Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

Judul : Puya ke Puya
Pengarang : Faisal Oddang
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun : 2015
Tebal : xii + 218 hlm., 13,5 x 20 cm

Faisal Oddang hadir bak anak emas dalam kancah sastra Indonesia. Tahun 2014 tiba-tiba ia menyabet dua predikat sekaligus. Faisal meraih penghargaan cerpen terbaik Kompas di tahun tersebut dan menjadi salah satu pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun yang sama. Meski hanya posisi keempat, di belakang Mahfud Ikhwan, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie (ah, namanya ruwet sekali), dan Bagus Dwi Hananto, toh kualitas karya Faisal tetap tak bisa disepelekan.

Dewan juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2014 memuji keberanian Faisal untuk menginteraksikan alam nyata dan alam arwah. “Ada keragaman perspektif orang hidup dan mati, dengan sudut pandang berubah-ubah… Secara umum, bahasa novel ini cukup baik. Cerita mengalir cukup lancar, keluar masuk di antara lapis-lapus alam nyata, alam arwah dan alam akhirat,” demikian ungkap dewan juri dalam endorsement yang mereka sematkan di novel Puya ke Puya.

Puya ke Puya adalah novel yang diajukan Faisal untuk Sayembara Menulis Novel DKJ 2014, dan kini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Puya ke Puya mengambil latar kebudayaan Toraja. Faisal mengambil rambu solo, upacara adat Toraja untuk mengantarkan arwah ke puya, sebagai peristiwa sentral dalam novel itu. Dari sini, pembaca boleh mencurigai Puya ke Puya sebagai peluasan cerpen Faisal yang dimuat dan dinobatkan terbaik oleh Kompas, Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon.

Kecenderungan pengarang untuk berangkat dari latar kebudayaannya sendiri bisa dimaklumi. Bahkan bagi Faisal justru menguntungkan, karena latar kebudayaan Toraja belum banyak diangkat dalam karya sastra, lain dengan latar Jawa yang berhamburan sekian lama. Albert Camus pun lazim menulis kisah dengan latar Aljazair dan Perancis. Latar sebetulnya bukan sekadar ruang, tapi juga situasi. Camus lagi misalnya, memakai wabah sampar sebagai respresentasi situasi absurd yang pernah ia alami.

Puya ke Puya menjadikan banyak idiom Toraja bertebaran. Faisal tak segan-segan memakai sebutan khas Toraja tanpa merasa perlu menjelaskan panjang-lebar artinya. Dalam novel itu, Rante Ralla disebut juga Ambe yang berarti ayah, namun Faisal tidak menyertakan keterangan. Tampak bahwa Faisal mengandaikan pembaca Puya ke Puya telah lebih dulu menelan cerpen Di Tubuh Tarra dalam Rahim Pohon, sehingga para pembaca sudah dianggap memahami istilah-istilah Toraja (ambe, indo, tarra, passiliran, rambu solo, aluk, dan lain-lain).

Idiom-idiom modern yang muncul di novel tersebut, “kapitalisme” salah satunya, justru terasa mengganggu, oleh karena pembaca telanjur diakrabkan dengan idiom lokal. Lebih dari idiom, perilaku seksual khas manusia modern juga Faisal munculkan sebagai “gangguan” terhadap tradisi Toraja, sebut saja seks bebas dan homoseksual. Berbeda dengan idiom asing, perilaku seksual “asing” tersebut justru tidak mengganggu cerita, malah ikut mengonstruksi. Pembenturan tradisi asing dengan kebudayaan Toraja jelas menunjukkan kecenderungan Faisal memuliakan tradisi setempat.

Tendensi memuliakan Toraja kentara lantaran yang ditampilkan darinya sekadar yang baik-baik. Sebetulnya di awal cerita Faisal coba menampilkan upacara rambu solo seolah membebani keluarga duka secara ekonomis, namun di tengah cerita, upaya itu seakan menguap. Beban persiapan upacara rambu solo kalah berat ketimbang persiapan pernikahan Allu dengan pujaannya, Malena. “Hanya saja aku tak cukup bodoh untuk tidak menyadari bahwa bukan pemakamanku yang utama, yang penting adalah biaya pernikahannya dengan Maria (hlm. 105),” keluh Rante Ralla, ayah Allu, di alam arwah.

Tendensi memuliakan Toraja semakin kentara jika pembaca perhatikan ekspresi amarah dan kebencian orang-orang di desa Allu. Faisal begitu lihai memilih idiom khas Toraja yang pada gilirannya ditampilkan dalam novel, namun belum cukup memakai ekspresi kebencian khas Toraja. Untuk memaki-maki saja, Allu dan warga desa harus lari dulu ke Jawa, mencari pisuhan-pisuhan di sana, semisal asu, lonte, dan lain sebagainya. Apakah tradisi Toraja terlalu suci sehingga tak memiliki ekspresi amarah dan kebencian yang khasnya sendiri?