SEBENARNYA ndak enak juga kalau di awal sudah sok-sokan menyitir kata pepatah yang tidak kuketahui sanadnya begini. Tapi pigimane lagi, biar tulisan ini tsah, agaknya memang perlu begitu.

 

 

Witing tresna jalaran saka kulina”. Aih! Itulah kalimat ampuh yang terus-menerus diulang oleh publik asmara di sekitar Sis. Jengah? Ndak usah ditanya lagi!

 

 

“Menurutmu gimana Dab, Mblok, kalau aku mendekati pria yang berada nun jauh di belahan bumi sana?”

 

“Ya tinggal mendekat saja tha, kok repot.”

 

“Ihh! Aku serius ini, Dab.”

 

Hla piye sih bocah iki. Lakyo ngunu tha, Mblok?”

 

“Setujuuuu!”

 

 

Sis lalu merengut dan ogah-ogahan diajak ngrasani soal strategi paid promote yang sedang gencar dilakukan untuk cari dana kegiatan mahasiswa di kampusnya.

 

“Menurutmu gimana lurd, soal paid promote yang digunakan adik-adik pers mahasiswa untuk cari dana acara itu?”

 

Paid promote itu menguntungkan, lurd. Cuma modal koneksi dan sedikit keahlian menggandakan kepsyen sudah bisa dapat duit.”

 

“Bener sih, dari pada adik-adik yang susah nulis itu musti mengirim esai buruk ke Mimbar Mahasiswa. Kan belum tentu dimuat dan hasil uangnya juga ndak seberapa.”

 

“Menurutmu gimana, Sis?,” tanya Dab dan Tomblok serentak.

 

“Yang penting halal,” jawab Sis sambil melengos.

 

 

Dasar memang cowok tidak peka. Dab dan Tomblok terus nerocos sampai berbuih-buih. Asal ndak sambil merokok saja, agak aman. Kadang Sis juga mbatin apa teman-teman lelakinya ini tidak normal, ya. Sebagai anak pers mahasiswa mbok ya o mereka berupaya tampil sangar dengan sesekali belajar merokok. Walau begitu, Sis lebih banyak bersyukur, sih. Sebab bagaimanapun Sis ndak begitu nyaman juga dekat-dekat dengan asap rokok. Eh, kok jadi mbahas rokok sih. Sudah-sudah. Nanti bisa-bisa tertuduh antek Nahdliyin atawa justru antek Muhammadiyah liberal. Urusan rokok-merokok biar jadi urusan Om Iqbal Aji Daryono sahaja.

 

 

Capai berdiskusi, Dab dan Tomblok kemudian merasa lapar. Karena malam minggu, pilihan makan yang bijak tentu sahaja cuma di burjo.

 

“Makan yo, lurd! Aku ngelih banget iki,” kata Tomblok mengajak.

 

“Amora yuk, lurd,” sahut Dab sambil menyikut Sis yang mbesusut di sampingnya.

 

“Udah, ayo! Ndak usah pakai ritual merenung dulu. Mbok pikir dengan sok jadi filsuf kamu bisa kenyang?,” Cerocos Tomblok.

 

 

Sampai di Burjo “njojrok” Amora. Tomblok dan Dab makan dengan lahap. Sis cuma pesen es jeruk yang rasanya kecut sekali malam itu. Dab dan Tomblok senggol-senggolan sikil memperhatikan Sis yang mendadak ndak mau makan itu.

 

“Jadi gimana, Sis? Ayo cerita, kami siap menampung bualanmu bahkan sampai pagi,” ucap Dab dengan nada yang sok-sokan lirih biar Sis lileh hatinya.

 

“Yakin mau mendengarkan?,” tanya Sis menghamburkan pandang kepada kedua teman di hadapannya.

 

“Jadi gini hlo, Dab, Mblok. Kamu kan tahu, aku tipe cewek yang alergi sama konsensus umum. Buatku itu, witing tresna jalana saka kulina luas sekali maknanya. Cinta ndak cuma bisa ditumbuhkan dari kebiasaan bersama-sama di satu tempat.”

 

Tomblok yang pragmatis dan paham obrolan Sis akan terlalu panjang intronya, tiba-tiba memotong. “Sebentar Sis. Kamu mending cerita dulu, gimana tadi, katanya kamu mau mendekati pria yang jauh? Gimana?”

 

“Oiya itu. Jadi tha Mblok, Dab. Masih mau mendengarkan aku cerita kan? Aku suka sama pria kampus Dataran Tinggi. Sayangnya aku belum pernah ketemu doi”

 

Hla piye tha, kok iso? Terus dasarmu seneng ki saka ngendi?”

 

“Dia itu Dab, walah asal kowe ngerti, tipeku bangeeeet.”

 

“Iya, iya. Doi suka baca buku tha?”

 

“Nek itu jelas, Mblok. Siji neh, iki sing hurung tahu tak ceritakke maring kalian. Doi alumni pesantren. Tentu pengetahuan soal agama dan ketuhanannya lebih dalam dari aku, Dab, Mblok. Bapakku pasti juga bangga kalau punya menantu begitu. Ya, tha?”

 

“Terus… Iki oleh mbok guyu sih. Aku suka komposisi wajahnya doi, Dab, Mblok. Berkumis dan pandangannya tajam. Ketok sangar. Nyenengke pokokmen.”

 

“Ngene, Sis. Apa kowe wis yakin seneng bocah kuwi?”

 

“Yakin, Mblok, Dab. Doi iki idamanku banget pokokmen

 

“Eh, aku eling sesuatu. Jangan-jangan iki sing mbok jak tebak-tebakan kae?”

 

“Sing ndi tha, Mblok?”. Dab ikut-ikutan penasaran.

 

“Sis pernah konsultasi maring dewe soal piye nek deknen ngirim buku kanggo cowok sing hurung dikenal. Terus di buku kui diselipi puisi dan identitas sok misterius tentang diri Sis. Koe eling kan, Dab?”

 

“Oh kae! Pekooook. Jadi kae tenanan, Sis?” Ucap Dab seru sembari mengumpat.

 

“Kowe emansipatif sih” Tomblok menjadi maklum.

 

“Tapi aku khawatir, doi malah jerih karo caramu sing rodok kendel ngene, Sis. Aku paham kowe mesti berpandangan kalau kerja cinta itu kerja kesetaraan. Makannya, kowe merasa biasa aja, katakanlah, memulai duluan.”

 

Dab berhenti sejenak sambil menyeruput kopi.

 

“Tapi aku lagi-lagi khawatir, kalau doimu punya pemahaman beda. Apa maneh doi alumni pesantren tha Sis? Coba kowe eling-eling, biyen pas kowe jek kinyis-kinyis metu saka asrama sekolahmu sing berbasis islam modern. Piye pandanganmu soal relasi dengan lawan jenis?

 

Setelah mengajukan tanya bertubi-tubi, Dab menyeruput kopi lagi. Sis cuma bisa manggut-anggut menunggu Dab mencapai titik.

 

Akhire perlahan-lahan kowe merombak pandanganmu sebab buku-buku sing mbok waca, tha. Kowe jadi berusaha adil memandang relasi antar lawan jenis. Termasuk dalam urusan asmara.”

 

 

Sis akhirnya angkat bicara. “Nah! iki hlo Dab, Mblok, masalah pelikku. Doi ki tipe wong sing seneng karo cewek berbuku. Lakyo jelas aku mashook tha? Haha”

 

“Doi sejenis sama kalian berdua. Pokoknya, tipe-tipe cowok sing mendamba cewek yang berada dan kerja di lingkup yang sama dengan kalian. Tapi, masalahe aku dan doi ki belum pernah bertemu opo maneh kerja bareng. Padahal, kan luwih mantep nek wis kenal dan kerja bersama ya,”

 

Gantian Sis yang menjeda bicara dengan menyeruput es jeruk dengan rasa kecut, se-kecut jalan percintaannya itu.

 

“Aku pengen ngomong, nek aku siap berproses hidup bersama. Tak apa terpisah jarak jauh. Intinya, aku dan doi harusnya bertemu dulu. Sebagai perkenalan fisik, untuk pertama kalinya, kedua dan seterusnya. Aku yakin kalau doi bisa klop sama aku. Tapi masalahe ki siji! Piye carane kami bisa bertemu?”

 

Dab tak ambil pusing, celotehan Sis ditanggapinya dengan santai-santai saja. “Kowe kan wis kadung mlangkah. Mbok ya o diteruske sisan. Ajak doi bertemu. InsyaAllah semua berkah.”

 

Merasa tak ditanggapi dengan layak, Sis jadi kesal “Mosok ya aku sing ngajak ketemu, Dab. Isinlah. Huh!”

 

Hla piye tha kik!” Tomblok malah jadi bingung.

 

Hla meh nunggu doi sing ngajak ketemu ya selak kiamat kubra, Sis. Berjuang kok setengah-setengah. Ngunu jarene meh jadi praktisi cinta yang berasaskan keadilan gender. Omong kosong.” Pungkas Dab sambil nyemil mendoan. Membiarkan Sis yang masih gundah memikirkan strategi pertemuan dengan doi. []

 

 

Rizka Nur Laily Muallifa. Senang pergi ke pantai, acara seni, dan toko buku.