Artis                : Kelompok Penerbang Roket

                                                          Tanggal rilis  : May 23, 2015

                                                          Album             : Teriakan Bocah

                                                          Genre              : Rock

                                                          Label               : Double Deer Music

 

Berseragam berlagak jagoan mau jadi apa

 Seperti tentara kau menyerang dan akhirnya celaka

Mati muda!!

Impian dan harapan orang tua musnah begitu saja

Nyawa-nyawa penerus bangsa tidak ada harganya

mati muda, mati muda!!!”

Potongan lirik di atas adalah kutipan lirik lagu Mati Muda yang terdapat di album Teriakan Bocah dari trio asal Jakarta, Kelompok Penerbang Roket (KPR). Ini adalah album pertama dari band yang mengusung musik rock dengan esensi era 70an: galak, beringas,  rusuh, berbahaya dan penuh energi. Semua lagu dari Teriakan Bocah memiliki sound yang terkesan jadul dengan diksi-diksi yang berisi, bukan asal teriak dengan makian-makian kasar yang sok nakal.

Begitu dua atau tiga lagu diputar, deretan nama macam Duo Kribo, Panbers, atau God Bless akan muncul di dalam benak. Benar saja, nama-nama tersebut merupakan pengisi jagad musik rock Indonesia tahun 70an -dengan mengesampingkan Koes Plus atau Dara Puspita- yang menjadi acuan kental referensi bermusik KPR. Walau begitu, album yang berisikan tujuh lagu ini masih tetap diselaraskan dengan zaman sekarang. Boleh dibilang, KPR adalah band masa kini yang di saat bersamaan juga seperti band dekade 70an.

Mati Muda mengangkat tema tawuran untuk sebagian anak muda yang tidak banyak pikir dalam bertindak. Pesannya pun jelas bahwa tindakan bodoh sepeti ini akan membawa petaka, mati muda! John Paul Patton alias Coki pada vokal dan bass berteriak penuh emosi diiringi distorsi gitar Rey Marshall. Lagu ini bergerak cepat oleh ketukan padat Viki Vikranta pada drum. Sangat sexy dan sangat mudah untuk membius orang untuk bergoyang.

Pada nomor berikutnya, Beringin Tua menghadirkan cerita fiksi perjalanan seseorang yang akhirnya semakin kosong masuk ke dalam hitam. “Berdiri di bawah beringin tua, terdengar bisikan dari lubang, lubangnya hitam di tengah batang, hitamnya menarikku ke dalam…”. Ini adalah penggalan lirik Beringin Tua yang bergerak dengan tempo sedang kemudian sedikit progresif di bagian belakang. Gelombang distorsi selama hampir dua menit terdengar seperti suasana teriakan seseorang yang terseret masuk ke dalam lubang hitam.

Single pertama di album, Anjing Jalanan, merupakan lagu paling kencang di album ini. Distorsi yang cepat dari Rey dibalut bass line yang sederhana dan konstan oleh Coki, begitu padu dengan drum yang menghentak. Liriknya pun cerdas. Bagi sebagian orang yang mungkin “risih” dengan judulnya yang anjing-anjingan, barangkali akan tertipu begitu mendengarkannya dengan seksama. Ini adalah lirik sederhana dengan konsep yang universal. Siapapun bisa menjadi anjing jalanan bila luput dalam berperilaku. Sebuah konsep lirik visioner yang berpotensi tidak akan lekang oleh zaman.

Target Operasi adalah lagu hibah dari rocker senior Anda Perdana (Mata Jiwa) yang tidak merilis lagu ini. Dengan gubahan baru, lagu ini memiliki aransemen yang paling berwarna dari pada yang lain. Dengan lirik khas karya Anda lainnya, kemampuan bermusik para personil keluar dengan rapi dan pas seperlunya. Lagu-lagu lain seperti Tanda Tanya, Di mana Merdeka, dan Cekipe juga hadir dengan tema-tema lagu yang tidak membosankan.

Seperti pada banyak band rock lainnya, KPR memiliki ketertarikan yang sama pada lagu classic rock. Sound yang dibuat pun memang terdengar lebih segar dengan aransemen yang tidak membosankan. Namun, pilihan sound yang tua sepintas seperti tidak ada pilihan efek yang lain. Banyak distorsi yang sebenarnya lebih mirip kepada milik Motorhead atau bahkan Led Zeppelin yang seperti terdengar itu-itu saja.

Namun, bukan berarti band ini memiliki kemampuan yang rendah dalam bereksperinmen. Mendengar pilihan musik yang dibawakan dan lirik yang disuguhkan, band yang masih tergolong baru ini patut diapresiasi. Memilih jalur tempo dulu bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi genre rock. Selain skema musik rock yang tergolong berat untuk berkarir, minat pada jenis musik ini pun masih terbilang terbatas—hanya pemerhati golongan musik independen. Pada akhirnya kelompok ini pun tetap menjadi penerbang roket yang akan mengarungi belantika musik indonesia atau bahkan mancanegara. (Inang)