> Catatan Kentingan (halaman 2)

Catatan Kentingan

Eksklusivisme Belum Selesai

  /1/   Eksklusif atau “jauh tidak terjangkau” bukan label yang hanya patut disematkan kepada Presiden Republik Indonesia Keempat, Megawati Soekarnoputri. Pasalnya Mbak Mega ketika memerintah memang terkenal “jauh”, bahkan dari para menteri dalam jajaran kabinetnya sendiri. Ke”jauh”an Mbak Mega sebenarnya sudah didahului oleh banyak organisasi di dalam kampus, tak …

Baca Selengkapnya »

Daoed Joesoef dan Wasiat Abadi NKK/BKK

  Anda cuma punya mobil Toyota Kijang. Itulah moda akomodasi keluaran tahun 2000 yang Anda pakai sehari-hari. Pun saat dilarikan ke Rumah Sakit Medistra tanggal 20 Januari 2018, Anda masih saja menunganggi Kijang itu. Menantu Anda sendiri yang bercerita. Anda katanya juga suka ke pasar membeli kaos putih oblong dengan …

Baca Selengkapnya »

Nasehat Bercinta Tanpa Mencipta Zina

  PARA penggiat asmara akan selalu menegaskan jikalau cinta enggak bisa dijelaskan. Ia ibarat tukang parkir burjo yang ngeureuyuh di Jalan Kabut. Tiba-tiba muncul, tiba-tiba hilang dan bikin gelagapan. Memang sih, aku cuma mahasiswa semester tiga yang tak fasih melafalkan kasih. Yang pacaran paling mentok aja tigas bulan. Jadi, sok-sokan …

Baca Selengkapnya »

Menjadi “Petruk” Kekinian

  PETRUK. Ia mungkin sudah jadi istilah asing. Padahal “Petruk” bukan cuma sebuah nama. Ia merupakan tokoh yang sangat erat kaitannya dengan budaya orang Jawa (Tengah), khususnya dalam pagelaran wayang kulit. Walaupun ia memang tak tercantum dalam kitab Mahabarata dari India, kitab yang konon dikenal sebagai salah satu sumber jalan …

Baca Selengkapnya »

Memakamkan Rolling Stone Indonesia

  Kelana duka pembaca majalah musik Indonesia.   Saat itu malam tahun baru tinggal hitungan jam. Kuhabiskan 2017 bersama empat sampai lima kawan. Bermalam di indekos, kami ngobrol ngalor ngidul menyoal makna tahun baru. Di sela obrolan, kutilik lini masa instagram, melihat agenda tahun baru para warganet yang ramai beresolusi …

Baca Selengkapnya »

Mahasiswa-mahasiswi Fakir Apresiasi

  Oleh: Fatih Abdulbari   “Politisasi mahasiswa. Mau kemana?”   Bukan aku yang mengajukan pertanyaan ini, tapi seorang akademisi dan penulis yang menanyakannya. Namanya Kuntowijoyo. Selepas ini, mari panggil beliau Pak Kunto saja. Menurutnya, politisasi mahasiswa terjadi karena krisis identitas. Laiknya remaja SMA, mahasiswa pencari identitas tengah mengalami kebingungan antara …

Baca Selengkapnya »

Masuk Itu Enak

  Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto   Aktivisme mahasiswa kerap terintip lewat sastra. Kita menjumpainya dalam novel serius, novel pop masa lalu, dan (sayangnya) juga novel picisan. Kita pantas mengingat Leila S. Chudori, yang sering memunculkan aktivisme mahasiswa di novelnya, terutama Pulang (2012) dan Laut Bercerita (2017). Di Pulang, aktivisme …

Baca Selengkapnya »