Oleh: Puput Saputro

KEBUMEN memiliki jajaran pantai wisata yang menarik untuk dikunjungi, sebut saja Pantai Bocor, Suwuk, Karang Bolong, Menganti, hingga Pantai Ayah. Melalui kemandirian masyarakat dalam mengembangkan wisata desanya, pantai Menganti bertransformasi dari pantai nelayan menjadi pantai wisata nan populer di telinga pecinta wisata. Kepopuleran Pantai Menganti berbanding lurus dengan kemajuannya dari segi akses dan fasilitas. Perkembangan daerah wisata umumnya dapat menggerus kearifan masyarakat, tapi tidak demikian dengan yang terjadi di Pantai Menganti. Perkembangan tersebut selaras dengan keramahan dan kearifan kehidupan masyarakat nelayan yang tetap terjaga.

Ada dua jalur dari Kebumen kota menuju Pantai Menganti, yaitu jalur selatan dan jalur kedua, dengan rute Kebumen – Jatijajar – Pantai Ayah – Pantai Logending – Pantai Menganti. Jalur pertama jarang dipilih karena kondisinya yang kurang baik dan sulit ditempuh. Jika menggunakan jasa transportasi umum, dari arah Yogyakarta, berarti Anda akan menempuh jalur kedua. Pertama, Anda dapat menggunakan kereta api dari Yogyakarta, turun di Stasiun Kutoarjo, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan bus tujuan Purwokerto, turun di Jatijajar, tepatnya di daerah Ijo. Selanjutnya, moda transportasi beralih ke penggunaan bus kecil yang oleh warga sekitar disebut engkel, ke Pantai Ayah. Dari Pantai Ayah, Anda dapat memilih antara menggunakan jasa transportasi angkot atau ojek menuju pantai Menganti.

Ada yang unik dengan angkot Ayah–Menganti. Jika beruntung, Anda akan mengendarai angkot yang beroperasi layaknya taksi. Ya, angkot unik ini beroperasi dengan sistem carter, artinya siap mengantar jemput penumpang dari dan sampai di rumahnya. Dengan menggunakan angkot ini, Anda akan dibawa menyelami perkampungan nelayan yang terletak di daerah perbukitan, dengan jalanan sempit, naik-turun, berkelak-kelok, dan tak jarang membuat deg-degan. Di samping itu, Anda akan menjumpai kehidupan masyarakat nelayan yang asri. Anak-anak melambaikan tangan ke arah angkot yang masih jarang melintas, dan baru melepaskan pandangannya ketika angkot itu sudah benar-benar hilang.

Ada setengah jam lebih, Kentingan dibawa oleh angkot unik itu berkeliling menikmati keasrian kampung nelayan Menganti. Akhirnya, kami tiba di Desa Karang Dhuwur. Dari desa yang terletak di atas bukit ini, Pantai Menganti yang jaraknya kurang lebih masih tiga kilometer itu, terlihat seperti sebuah gambar indah desktop komputer. Sebuah bangunan putih di atas bukit terlihat menjulang. Hamparan pasir putih dipadu riak ombak yang menyentuh karang mulai menyita pandangan. Angkot yang kami naiki terus meluncur turun, kemudian sebatang pohon rimbun yang dikerumuni perahu nelayan, menyembul di pandangan.

Rasa lelah menempuh perjalanan panjang pun seketika hilang. Untuk mengganti tenaga dan mengisi perut yang kosong, ada banyak warung makan yang berjajar. Menu yang ditawarkan pun beraneka ragam. Mulai dari mie instan hingga sea food yang harganya bisa sampai ratusan ribu, siap menggoyang lidah pengunjung yang kelaparan.

Sisi Romantisme Menganti

Selesai santap siang, sempatkan diri Anda untuk menyusuri jalanan menuju perbukitan di sisi timur Menganti. Lagi-lagi, Anda akan menempuh perjalanan yang relatif sulit karena jalanannya yang menanjak dan becek jika hujan. Saat sampai di atas bukit, hamparan laut lepas menyapa. Sebuah mercusuar yang tingginya tidak ampai 10 meter juga sudah ada di depan mata. Tak puas memandangi lautan, Anda dapat menyusuri jalan setapak yang akan menuntun Anda ke Karang Bata. Sebuah lereng bukit dengan ujung karang yang menjorok ke barat. Ya, Karang Bata menjadi tempat paling sempurna bagi Anda –pemburu sunset.

Menganti

Tak hanya sunset, jika beruntung, di pagi hari Anda juga dapat menikmati keindahan sunrise dari tempat Anda berdiri. Hal inilah yang membuat Perbukitan Karang Bata menjadi tempat favorit mendirikan tenda di area Menganti. Di malam hari ketika cuaca baik, Anda dapat menikmati syahdunya malam dengan taburan bintang dan cahaya bulan yang barang kali sedang purnama. Tak hanya itu, mercusuar yang menyala untuk perahu-perahu nelayan yang berkelap-kelip di lautan juga akan menambah suasana romantis malam Anda di Menganti.

 

Kehidupan Malam Menganti

Puas berinteraksi dengan alam–di malam itu juga–Anda dapat turun ke pantai nelayan dan menyaksikan kehidupan Pantai Menganti di waktu malam. Pantai yang sempat mati suri ketika magrib, seketika hidup lagi saat perahu-perahu nelayan mulai menepi satu per satu. Gerombolan orang yang dikenal dengan sebutan taguk datang menyambut nelayan, membantu menepikan perahu dan menurunkan ikan. Gambaran kerukunan terlihat dalam adegan yang tidak akan ditemukan di kota besar tersebut. Tak ada kesenjangan yang terlihat antara taguk dan nelayan, semua larut dalam hitungan aba-aba menepikan perahu. Malam itu, Kentingan juga bertemu dengan Mahmud, seorang anak kelas dua MTs yang setiap hari menunggu ayahnya yang menjadi seorang taguk.

Setelah perahu menepi, setiap tangkapan yang didapat nelayan dibawa langsung ke pelelangan. Saat itu juga, di pelelangan sudah berkumpul pemborong yang siap mengikuti lelang. Sebagai pengunjung, Anda pun dapat menyaksikannya. Namun, sebaiknya Anda tidak terlalu mendekat dalam transaksi ini karena menurut pengakuan Niman, Ketua Rukun Nelayan Menganti, saat pelelangan inilah ada kalanya aktivitas pengunjung pantai terkadang membuat nelayan dan peserta lelang terganggu, “Kan, tempatnya sempit, sudah ada banyak orang, jadi ya kalau ada pengunjung, kadang ya jadi mengganggu,” tuturnya kepada Kentingan.

Puas menyaksikan pelelangan, Anda dapat kembali ke tenda untuk memulihkan tenaga untuk menikmati Menganti di keesokan hari. Di perjalanan, Anda akan menjumpai pengunjung lain yang bermalam di warung makan yang telah tutup. Ya, jika Anda tak sempat membawa tenda, penjual-penjual makanan di pinggiran Pantai Menganti akan dengan ramahnya menawarkan beranda warung makannya untuk tempat bermalam pengunjung.

Menganti 2

Sensasi pantai pribadi ala Menganti

Setelah menikmati dua sisi Pantai Menganti –perbukitannya yang indah dan pantai nelayan yang tak kalah menarik– saat hari berganti, saatnya Anda menjelajah ke ujung Menganti yang lain. Di sisi barat yang menjulang ke selatan, terdapat dua buah air terjun yang hanya ada ketika musim hujan. Air terjun yang oleh masyarakat dinamai Air Terjun Kayangan tersebut, dapat dituju dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih satu kilometer. Air terjun yang memiliki volume air tidak begitu besar dan juga tidak terlalu tinggi itu menempel pada dinding tebing hijau yang berdiri kokoh menantang laut. Di hadapan tebing, terdapat hamparan pasir putih yang tak begitu luas. Letaknya yang jauh dari pantai nelayan, membuat pantai ini masih alami dan sepi. Menikmati pantai tersembunyi ini, akan membuat Anda merasakan sensasi berlibur di pantai pribadi ala Menganti.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan untuk menutup pengalaman Anda di Pantai Menganti. Salah satunya dengan menyantap sea food hasil tangkapan nelayan semalam. Ikan bawal yang menjadi primadona dari segala jenis ikan tangkapan, juga dapat Anda nikmati di sini. Dengan harga ratusan ribu untuk seporsi bawal putih bakar dan Rp 20.000,00 untuk seporsi bawal hitam, ditemani mendoan hangat khas Kebumen dan es kelapa muda, Anda dapat menikmati detik-detik terakhir di Pantai Menganti dengan sempurna. Namun, jika ternyata Anda belum puas menikmati Pantai Menganti pada kunjungan pertama, ada baiknya Anda datang kembali pada bulan Januari, bulan saat sunset Menganti sedang cantik-cantiknya. []