Midnight_in_Paris

Sutradara : Woody Allen
Produksi : Gravier Productions Mediapro Televisió de Catalunya (TV3)
Rilis : 11 Mei 2011
Durasi : 94 Menit

“Bayangkanlah kota ini di tahun 20-an, Paris tahun 20-an. Hujan, dengan pelukis dan penulis…”

Lonceng tengah malam berdentum di Paris. Gil Pender, pelancong asal Amerika Serikat yang singgah sementara guna merampungkan novelnya dibikin terheran. Sebuah mobil bergaya klasik berhenti di depannya. Penumpang-penumpang yang tak ia kenal, padahal mereka terkenal, mengajak masuk serta. Gil belum yakin betul mana yang nyata dan yang imajiner. Seingatnya ia habis minum (sampai setengah mabuk) dan tersesat, lalu datang mobil jemputan itu. Mereka berhenti di sebuah kafe, dengan pesta tentunya, yang di sana Cole Porter memainkan musiknya. Lalu, Gil berkenalan dengan seorang wanita bernama Zelda, lalu dikenalkannya ia pada pria bernama F. Scott Fitzgerald. Itu artinya, wanita sebelumnya adalah Zelda Fitzgerald. Dalam perkenalan, Gil mengaku penulis novel. Karuan, Zelda dan Scott lantas mengajaknya berjumpa seorang penulis terkenal yang juga berasal dari Amerika. Ya, Ernest Hemingway. Tak berhenti di sana, malam-malam setelahnya Gil menjumpai Pablo Picasso, Salvadore Dali, T.S. Elliot, Henri Matisse, Henri de Toulouse-Lautrec, dan beberapa nama lain yang melibati Paris dalam sejarah. Singkatnya, demikian Midnight in Paris berkisah.

Penjungkiran Radikal atas Waktu dan Ruang

Sebagaimana dilansir tasteofcinema.com, Midnight in Paris dinobatkan sebagai satu dari dua puluh film postmodern terbaik. Lebih lagi, bahkan film garapan Woody Allen tersebut sampai dijuluki “film postmodern yang paling indah”. Wajar kiranya bila mengingat film postmodern lain, yang rumit, kacau, dan tentu saja membingungkan. Selama ini Woody Allen memang terkenal mahir memainkan twisted plot dan memakai model intelligent story-telling yang cukup ekstrem. Lewat Midnight in Paris, Woody Allen hendak mendekonstruksi tatanan nalar umum ihwal ruang dan waktu. Barangkali ia ingin mengajak pemirsa bernostalgia dengan filsuf besar Jerman, Martin Heidegger, secara manis. Ajakan berjumpa Heidegger juga dilayangkan film Lucy, sayang terlalu futuristik sehingga penonton lebih banyak terbuai ketimbang termenung. Lalu mengapa Heidegger? Jawabnya jelas, sebab ia merupakan pemikir tercanggih yang merumuskan eksistensi manusia dalam waktu. Selayak Einstein, teorinya tidak mudah dipahami. Konon Sein und Zeit, karya utamanya, hanya mampu dipahami secara benar oleh sedikit orang. Jean-Paul Sartre, filsuf besar Prancis yang dipengaruhinya, bahkan tak termasuk. Woody Allen, tak peduli termasuk mereka yang berhasil memahami atau tidak, lantas mengambil titik tolak yang mutlak berbeda.

Di zaman modern ini jamak dimaklumi bahwa seseorang bisa berinteraksi dengan orang lain di tempat yang jauh berbeda dalam satu waktu. Beberapa ruang dalam satu waktu. Gagasan Heidegger menjadi jelas, bila eksistensi adalah keterlibatan (sein) juga kemungkinan (seinkonnen), maka manusia hanya eksis dalam waktu. Manusia bisa saja lari dan sembunyi di tempat-tempat yang sulit ditemukan orang-orang. Tetap saja, ia tak akan mampu melarikan diri dari waktu, sebab waktu adalah diri manusia itu sendiri. Tak ada waktu yang terlepas atau berada di luar manusia. Jelas pula kiranya maksud film Lucy yang futuristik dan rumit itu. Lain dengan si cantik Scarlett Johansson (pemeran Lucy), Owen Wilson (pemeran Gil Pender) justru mengalami keterbalikan nalar umum. Ia melibati satu ruang, yakni Paris, di dua masa berbeda. Bahkan hampir melibati masa Renaissance. Beberapa waktu dalam satu ruang. Barangkali ini alasan Woody Allen memilih Paris. Sebabnya, di setiap garis masa, selalu ada sosok seniman dan sastrawan berpengaruh yang singgah di Paris. Bila Paris jadi istimewa, mestinya bukan lantaran ada Eiffel sebagai peninggalan sejarahnya, yang menjadikannya istimewa adalah sejarah itu sendiri. Lumrah bila Gil, dalam persimpangan yang nyata dan imajiner, menikmati peristiwa aneh itu sebagai nostalgia yang memabukkan. Nostalgia, yang menawarkan penikmatan tanpa menuntut pengejaran. (Udji)