Film berjudul The Years Of Blur diputar dalam acara Pemutaran dan Diskusi Film pada Minggu (22/3). Agenda acara yang seharusnya pukul 13.00 mundur hampir sekitar setengah jam dikarenakan banyak peserta yang datang terlambat. Dalam acara yang bertempat di Aula Gedung A FKIP UNS, tampil sebagai pembicara Edy J Sutopo seorang wartawan Timlo.net dan Bambang Muryanto dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta.

“Pemutaran dan diskusi film kali ini adalah bagian dari Pekan Pendidikan sekaligus memperingati Dies Natalis Universitas Sebelas Maret,” tegas Wildan, pimpinan umum LPM Motivasi FKIP UNS dalam sambutannya.

Film yang berdurasi sekitar 30 menit tersebut menceritakan tentang terbunuhnya seorang wartawan bernama Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin yang merupakan jurnalis di Harian Bernas Yogyakarta.Udin meninggal pada tanggal 16 Agustus 1966 karena dipukul oleh orang yang tidak dikenal di rumah kontrakannya, Desa Patahan, Kecamatan Jetis, Bantul, Yogyakarta. Film ini dibuat oleh LBH Pers Yogyakarta bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta dan PECOJON Indonesia setelah 18 tahun tidak ada kejelasan. Udin diduga dibunuh karena berita yang ia tulis banyak mengritisi kinerja Bupati Bantul saat itu, Sri Roso Sudarmo.

Polisi sempat menangkap Dwi Sumaji alias Iwik sebagai tersangka pembunuhan dengan dakwaan perselingkuhan. Iwik merupakan korban pemaksaan untuk mengaku sebagai pelaku pembunuhan Udin. Akhirnya setelah 58 hari Iwik mendapat penangguhan kemudian ia bebas. Tetapi setelah itu, tidak ada keterangan jelas mengenai kelanjutan kasus tersebut. Kijang Putih, tim yang sengaja dibentuk oleh AJI Yogyakarta untuk melacak kasus Udin pun telah menyerahkan bukti-bukti tetapi tidak ada hasil atau laporan mengenai kinerja polisi dalam menangani kasus tersebut. KetuaAliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, Eko Maryadi mengungkapkan hal yang senada. Ia menuturkan bahwasanya Aliansi Junalis Independen (AJI) menyoroti ketidakseriusan polisi dalam menuntaskan kasus Udin.

Pada diskusi setelah pemutaran film, Bambang Muryanto mengatakan bahwa film ini mempunyai banyak kekurangan. Selain karena terlambatnya pembuatan juga dikarenakan tidak banyaknya saksi yang dapat ditampilkan dalam film. “Pihak AJI Yogyakarta sudah mengusahakan penuntutan penyelesaian kasus Udin dengan berdemo di depan kantor Polda Yogyakarta setiap tanggal 16 Agustus, bahkan telah menagih janji kepada Kapolda Yogyakarta yang sejak kasus pembunuhan Udin sampai sekarang sudah berganti sebanyak 16 kali,” tambahnya. Selain itu, juga telah beberapa kali bertemu dan mengajukan surat kepada Komnas HAM, Dewan Pertimbangan Presiden, hingga Menteri KOMINFO, tetapi belum ada hasilnya.

Sedangkan Edy J Sutopo lebih menyoroti perihal kekerasan kepada wartawan selama rezim Orde Baru. Ia mengajak para mahasiswa untuk menjadi aktivis pers mahasiswa agar tidak takut mengungkapkan kebenaran. “Tidak perlu khawatir karena kasus pembunuhan Udin dan berbagai kekerasan yang menimpa wartawan”.

Sampai film ini selesai diproduksi, pihak yang diduga terkait dengan kasus tersebut yaitu mantan Bupati Bantul, Sri Roso Sudarmo tidak bersedia diwawancarai perihal terbunuhnya Udin. Maka benar, jika dalam akhir film itu ditulis: Kasus Udin seperti hilang ditelan angin. Tidak ada kejelasan. Blur.

(Nafi dan Ifa)