> Cerpen

Cerpen

Februari, 2019

  • 7 Februari

    Si Gila

    “MUNDUR KALIAN, jangan berani-berani mendekat”   Dia mengacungkan moncong pisaunya dan mengarahkan ke segala penjuru  dengan membabi buta. Tangannya yang basah menggenggam pisau dengan erat, dahinya mulai berkeringat, dan kakinya bergemetar. Mirip sekali dengan penjahat yang kulihat di film kemarin. Mungkin bedanya ini, dia tidak berjaket kulit hitam dan tidak …

November, 2017

  • 24 November

    Musim Semi di Melbourne

    Oleh: Adhy Nugroho   AKU MEMEGANG LOLIPOP dengan tangan kiriku, di sampingku ada Ibu, saat aku melihat beruang berwarna abu-abu di suatu kebun binatang. Tanah tempat kami berpijak lembab setelah diguyur hujan. Tapi langit kembali cerah. Ini tidak terlihat seperti Melbourne, selain biru langitnya, juga aku melihat terlalu banyak flora …

Juni, 2017

  • 17 Juni

    Musim Dingin di Melbourne

    SUDAH SEPEKAN Marine Band kunci C ini aku mainkan; Dan aku masih belum bisa juga mendapatkan F dari lubang nomor dua ataupun A dari lubang ketiga. Sarah bilang aku bukan pemain harmonika yang baik. Lidahku bukan lidah pemain harmonika, namun lidah peminum alkohol. Katanya, aku adalah lelaki yang tidak memiliki …

  • 7 Juni

    Perempuan Ladang

    IRAMA hutan bergema  hingga ke aliran tapak sungai tak jauh dari ladang. Hembusan  angin menggeliati roma sekujur tubuh. Segar terasa berfantasi dalam pelupuk mata. Fauna-fauna  kecil berseliweran seolah bergulat dengan singgasana rumputnya. Nuansa itulah yang membuat Mak bertahan di sana.   “Mak, yakin tak balik ke rumah lagi?” tanya pria …

Februari, 2017

  • 14 Februari

    Benda-benda Kesepian

    JEMARIKU terus menggesek layar gawai, mengesampingkan hiruk pikuk stasiun yang tengah menemui jam padat. Tak heran Didi Kempot perlu mendendangkan lagu ‘Stasiun Balapan’. Lewat stasiun ini, Kota Solo telah menjadi kenangan di mana orang jadi mudah menengok dan meninggalkannya.   Kuhempaskan punggungku ke pangkuan kursi tunggu, sembari membenahi rambut dan …

Maret, 2016

  • 7 Maret

    Sebuah Monolog: Wajah Tanpa Kelamin

    Oleh Feliana Vinda Vicelia Setiap pagi saya selalu merasa seperti dihadapkan dengan para penghuni neraka yang merusak citra bangsa. Dan pagi itu, saya sedang asyik berjalan-jalan eh malah langsung bertemu Broto. Walaupun umurnya jauh lebih tua dibanding saya, saya lebih suka memanggil namanya langsung, “Broto…..” (teriak) Tanpa “pak“ karena sebutan …