Rawa Pening yang terletak di Kabupaten Semarang memiliki 3 isu utama yang menjadi permasalahan yang tidak kunjung terselesaikan. Masalah tersebut adalah gulma air enceng gondok, sedimentasi dan sampah. Enceng gondok yang merupakan gulma air menutui sebagian besar wilayah Rawa Pening dan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan, perikanan, pariwisata dan ekonomi secara umum. Tumbuhan yang sudah tergolong gulma infasive ini merupakan tumbuhan introduksi yang berasal dari Amerika Selatan. Enceng gondok masuk ke Asia Tenggara, melalui Indonesia pada tahun 1894, di Kebun Raya Bogor, Jawa Barat.

Upaya penelitian maupun penanganan telah banyak dilakukan baik oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat namun belum sepenuhnya memulihkan kondisi Rawa Pening. Perlu integrasi dan keberlanjutan dalam penanganan enceng gondok.

UNS sebagai salah satu kampus di propinsi Jawa Tengah memiliki kepedulian terhadap masyarakat dalam bentuk kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat. Sebagai kontribusinya dalam penanganan enceng gondok di Rawa Pening, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat yang diketuai oleh Mercy Bientri Yunindanova, S.P., M.Si. dari program studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian UNS yang beranggotakan Prof. Dr. Ir. Supriyono, M.S dan Bayu Setya Hertanto, S.Pt., M.Sc. melakukan kegiatan dengan tajuk Pemberdayaan Masyarakat dan Pengentasan Masalah Biomass Enceng Gondok di Rawa Pening melalui Pembuatan Kompos dan Pakan Ternak. Kegiatan ini dimulai sejak bulan Mei dan telah dilaksanakan selama 6 bulan.

Kegiatan ini berusaha mengintergrasikan unsur akademisi, masyakat, pemerintah serta berusaha menggabungkan unsur lingkungan dan ekonomi. Hal ini dikarenakan kepedulian terhadap lingkungan tidak dapat sepenuhnya terlaksana jika masyarakat tidak mendapatkan keuntungan dari sisi eknomi. Untuk itu kegiatan ini mendampingi masyarakat hingga dihasilkan produk yang layak jual menggunaan bahan baku lokal yang tidak termanfaatkan serta berkontribusi besar pada upaya penyelamatan Rawa Pening.

Masyarakat Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang dengan didampingi tim pengabdian masyarakat dari Fakultas Pertanian UNS telah berhasil membuat produk pupuk organik enceng gondok “Surya Alam” dan silase pakan komplit enceng gondok “Good Feed”. Kegiatan launching dihadiri pula oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang, bapak Ir. Wigati Sunu, MBA. Disaksikan pula oleh sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Semarang  bapak Wiwoho, ST., MSi.

Tim Pengabdian UNS dengan dukungan dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan tinggi juga memberikan bantuan berupa rumah kompos dan silase kepada masyarakat Desa Kadirejo, untuk mendukung keperlanjutan proses produksi pupuk organik dan silase pakan komplit. Serah terima bantuan dilakuka secara resmi dan dilakukan penandatanganan berita acara serah terima rumah kompos dan silase dengan disaksikan oleh Kepala Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan Kabupaten Semarang, bapak Ir. Wigati Sunu, MBA. Disaksikan pula oleh sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Semarang  bapak Wiwoho, ST., MSi. sebagai wakil dari Kepala Dinas.

Pemilihan lokasi Desa Kadirejo dalam pembuatan program dan produk berbasis enceng gondok didasari pada antusiasme warga masyarakat untuk pengolahan gulma enceng gondok agar menjadi produk yang dapat dipasarkan.

Produk pupuk organik enceng gondok “Surya Alam” telah disertai hasil analisis kandungan hara yang meliputi C organik, N total, P, K, pH dan kadar C/N rasio yang dilaksanakan di Laboratorium Kesuburan Tanah UNS. Hal ini telah menunjukkan bahwa produk kompos ini telah matang dan siap aplikasi ke lapangan dan memenuhi standar produk kompos. Selain itu produk ini juga telah diuji coba di demplot warga dan penelitian di Fakultas Pertanian UNS.  Produk ini akan mendukung penyelamana lingkungan dan peningkatan ekonomi warga masyarakat.

Produk silase pakan komplit enceng gondok “Good Feed” yang juga ditambah dengan dedak berusaha mengintegrasikan sumber daya lokal untuk peningkatan mutu pakan dan pengurangan biaya produksi ternak. Produk ini juga telah dilakukan analisis proksimat untuk mengetahui kualitas gizi produk.

Harapannya kegiatan ini menjadi iniasiasi bisnis berbahan dasar enceng gondok yang aplikatif, mudah, rendah modal, namun prospektif karena berkontribusi terhadap lingkungan dan mendukung kerakan Go Organik. Mengingat permintaan pupuk organik sangat tinggi dan biomassa enceng gondok sangat banyak, sehingga potensial dikembangkan menjadi unit bisnis.

Pihak pemerintah daerah khususnya dinas pertanian, perikanan dan pangan dan dinas lingkungan hidup berharap program ini dapat ditingkatkan skala usahanya dan dapat berkelanjutan. [#]