AWAK pers mahasiswa (Persma) Kentingan –pemilik laman ini– seharusnya mau dan malu membaca tulisan Faith Silmi yang diterbitkan saluransebelas.com tempo hari!

 

Saking geramnya terhadap Persma tukang kritik gedung sebelah dan bahkan memilih ‘prei kenceng’ terhadap aksi mahasiswa. Juga yang paling penting, sepi peliputan dan malah sibuk nyastra (ah, apa iya?), membuat Faith ini perlu repot turun tangan mengisi rubrik Catatan Kentingan.

 

Mewakili awak persma yang terkutuk ini, teruntuk Faith kuhaturkan banyak terimakasih. Berkat tulisanmu, laman saluran sebelas jadi tak sepi karena ditinggal awaknya yang sibuk berlibur (tidak nyastra, lho!).

 

Ihwal sastra memang bagaikan bilah besar yang terbagi dua: sastra berujung aksi dan sastra yang bergaung literasi. Fungsi sastra memang telah lama diperdebatkan apakah sekedar menjadi sarana berpujangga, intelektualitas pasif atau perjuangan progresif seperti Wiji Thukul bersama beberapa seniman melalui organisasi Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker) yang aku ketahui dalam buku Prahara-prahara Orde Baru (2015). Hingga puncaknya –bila menyoal Thukul kembali– ia dicomot sebagai wakil sastrawan dan seniman yang bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD). Politik praktis, katakanlah begitu, turut ia geluti dengan dalih ingin membela rakyat.

 

Tak hanya Campe Lawu, guru Thukul di Teater Jagat yang kecewa. Seorang rekan Thukul dalam Jaker, Moelyono, juga turut menyayangkan sikap Thukul tersebut. Pencomotan Thukul, baginya hanyalah akal-akalan PRD yang membuat ikon seniman dalam sayap politiknya. Hingga selepas pembacaan puisi dalam deklarasi pendirian PRD di kantor Yayasan Lembaga Hukum Indonesia, Jakarta,  pada 22 Juli 1996. “Sajak Suara dan Peringatan” (1986) yang termahsyur itu menjadi penampilan terakhirnya di publik sebelum buron dan hilang. Tapi tidak begitu masalah bukan? Pasalnya, sudah anda katakan sebelumnya, bahwa justru itulah salah satu kenikmatan sastra: membangkitkan  gairah, dari seksual hingga berani mati hingga menyaru jadi hal-hal ikonik. Sastra hanya sebagai bumbu dan penghias wajah. Namun, aku yakin bahwa Faith pun tak kan tega jika sastra cuma diperalat oleh segelintir kelompok kepentingan saja.

 

Bukan berarti sastra yang progresif itu tak baik, bukan. Cuma keberadaanya saja yang sudah usang, karena –kalau kata Faith lagi– orang-orang sepertiku inilah penyebabnya, yang tak mau berkumuh dan berpeluh untuk ikut aksi dan menjadikan aksi massa lebih nyastra dan menarik.

 

Sastra yang tak kalah baik adalah sastra yang dapat menggambarkan lingkungan alam dan lingkungan sosial dalam kisahnya. Membuka imajinasi penikmatnya, menambah wawasannya. Hanya saja, sastra seperti itu mungkin saja sudah tidak bisa dinikmati pendukung sastra progesif macam Faith. Membaca dan menulis memang tak bisa langsung mengenyangkan perut “rakyat”.

 

 

Luput

Juga suatu keluputan bahwa Edisi Khusus tak membahas ke-Islam-an sastra dan malah asik ‘menggunjingkan’ Islam(isasi) populer secara keterlaluan. Inilah kiranya yang  menyebabkan Faith– mungkin – harus ber-istighfar berkali-kali. Atas dosa-dosa laman Saluran Sebelas dalam mendalami kepopuleran Islam. Alangkah lebih baik apabila orang-orang macam Faith ini, mau repot-repot mengirim surat pembaca atau sekadar esai singkat  guna menanggapi tulisan-tulisan Edisi Khusus yang penuh dosa itu. Usulku, apalagi kalau bisa turut menjawab kebingungan Khalil Gibran terhadap perkembangan sastra Arab (akar sastra ke-Islaman) yang mandeg karena terbentur kebahasaan yang terlanjur dicap terlalu Islami, sehingga tak bisa dikategorikan sebagai sastra yang universal alias dijangkau oleh seluruh umat. Permasalahan tersebut juga dengan sastrawinya dijabarkan Khalil Gibran dalam buku Kelopak-kelopak Jiwa (2001).

 

Sekali lagi, Maafkanlah awak kentingan yang terkutuk ini. Dikala para aktivis mahasiswa sedang sibuk-sibuknya beraksi, kami ternyata “abai terhadap kehidupan sosial” kata Faith, dan malah memilih prei kenceng.

 

Persma yang kian tak bertaring ini malah cuma sibuk mengobrak-abrik kinerja “kawan gedung sebelah”, sungguh tidak kooperatif dan tidak bisa jadi media partner. Ah iya, reputasi Persma Kentingan sebagai media partner sudah rusak gara-gara reportase gegabah berjudul Konferensi “Peres” terbit 25 Oktober 2016 lalu.

 

Dan yang terakhir, Mbak Ririn cuma bisa minta maaf kepada Dek Faith, lantaran hanya tulisan Mbak Ririn yang gandrung Dek Faith balas. Pun, tulisan Dek Faith yang cuma bisa dibalas Mbak Ririn yang masih belajar di Persma abal-abal ini, bukan awak lain yang hobi nyastra dan prei kenceng seperti kata Dek Faith itu. Hatur terimakasih!


[author title=”Ririn Setyowati” image=”https://i0.wp.com/saluransebelas.com/wp-content/uploads/2016/04/Ririn-Setyowati.jpg?w=618″]Seorang mahasiswi pembelajar pesan. Sering dikatakan terlalu belia dan belum pantas. Namun, menepis stempel dini bukan merupakan hal yang salah. Mencoba mengimplikasikan ‘manusia bermoral’ seperti apa yang diharapkan Moctar Lubis dalam pahamnya. Surel: [email protected][/author]