. Tapi kalau pandangan eksternal tentang politik, kita tidak bisa memaksakan. Mereka punya kajiannya masing-masing.

Bagaimana pendapat Anda tentang sosok Doni Wahyu Prabowo?

Dia orang yang mengerti internal UNS. Apalagi di misi kami, kami menawarkan untuk menyinergikan kampus-kampus wilayah. Mas Doni tahu bagaimana mengadvokasi kampus-kampus wilayah, karena dia dari FKIP yang kampus wilayahnya paling banyak.

Selain itu, Mas Doni orang yang udah mateng banget. Dia orang yang berpengalaman dan berprestasi. Pernah menang LKTI nasional, IP (Indeks Prestasi) nya juga bagus. Terakhir cumlaude. 3,7 kalau nggak salah.

Apakah ada persiapan khusus untuk debat Senin (2/11)?

Kalau persiapan khusus belum ada. Mungkin ini ya. Setiap hari kan kita kampanye. Lebih menyinergikan antara saya dengan Mas Doni saja.