> Ruang Sastra

Ruang Sastra

Pade Patah Dirantai Ilusi

Tuan Pade  merujuk disamping asap peti kapal cantrang Talinya saling bertaruh melingkar pada nadi gelanggang kapal Dihadapan kolong langit yang saling tawar berpergian Sayatan angin pun kian menggempur pandangan Ditengoklah kemudian patahan air yang berselisih ngilu itu Mengombak bergulung pada seperempat siang Menderu di periuk jangkar yang diketam Jantungnya dirajah …

Baca Selengkapnya »

Orang-orang yang Berbaring di Utara Desa

“MEREKA benar-benar hidup!” kata Jatmika ketika mengampiri kami yang sedang jaga malam. Ia datang dengan terengah-engah. Tubuhnya seketika lemas dan tak berdaya. Terlalu banyak mengeluarkan keringat. Mukanya linglung. Seperti usai menjumpai sesuatu yang menakutkan.   “Kau kenapa?” tanyaku. Aku terkaget dengan kedatangannya. Begitu juga tiga orang tetangga yang ikut meronda. …

Baca Selengkapnya »

Musim Panas di Melbourne

    Oleh: Adhy Nugroho     KETIKA SENDIRI, kadang aku membayangkan dunia di luar petak kecil ini. Sambil menatap langit-langit, aku membayangkan bahwa kita semua sebenarnya ada di bawah langit yang sama. Jogja. Aku membayangkan ada seorang pekerja yang baru saja menuntaskan harinya. Ia memutuskan untuk singgah di warung …

Baca Selengkapnya »

Preambul

Preambul   Gugup berumah harap Menghirup kehampaan lalui jendela keasingan jelma kecipak ikan-ikan kecil nubuat bercik di pinggiran gelas kaca   di cawan setengah kasat mata itu puisi sebatang bunga pongah oleh derap nisbi prasangka yang ia kira sawah rumah bagi padi-padi yang mekar di kehidupan   berbenah atau sekadar …

Baca Selengkapnya »

Hari Ibu

Puisi melumer di sela-sela kesibukan yang kerap  nubuat picik   Di hadapan penggorengan, ibu-ibu sibuk membolak balik ponsel yang tenggelam- timbul di antara deru minyak goreng yang dioplos entah oleh siapa di tahun kehidupan yang mana   : Anakku memberi hadiah lipstik dan eye shadow : Anakku memberi cucu yang …

Baca Selengkapnya »

Musim Semi di Melbourne

Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat aku melihat beruang berwarna abu-abu di suatu kebun binatang. Tanah tempat kami berpijak lembab setelah diguyur hujan. Tapi langit kembali cerah. Ini tidak terlihat seperti Melbourne, selain biru langitnya, juga aku melihat terlalu banyak flora …

Baca Selengkapnya »