MAHASISWA di masa lampau, setidaknya sampai tahun 1980-an, punya tradisi khas dalam menyambut mahasiswa dan (terutama) mahasiswi baru. Tradisi yang aku maksud bukan perngelocoan, eh perpeloncoan lho ya. Konon, perpeloncoan di masa kini sudah pantang disebut tradisi, dan justru harus segera dipunahkan. Tradisi yang aku maksud juga bukan keren-kerenan bikin formasi kemudian dipotret dari atas, tahun segitu belum ada kamera yang bisa terbang (aku lali, kamera sing iso mabur kuwi jenenge opo sih?).

 

 

Tradisi mahasiswa sebelum tahun 1980-an juga bukan main raket dan cock.3gp, meski mahasiswa di zaman tersebut masih segar ingatannya ihwal kejayaan bulutangkis Indonesia. Zaman segitu, kita masih mengelu-elukan Rudy, juara All-England delapan kali itu lho. Sekarang Rudy malah dicibir melulu oleh para aktivis mahasiswa di salah satu universitas pewaris Orde Baru di Kota Festival.

 

 

Jika sempat membaca novel Dono berjudul Cemara-Cemara Kampus (1988) kita bisa tahu bagaimana para mahasiswa semester atas memperlakukan dedek-dedek gemes. Umumnya, dedek-dedek gemes masih kesulitan menyesuaikan diri dengan model belajar kampus, mentalitas anak SMA-nya seringkali masih terbawa. Persoalan itu tidak cukup diselesaikan lewat “orientasi”, apalagi orientasinya justru diarahkan ke senjata-senjata militer, berfoto ria, selebrasi, dan rekor MURI.

 

 

Mahasiswa zaman dulu, yang masih di bawah rezim Orde Baru itu, lebih rasional ketimbang mahasiswa norak kekinian. Dulu, mahasiswa baru ya langsung diajak belajar bareng, “tentir” istilahnya. Belajarnya tentu terkait dengan teori, metode, dan berbagai hal yang dipelajari pada bidang ilmu masing-masing. Sekarang sih, kalau bikin tentir, yang kita pelajari paling terkait kiat sukses jadi pengusaha, jadi penerus (kebobrokan) bangsa, jadi agen (bukan distributor, apalagi produsen) perubahan, jadi calon suami/istri yang siap nikah muda, atau bagaimana cara menjadi titisan Mario Teguh. Wah, itu sih bukan tentir, tapi kentir!

 

 

Sekalipun bermisi akademis dan berupaya memberi kontribusi positif pada iklim intelektual kampus (eh, kok bahasaku jadi aktivistis begini?), tentir juga punya celah-celah yang mungkin dimanfaatkan untuk mbribik adik tingkat. Misal, tentir yang dibikin Kodi dan Anton dalam novel Cemara-Cemara Kampus (1988: 9), “mereka mempunyai pengalaman mendirikan proyek tentir bagi mahasiswa baru setiap ganti tahun ajaran. Di samping belajar, tak jarang memakan korban, yaitu mahasiswi putri, yang sekadar dipacari sebentar.”

 

 

Terkhusus Anton, ia memang terkenal sebagai “raja tentir” di kampusnya Kodi. Dono, si penulis novel, memberi deskripsi tentang Anton, “lelaki muda sahabat si Kodi ini mengambil Program Studi Hubungan Internasional. Orangnya simpatik dalam setiap penampilan. Pinter sih tak begitu amat. Tapi, sebagai aktivis mahasiswa yang akrab dengan hura-hura, tak pelak lagu banyak mahasiswa yang mengenalnya (1988: 10).” Wah, jebul karisma aktivis mahasiswa manjur sejak dulu ya? Tahu begitu, aku dulu jadi aktivis saja, biar gampang cari gebetan!

 

 

Aku kadang masih sering membayangkan mungkinkah tentir diadakan di zaman ini, di kampus yang kian hari semakin bergincu Islami. Rasa-rasanya kok mustahil ada pendampingan mahasiswa sejak semester pertama, kecuali lewat program Ka*mi masuk kampus alias AAI (Adik-Adik Islami, eh betul tidak kepanjangannya itu?). Artinya, misi utama kampus bukan lagi mencetak intelektual, melainkan aktivis bergincu Islami yang tindak-tanduknya mengacu moral, nilai normatif, alih-alih rasionalitas. Ya, baguslah, tidak apa-apa kita bodoh tengik, goblok akut, yang penting masuk surga! Amin, eh, lha nggih… []


Udji KayangUdji Kayang Aditya Supriyanto. Mantan aktivis dakwah, sebelum era Felix Siauw.