> Ruang Sastra > Cerpen

Cerpen

Si Gila

“MUNDUR KALIAN, jangan berani-berani mendekat”   Dia mengacungkan moncong pisaunya dan mengarahkan ke segala penjuru  dengan membabi buta. Tangannya yang basah menggenggam pisau dengan erat, dahinya mulai berkeringat, dan kakinya bergemetar. Mirip sekali dengan penjahat yang kulihat di film kemarin. Mungkin bedanya ini, dia tidak berjaket kulit hitam dan tidak …

Baca Selengkapnya »

Orang-orang yang Berbaring di Utara Desa

“MEREKA benar-benar hidup!” kata Jatmika ketika mengampiri kami yang sedang jaga malam. Ia datang dengan terengah-engah. Tubuhnya seketika lemas dan tak berdaya. Terlalu banyak mengeluarkan keringat. Mukanya linglung. Seperti usai menjumpai sesuatu yang menakutkan.   “Kau kenapa?” tanyaku. Aku terkaget dengan kedatangannya. Begitu juga tiga orang tetangga yang ikut meronda. …

Baca Selengkapnya »

Musim Panas di Melbourne

    Oleh: Adhy Nugroho     KETIKA SENDIRI, kadang aku membayangkan dunia di luar petak kecil ini. Sambil menatap langit-langit, aku membayangkan bahwa kita semua sebenarnya ada di bawah langit yang sama. Jogja. Aku membayangkan ada seorang pekerja yang baru saja menuntaskan harinya. Ia memutuskan untuk singgah di warung …

Baca Selengkapnya »

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat aku melihat beruang berwarna abu-abu di suatu kebun binatang. Tanah tempat kami berpijak lembab setelah diguyur hujan. Tapi langit kembali cerah. Ini tidak terlihat seperti Melbourne, selain biru langitnya, juga aku melihat terlalu banyak flora …

Baca Selengkapnya »

Musim Dingin di Melbourne

SUDAH SEPEKAN Marine Band kunci C ini aku mainkan; Dan aku masih belum bisa juga mendapatkan F dari lubang nomor dua ataupun A dari lubang ketiga. Sarah bilang aku bukan pemain harmonika yang baik. Lidahku bukan lidah pemain harmonika, namun lidah peminum alkohol. Katanya, aku adalah lelaki yang tidak memiliki …

Baca Selengkapnya »

Perempuan Ladang

IRAMA hutan bergema  hingga ke aliran tapak sungai tak jauh dari ladang. Hembusan  angin menggeliati roma sekujur tubuh. Segar terasa berfantasi dalam pelupuk mata. Fauna-fauna  kecil berseliweran seolah bergulat dengan singgasana rumputnya. Nuansa itulah yang membuat Mak bertahan di sana.   “Mak, yakin tak balik ke rumah lagi?” tanya pria …

Baca Selengkapnya »

Benda-benda Kesepian

JEMARIKU terus menggesek layar gawai, mengesampingkan hiruk pikuk stasiun yang tengah menemui jam padat. Tak heran Didi Kempot perlu mendendangkan lagu ‘Stasiun Balapan’. Lewat stasiun ini, Kota Solo telah menjadi kenangan di mana orang jadi mudah menengok dan meninggalkannya.   Kuhempaskan punggungku ke pangkuan kursi tunggu, sembari membenahi rambut dan …

Baca Selengkapnya »