Oleh: Satya Adhi

“RADAR” mahasiswa menangkap sinyal perjamuan gratis di perpustakaan Universitas Sebelas Maret (UNS), Rabu (30/3). Berkat insting gratisan yang terasah, acara yang seyogyanya minim publikasi ini, diserbu ratusan mahasiswa. Bukan! Bukan buku-buku gratis. Tapi mereka dijamu dengan batagor, bakso, nasi liwet, pecel, lontong opor, lotis, wedang ronde, es dawet, dan aneka jajanan pasar. Semuanya gratis.

Tapi tunggu dulu. “Kalau mahasiswa jam setengah satu, Mas,” kata Agus kepada salah seorang mahasiswa. Agus, seorang penjaja es dawet, terpaksa menolak seorang mahasiswa yang memesan dawetnya lebih awal. Para pedagang yang dipesan memang diberitahu untuk tidak melayani mahasiswa sebelum pukul 12.30 WIB. Sementara pengunjung sudah memadati area perpustakaan sebelum pukul 12.00 WIB.

Rupanya para mahasiswa yang datang sudah kelaparan. Baru pukul 12.00 WIB, seluruh pedagang sudah dipadati antrean mahasiswa. Beberapa menit kemudian, perjamuan terpaksa dimulai lebih awal. Diiringi lagu Sayang dan ABG Tua yang mengalun via solo organ dari dalam gedung, para mahasiswa sibuk berteriak memesan makanan dan minuman. Yang sudah dapat, duduk lesehan di depan gedung delapan lantai. Yang belum dapat, rela berpanas-panasan hingga peluh memenuhi wajah untuk sekadar mengisi perut.

Namun Agus masih konsisten. Pria asal Banjarnegara ini masih kukuh untuk tidak melayani perjamuan sebelum pukul 12.30 WIB. Hingga akhirnya sekitar pukul 12.15 WIB, seorang panitia memberikan aba-aba kepadanya. Sontak dua tangan Agus sibuk meladeni mahasiswa yang kehausan. Beberapa seperti kesetanan.

“Pak, saya satu!”

“Pak, saya belum dapat!”

“Pak, saya dua sama teman saya, ya!”

Hingga pukul 12.30 WIB, 150 gelas es dawet yang dipesan panitia, ludes dibagikan.

Tak jauh berbeda dengan Agus, pedagang batagor asal Semarang, Reno, mendapat rezeki nomplok hari itu. Sejumlah 85 piring batagor sudah dipesan panitia. Ia tak usah susah payah menjajakan dagangannya. “Satu piring harganya 6000 rupiah,” kata Reno pada saya. Bisa dihitung sendiri berapa penghasilannya hari itu.

Deklarasi Budaya Literasi

Perjamuan gratis tadi adalah salah satu agenda pembukaan gedung baru perpustakaan UNS. Sebenarnya Deklarasi Budaya Literasi menjadi menu utama siang itu. Ini selaras dengan tekad UPT Perpustakaan UNS yang disampaikan Ketua UPT Perpustakaan, M. Rohmadi, “menjadikan perpustakaan sebagai jantungnya perguruan tinggi. Sehingga kalau kita tidak membaca dan menulis, akan malu pada diri sendiri.” Gedung delapan lantai yang baru juga dilengkapi kedai yang menyediakan teh dan kopi gratis bagi pengunjung. Diharapkan, nantinya angka kunjungan ke perpustakaan bisa meningkat.

Hal senada diungkapkan Wakil Rektor I, Sutarno. Ia berharap membaca dan menulis bisa membudaya di kalangan sivitas akademika UNS. “Sebenarnya ini [deklarasi budaya literasi] sudah pernah. Tapi masih belum membudaya,” ujarnya, merujuk pada deklarasi Yes, I am! A True Scholar yang mirip-mirip dengan Deklarasi Budaya Literasi. “Kalau kita tidak mau melakukan percepatan, ya nanti akan begini-begini saja,” tambahnya.

M. Rohmadi, Sutarno, para pegawai perpustakaan, serta pengunjung yang hadir, lalu membubuhkan tanda tangan di atas spanduk raksasa yang ditempel pada salah satu dinding. Tanda tangan yang membuat mereka bertekad untuk terus membaca dan menulis. Juga bertekad terus mengunjungi perpustakaan UNS. Bukan hanya saat mereka dijamu oleh Agus, Reno, dan pedagang lainnya, secara… gratis.[]

Foto: Rofi’ah Nurlita