Di pojok lantai dua bagian depan Pasar Panggungrejo, ada tiga kios yang mencolok dipenuhi buku-buku berbeda bentuk raknya. Lampu kuningnya menerangi sekitar di antara kios-kios yang tutup. Sudah pukul empat sore, tetapi Susano Book masih dijaga oleh dua orang pemiliknya.

 

SANTI, pendiri Susano Book, bercerita mengenai susahnya mencari buku-buku indie serta mahalnya harga buku yang di pasaran. Hal itu menjadi pemicu awal dirinya untuk menjual buku. Selain itu, kesukaannya membaca buku memotivasi dirinya membuka Susano Book secara daring di Instagram untuk mempermudah mahasiswa mencari buku indie atau referensi perkuliahan. Setelah itu, sejak awal tahun 2017 Susano Book mulai menjual buku secara konvensional melalui kios yang terletak di lantai dua Pasar Panggungrejo, Jl. Surya Utama, Jebres, Solo.

 

Susano memiliki segmentasi sendiri. Susano Book memfokuskan buku-buku yang bertema humaniora sebagai ciri khasnya. Buku yang diperjual belikan sebagian besar diambil dari penerbit indie seperti, Marjin Kiri, Basa Basi, Pojok Cerpen, EA Books, Baca, Kakatua, Banana, Mojok. Dan hanya sedikit buku yang diambil dari penerbit mayor seperti Gramedia.

 

“Kalau Solo hanya mengandalkan toko buku kaya gini (kios) tanpa online ya susah. Dari sekolah saja masih belum bisa merokemdasikan buku yang bagus untuk nutrisi otak,” Santi bercerita sambil mengguntingi kertas formulir pengiriman barang. Dirasanya juga, Solo belum siap mental untuk bersaing dalam bidang perbisnisan buku. Menjadikan tugas sendiri buat Susano Book untuk mengembangkan dan mengenalkan ke masyarakat Solo, apalagi mahasiswa.

 

Interaksi kecil antara pembeli dan penjual juga menjadi barang langka jika berkunjung di toko buku tradisionil seperti Susano Book. Di sela-sela wawancara dengan Santi, ada pembeli Susano Book yang bertanya harga sebuah buku.

 

“piro, mbak?” [Berapa, mbak?]

“ning mburi enek regane ora?” [Di belakang ada harganya, tidak?]

“satus ewu, mbak”, [Seratus ribu, mbak]

“piro? Satus ewu tenan? Anu mas 87, hmm, yowis 85 wae, mas” [Berapa? Seratus ribu beneran? Anu mas, 87, hmm, 85 saja, mas]

 “ning kene wis koyo adol brambang bawang” [Di sini sudah seperti menjual bawang] ujar Santi dengan senyum sumringahnya. Seketika lorong pasar yang lumayan sepi itu terisi gelak tawa.

 

Ketika pelanggan hanya jadi membeli satu buku saja, bukan buku yang ditanyakan harganya tadi. Santi juga menimpali candaan.

 

“pie lo wis tak dhukne regane” [Bagaimana lo, sudah saya turunkan harganya]

 

Interaksi sederhana seperti itu tidak ditemukan di toko buku arus utama di Solo.

 

Susano terletak di lantai dua Pasar Panggungrejo, Jalan Surya Utama, Jebres, Surakarta. (Angga Noviana/LPM Kentingan)

 

“Sudah lumayan sering sih beli di Susano, karena murah, biasanya cek kesini dulu baru ke Gramedia” ujar Solikin, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa, UNS. Menurut Solikin, Susano Book memiliki keunggulan dalam menyapa pelanggannya di toko. Solikin sebagai penggemar buku indie yang berbau –isme ini juga merasa sering kesulitan mencari buku yang disenanginya di toko buku konvensional. Selain itu karena letaknya di dekat kampus UNS, memudahkan akses transportasi Solikin dengan menghemat biaya bensin.

 

“Gramedia itu kapitalis.” Pungkas Solikin.

 

Sigit Pratama, mahasiswa Sastra Daerah, UNS juga menceritakan kisah berbelanjanya. Ia pernah juga membeli buku di Susano, secara daring. Sulitnya mencari buku di daerah asalnya, Wonosobo, menjadi alasannya. Terangnya, hanya ada Gramedia yang tokonya kecil dan bukunyapun kotor serta tak terawat. Ada juga pemeran buku, tetapi masih jarang bahkan hanya sebulan sekali.

 

“Aku kalau beli buku seringnya di Berdikari Book atau Susano, kalau nggak ada di Berdikari pasti nyarinya di susano.” Balas Sigit. “Toko buku yang menjual buku-buku yang tidak ada di Gramedia, seperti Mochtar Lubis di Gramedia tidak ada, tapi di Susano ada.” Itu menjadi salah satu kelebihan Susano ujar Sigit sambil merokok.

 

Sebagai pemburu buku-buku indie, Sigit menemukan buku yang dicarinya di Susano maupun di Berdikari Book yang bermarkas di Jogja. Merasa tertarik dengan keduanya, apalagi dengan harganya yang murah, Sigit melanjutkan langganan membeli buku daring.

 

Santi mengatakan bahwa pelanggannya kebanyakan dari Jabodetabek. Kalau warga Solo paling hanya 10% – 20% dari prosentase pembeli daring. Diakui Santi, kurangnya publikasi mengenai Susano Book menjadi kendalanya.

 

Khususnya bagi mahasiswa UNS keberadaan Susano Book di Pasar Panggungrejo mungkin tak begitu diacuhkan. Kaum mahasiswa yang hampir setiap hari mondar-mandir di belakang kampus, hanya untuk memburu makan siang atau yang kos di Jl. Surya Utama sedikit diantaranya yang tahu di dalamnya ada toko buku kecil.

 

“Mungkin aku iklannya kurang juga ya, tidak endorse di UNS GO” bercadaan Santi yang renyah. Santi menambahkan, jika Susano berada di pinggir jalan mungkin para mahasiswa ini pada tahu, “oh ada toko buku di Jl. Surya” Santi mengakiri dengan nada seakan-akan puas akan penasaran.

 

Toko buku di Solo seperti tidak lazim adanya. Kurangnya minat baca dari masyarakat atau kurangnya apresiasi dari segala kalangan, menjadi faktor utama. Jika dibandingkan, Jogja mempunyai lebih banyak toko buku independen bahkan beserta percetakannya dalam satu produksi.

 

Sebut saja, Indie Book Corner (IBC) menjadi daya tarik bagi tersendiri. IBC sebagai penerbit indie, juga menjualkan bukunya di Toko Budi, dan disandingkan dengan kedai kopi. Seperti pada acara terbarunya ‘Festival Sastra dan Buku Indie” selain pameran buku, terdapat workshop dan diskusi buku, menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa yang ingin menambah wawasan.

 

Solo memang tidak sebesar Jogja, tetapi boleh dibilang memiliki potensi untuk berkembang bersama. Susano Book menjadi salah satu pelopor supaya toko buku indie di Solo lebih terlihat kejayaannya. Di Susano juga disediakan taman baca dan terdapat beberapa buku yang disediakan untuk dibaca khusus tidak dijual. Jika beruntung, kalian bisa bertemu dan mengobrol dengan Santi, pemilik Susano Book, atau dengan sesama pecinta buku indie. Masih ingat dengan jelas keramahan Santi menyapa pengunjung. Dengan nada yang meliuk-liuk, Ia membalas salam pelanggannya yang berpamitan dengan logat Jawanya.

 

“ooh yaa, hoo mas, matur suwunn..”  [Oh ya, iya mas, terima kasih]

 


Reporter dan Penulis: Lutfi Nurus Afifah