Ciluuup.. baaa…

Putrane sopo koe le/nduk?

Sampun maem dereng?

nang.. ning.. tak.. ning.. nang.. gung..

bagus-bagus dewe.. / ayu-ayu dewe..

alalalalah..

wis iso ngguyu nggih?

 

Mungkin kalimat atau kata-kata tersebut tidak lagi asing didengar oleh kita yang tinggal di daerah Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Yogyakarta. Itulah ungkapan yang diucapkan oleh seorang ibu ketika sedang mengasuh bayi atau istilah lainnya ialah “ngudang”. Cara tersebut merupakan bentuk komunikasi orang tua khususnya ibu dengan anaknya. Bahasa-bahasa sederhana dan bersifat umum yang dituturkan tersebut mengandung pesan bahwa dengan melafalkan kata itu sang buah hati mampu menirukan dan memancing untuk mulai bicara. Di sisi lain, harapannya anak dapat memahami kalau ia sedang diajak berkomunikasi. Hal itu bisa diketahui dengan melihat respon sang anak yang tersenyum atau tertawa. Itulah salah satu contoh dari ratusan bahasa ibu yang sering digunakan dan tersebar di penjuru Nusantara.

 

Setiap daerah atau suku pasti memiliki bahasa tersendiri yang digunakan untuk berkomunikasi dengan sesama. Bahasa tersebut merupakan warisan dari nenek moyang mereka dan telah diturunkan dari generasi ke generasi. Menurut data yang dihimpun dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan bahwa sejak 1991 hingga 2019 bahasa daerah (tidak termasuk dialek dan subdialek) yang telah diidentifikasi dan divalidasi sebanyak 718 bahasa dari 2.560 daerah pengamatan. Berangkat dari data tersebut, jelas negeri kita kaya akan budaya khususnya bahasa yang beraneka ragam dari Sabang hingga Merauke dan Miangas sampai Rote. Tentu kita wajib melestarikan bahasa ibu/bahasa daerah masing-masing dengan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari tanpa mengesampingkan Bahasa Indonesia.

 

Hal tersebut juga didukung oleh UNESCO, organisasi PBB yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, tentang Pendidikan Multilingual berbasis bahasa ibu. Maksudnya bahwa suatu sekolah setidaknya menggunakan 3 bahasa dalam kelas,  yakni bahasa ibu/daerah, bahasa nasional, dan bahasa internasional. Alasannya anak-anak yang mulai memasuki jenjang pendidikan tidak dapat belajar efektif dalam bahasa apapun selain menggunakan bahasa yang sering digunakan di rumah atau lingkungan tempat tinggal. Pada peringatan hari bahasa ibu internasional tahun 2020, UNESCO mengangkat tema “Bahasa Lintas Batas”. Tujuan dari tema ini adalah untuk merefleksikan tentang konteks, tantangan, dan strategi promosi bahasa yang terdapat pada perbatasan daerah sebagai wahana dalam menginspirasi solidaritas berdasarkan pemahaman komunikasi.

 

Lalu.. Masih ingatkah dengan slogan ini?

Utamakan Bahasa Indonesia

Lestarikan Bahasa Daerah

Kuasai Bahasa Asing

 

Tentu slogan tersebut cukup sulit apabila diterapkan secara bersamaan ketika berkomunikasi dalam kehidupan sehari-hari karena harus memilih salah satu bahasa. Tetapi tidak akan menjadi masalah apabila menggunakannya pada situasi yang tepat. Jadi, gunakan bahasa pada tempatnya karena dengan bahasa kita dapat menguasai dunia. []

 

Ilustrasi: Muhammad Wildan F.

Penulis: Muhammad Wildan F.