> Resensi > The Alchemist, Memahami Pertanda dalam Meraih Mimpi

The Alchemist, Memahami Pertanda dalam Meraih Mimpi

Judul Buku : The Alchemist
Pengarang : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun : 2012 (cetakan ke-13)
Tebal : 216 halaman

“Rahasia kebahagiaan adalah dengan menikmati segala hal menakjubkan di dunia ini, tanpa melupakan tetes-tetes air di sendokmu”. Itulah satu dari sekian banyak pesan yang terdapat pada novel ini. Sebelumnya dalam suatu bagian cerita, dikisahkan tokoh utama (Santiago) diberi kesempatan oleh seorang raja untuk berkeliling melihat-lihat istana raja itu dengan membawa sendok berisi tetes-tetes air. Pertama, ia berkeliling ke setiap sudut istana dengan sangat hati-hati, menjaga agar air yang ada di sendok itu tidak tumpah. Ketika kembali, ia ditanya oleh raja itu,“Apa saja yang Kau lihat?” Ia hanya diam, karena ia hanya melihat sendok berisi tetes-tetes airnya. Raja memberi kesempatan kedua untuknya. Ia berkeliling lagi, kali ini ia memperhatikan setiap detail istana itu. Ketika kembali, ia kembali ditanya oleh raja,“Apa saja yang Kau lihat?” Kali ini ia menjawab. “Tapi mana tetes-tetes airku?”, tanya raja kemudian. Santiago diam.

Di atas hanya sepenggal pesan yang dapat diperoleh dari novel The Alchemist dan masih banyak pesan lain yang terdapat dalam novel ini. Sebuah novel dengan kisah yang sangat sederhana, tentang seorang anak gembala yang mengejar mimpinya. Namun penuh pesan dan sangat inspiratif.

The Alchemist merupakan novel terjemahan karangan Paulo Coelho, seorang penulis dunia yang telah berhasil memikat dan memberikan inspirasi kepada jutaan orang di dunia melalui tulisannya. The Alchemist, novel dengan setting waktu tempo dulu dengan latar Spanyol hingga padang pasir Mesir. Segala sesuatu yang ada di cerita novel ini digambarkan secara mendetail dan lugas, sehingga mudah dipahami dan merangsang pembacanya untuk membayangkan apa yang ada di cerita itu di dalam pikirannya. Penggambaran-penggambaran seperti tempat (desa-desa di Spanyol) dan padang pasir digambarkan secara apik, lengkap dengan latar kebudayaannya. Selain itu, dengan alur yang maju-mundur telah mempertegas pesan-pesan yang disampaikan. Akan tetapi, karena merupakan novel terjemahan, jadi bahasa yang dipakai dalam novel ini dapat dibilang cukup sukar dan terkesan kaku.

Ada yang unik dalam novel ini, berkaitan dengan gaya bercerita yang berbeda dengan gaya bercerita pada umumnya. Penyebutan nama tokoh utama (Santiago) yang hanya disebutkan sekali saja yaitu pada awal pengenalannya. Selebihnya dari awal sampai akhir cerita, pengarang menggunakan kata ganti seperti “dia” dan “anak laki-laki itu”, sehingga ketika muncul tokoh lain dalam cerita yang juga disamarkan melalui kata ganti “dia” pembaca harus benar-benar jeli, siapa yang digambarkan sebagai “dia” dalam cerita itu, Santiago atau tokoh lain.

Cerita yang sederhana membuat novel ini dapat dibaca oleh semua kalangan. Selain itu, banyaknya pesan yang terkandung dan teknik bercerita yang menarik, membuat novel ini menjadi  sangat pantas jika dimasukan ke dalam daftar buku yang wajib dibaca, khususnya bagi mereka yang haus inspirasi dalam meraih mimpinya. (Puput)

Baca Juga

Menjadi Manusia Seperti Akutagawa

  Oleh: Stephanie Agatha     Judul Buku: Rashomon Penulis: Akutagawa Ryunosuke Penerbit: akubaca Alih …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

For security, use of Google's reCAPTCHA service is required which is subject to the Google Privacy Policy and Terms of Use.

If you agree to these terms, please click here.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.