> Ruang Sastra > Puisi (halaman 2)

Puisi

Puisi-Puisi M. Lutfi dan Dimas Ridho W.S

Di Mana Kau? Oleh : Muhammad Lutfi   Dimana kau ketenangan, Yang selalu hadir dalam gairah perjuangan Membakar emosi yang tak kunjung padam   Dimana kau keajaiban, Yang ada di saat detik-detik pengibaran Dari panji-panji kemerdekaan   Dimana kau air dan kesejukan, Yang membasuh jiwa dengan lembut Memadamkan setiap api …

Baca Selengkapnya »

Angkringan Surealis

Kami sedang sedikit rehat Pada secangkir kopi hitam pekat Yang ditenggak, habis penat Dalam cepatnya waktu terlewat   Kami jelata kecil yang terhimpit Genggam elan walau sedikit Buang asa hanya ke langit-langit Agar esok kami tak lagi sempit   Kami sedang menimang nasib malang Pada sebatang rokok ampang Yang dihisap, …

Baca Selengkapnya »

Mendengar Kipas Angin

Puisi-Puisi Eko Setyawan Mendengar Kipas Angin Aku tak pernah mengerti mengapa kipas angin itu terus berputar. Saling berkejaran dengan dirinya sendiri. Dan menimbulkan deru yang amat bising seperti ketika ibu memarahiku.   Kipas angin ialah ibu yang pernah melahirkanku. Mengejarku ketika aku tak mau mandi. Berlarian ketika aku sesenggukkan. Dan …

Baca Selengkapnya »

Pada Matanya

Puisi-puisi Eko Setyawan     Seorang Perempuan Dengan Air Mata Berjatuhan di Pangkuan   Rumah telah mendekapnya Pintu mempersilakan masuk dan kursi menyuruhnya duduk Kamar paham, ialah yang paling tau tentang air mata itu (2017)     Ini Hanya Seekor Janji   Ini hanya seekor janji yang lahir dari kepala …

Baca Selengkapnya »

Jitapsara

Puisi-puisi Rizka Nur Laily Muallifa   Jitapsara   /I/ payung-payung dibentangkan sebab kenangan menggantung di dahan awan   /II/ pontang-panting menimang duka cuka mengerjap membersamai luka   /III/ masih hendak kau buru napakawaca? sementara ialah kresna telah kau lesap bayangnya ia lesat ialah baladewa     Yang Dihilangkan Namanya   …

Baca Selengkapnya »

Kataku Bukan Senjata

  Kataku bukan senjata Dia hanya serdawa diantara aungan serigala Tak kira tak sangka alih perhatiannya Amarah pada mata dan taring siap memangsa Sekejap tak berlogika Membuatku terluka dan nyaris dipenjara     Kataku bukan senjata Dia tak memanas merobek dada Namun jika itu nyatanya Tentu bukan jua maksud meluka …

Baca Selengkapnya »

Persekongkolan Puisi

Puisi-puisi Rizka Nur Laily Muallifa Persekongkolan Puisi : diskusi kecil pengakhiran di dua tahun lalu menjadi mula persekongkolan puisi menariki kaus kaki demi menjalari telapak kaki sampai ubun-ubun sebelah kiri dengan tumbuhan kata-kata yang rindang yang bercabang banyak sekali di setiap cabangnya menjuntai kuncup-kuncup damai yang segera mekar bila seorang anak …

Baca Selengkapnya »