> Ruang Sastra (halaman 9)

Ruang Sastra

Terus Mencarimu

Betapa hidup ini indah tuk dilalui Jika ku berhasil menggapai mimpi Mimpi yang selalu aku nanti Meski penuh dengan relikui   Hingga suatu hari nanti Dimana aku lelah mencari Kuingatkan diriku sendiri Mencarimu tuk jalan hidup ini Mungkin telah ada interferensi   Interferensi pada celah kalbu Kurang sepadan sepadu Hingga …

Baca Selengkapnya »

Meneropong Langit-Langit

Mereka hidup berdua di desa tepi pantai. Malam tak pernah sepi oleh debur ombak yang jelas terdengar. Seolah menerjang rumah-rumah disekitar bibir pantai. Menggulung-gulungkan sayap basahnya, menarik kembali, roh yang tengah berkelana menuai mimpi. Berusaha menjangkau bangunan hitam di kegelapan. Anyaman ilalang kering yang menjadi atap hunian ini hampir lapuk …

Baca Selengkapnya »

Bukan Pengkhianat

Rintik hujan masih berjatuhan dengan lembutnya. Mendarat di permukaan semua benda yang beratapkan langit angkasa. Dan angin yang menghembuskan kelembaban ke dalam tubuh menembus daging menohok  tulang. Sang mentari pun kini sedang bersembunyi memurungkan diri, sembunyikan cahaya dengan rapi di balik awan kelabu  sore ini. Dalam kesunyian ku tetap langkahkan …

Baca Selengkapnya »

Dia yang Mengerti

Semua hanya dalam angan Dalam dimensi kehampaan Tak secercahpun harapan Karena sakit tak terperikan   Kucoba tuk slalu tenang Meski kematian slalu membayang Waktu pun tak mungkin kuhentikan Ku kan berdiri kukuh dan berjuang   Tak seorang pun mengerti Tak seorang pun mengetahui Tak seorang pun memahami Sekalipun tuk mereka …

Baca Selengkapnya »

Untuk Sahabatku

Lebih dari sekedar teman Meski sering menyakitkan Kau lakukan tuk kebaikan   Bukan pembuktian instan Proses yang kan tunjukan Berdasar keikhlasan   Untukmu Sahabatku Kau pewarna hidupku Kan terpatri di kalbuku   Kaulah jarum kehidupan Meski menusuk dan menyakitkan Kau lakukan tuk kebaikan   (Suryani)

Baca Selengkapnya »

Hujan

Telah banyak orang memperbincangkanmu Tak jarang diantara mereka Yang mengistimewakanmu Kau dapat membuat mereka Tenggelam dalam kenangan lalu Kehadiranmu terkadang dinanti Tapi di waktu lain Mereka tak menginginkanmu Dia pernah berkata “kau selalu romantis jika datang…” Aku pun berujar “kau membuatku tiba-tiba dingin” Jika yang satu memujamu, dan menganggapmu sebagai …

Baca Selengkapnya »

Terbang

Oleh: Faifar Nur Perlahan… Jari-jari tanganku tak lagi mengapit tubuhku Perlahan… Satu demi satu jari-jari kakiku tak merasakan lembutnya tanah Perlahan… Aku mulai merasakan betapa ringan raga ini Lenganku mulai terbuka Tangankupun mulai berayun Satu kepak, dua kepak..layaknya sepasang sayap kuayunkan kedua tanganku Hingga tak ku sangka ragaku kini benar-benar menjauh …

Baca Selengkapnya »