Dies natalis ke-43 UNS diwarnai aksi mahasiswa. Mereka menuntut proses pemilihan rektor yang terbuka.

 

AKSI MAHASISWA UNS yang menuntut diadakannya forum  mahasiswa bersama calon rektor dilakukan pada Senin, 11 Maret 2019 bertepatan dengan perayaan dies natalis UNS ke-43. Aksi tersebut adalah aksi gabungan antar BEM UNS dan BEM Fakultas se-UNS. Fakultas Ilmu Budaya (FIB) menjadi titik kumpul aksi menuntut janji calon rektor yang sebelumnya bersedia untuk mengadakan forum bersama mahasiswa. Peserta aksi mulai memasuki area luar Auditorium UNS pada pukul 10.00 WIB. Aksi tersebut terbilang nekat dan sempat dikira akan merusak perayaan dies natalis UNS dihadapan para tamu penting UNS.

 

Sedangkan kondisi di dalam Auditorium UNS, sidang senat terbuka tetap berjalan. Sidang ini dihadiri oleh Ganjar Pranowo, Gubernur Jawa Tengah, Ilham Habibie, anak BJ Habibie yang menjadi perwakilan untuk diberikan penganugerahan UNS Award, para alumni beprestasi, guru besar UNS, serta para tamu undangan lainnya.

 

Agenda pemilihan rektor telah memutuskan tiga nama calon rektor yaitu Prof. Widodo, Prof. Jamal, dan Prof. Sutarmo. Akan tetapi berdasarkan berbagai informasi dari media massa, telah beredar kabar bahwa telah diadakan musyawarah antara tiga calon rektor tersebut dan disepakati bahwa Prof. Jamal menjadi kandidiat tunggal calon rektor UNS. Hal tersebut ditambah kuat dengan pernyataan rektor UNS, Prof. Ravik Karsidi dalam sambutannya saat sidang senat terbuka “Masa jabatan saya akan segera berakhir, tetapi di sini ada pengganti saya sebagai calon rektor yaitu Prof. Jamal.” Ujarnya. Ravik Karsidi menambahkan, musyawarah dan mufakat itu merupakan kesepakatan antar individu (antara ketiga calon rektor).

 

Usai berakhirnya acara tersebut, pukul 12.00 WIB peserta aksi membuat barisan di luar Auditorium dengan membawa sebuah spanduk besar, beberapa poster, dan selebaran yang dibagikan kepada para tamu undangan. Peserta aksi menyanyikan mars mahasiswa dan beberapa lagu nasional sambil menunjukkan spanduk dan poster kepada para tamu yang telah keluar dari Auditorium.

 

Aksi tersebut hampir saja dibubarkan oleh pihak UNS. “Spanduknya tarik, tarik” ujar salah satu pihak UNS kepada petugas keamanan dengan nada tinggi. “Langsung tarik, security” suruhnya dengan nada membentak. “Mungkin Pak Satpam dan lainnya mengira kami akan menghancurkan agenda-agenda dies natalis UNS. Tapi itu tidak!” ungkap M. Zuhria Akbar dari BEM Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) UNS.  Tim keamanan menyela aksi dan menunjuk beberapa perwakilan mahasiswa diperbolehkan melakukan audiensi ke dalam rektorat.

 

Prof. Sahid Teguh Widodo selaku ketua panitia pemilihan rektor unjuk bicara di depan para mahasiswa yang melakukan aksi. “Sebetulnya ini tidak ada bagian dari pekerjaan kami sebagai panitia, jadi kalau misalnya anda ingin obyeksi dengan calon rektor, itu di luar wewenang dan tanggung jawab kami.” Ungkapnya.  Dalam kesempatan tersebut ia menambahkan “Kami mengikuti peraturan senat dan sekarang baru pada tahap penyaringan yang menyisakan ketiga calon rektor yaitu Prof. Sutarno, Prof. Jamal, dan Prof.  Widodo”. Ia hanya dapat menjamin kelancaran pemungutan suara pemilihan rektor dari senat tersalurkan dengan baik.

 

“Sebenarnya Prof. Sutarno dan Prof. Widodo setuju jika kami melakukan forum mahasiswa, namun hal itu tegantung dari Prof. Jamal yang sampai saat ini tidak juga memberikan.” Tambahnya

 

Iklil Mara Abid selaku perwakilan BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS dalam orasinya menuntut diadakannya forum guna menampung aspirasi para mahasiswa kepada para calon rektor. Ada beberapa hal yang menjadi tuntutan dalam tagih janji diadakannya forum bersama dengan calon rektor antara lain:

 

  1. Menerapkan biaya kuliah terjangkau dan memberikan jaminan pendidikan bagi seluruh mahasiswa UNS
  2. Meningkatkan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di UNS sesuai dengan esensi pendidikan tinggi.
  3. Melakukan transparansi terhadap pengelolaan keuangan dan kebijakan UNS secara terperinci dan dapat dipertanggungjawabkan.
  4. Memberikan sarana dan prasarana kampus yang bisa diakses tanpa biaya, layak, dan merata untuk seluruh mahasiswa, fakultas, dan kampus wilayah.
  5. Melibatkan mahasiswa dalam pembuatan dan penetapan serta evaluasi kebijakan yang berdampak langsung kepada mahasiswa.
  6. Menerapkan kesetaraan dan keadilan bagi seluruh mahasiswa UNS.
  7. Menjamin terciptanya iklim ilmiah dan demokratis di kampus dengan terlaksananya mimbar bebas akademik.

 

Namun, setelah audiensi dan negosiasi ditunggu, beberapa perwakilan mahasiswa yang melakukan audiensi tersebut keluar tanpa solusi mengenai perkembangan tuntutan yang diminta.

 

Sementara itu ungkapan Prof. Sahid sebelum meninggalkan aksi  masih terngiang  bahwa “Saat ini masih dalam tahap penyaringan, untuk selanjutnya tahapan pemilihan rektor dan penetapan rektor dalam rapat sedang senat tertutup yang dijadwalkan tanggal 13-30 Maret 2019” Katanya.[]

 

Reporter: Imriyah, Lutfia Nurus Afifah, Lulu Febriana