lpmkentingan.com-Matahari yang mulai meninggi tak menyurutkan tekad mahasiswa-mahasiswa anggota Centre for Orangutan Protection (COP). Salah satu di antaranya, Fika. Dengan kostum orangutannya, ia begitu bersemangat membagi-bagikan selebaran berisi tentangan terhadap kegiatan-kegiatan yang mengeksploitasi orangutan kepada para pengguna jalan.

Selasa (7/7) ada yang nampak tak biasa di seputaran bundaran Gladak. Mengambil latar patung Slamet Riyadi, beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Centre for Orangutan Protection (COP) mengadakan kampanye bertajuk “Orangutan Bukan Mainan”. Kampanye tersebut merupakan salah satu sumbangsih Centre for Orangutan Protection (COP) yang notabennya adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang konsen terhadap keberadaan satwa endemik orangutan. Sebab mereka (orangutan, red) adalah salah satu unsur pemerkaya bangsa dan negara Indonesia yang seharusnya mendapat perlindungan. Bermuasal dari pemahaman itulah, COP berdiri dan melakukan kampanye.

Kampanye di siang yang cukup terik itu bertujuan untuk meningkatkan kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap keberadaan orangutan. Lebih khusus, terhadap bisnis-bisnis sirkus dan properti foto yang memanfaatkan orangutan. COP menghimbau supaya masyarakat tidak lagi mendukung bisnis-bisnis yang mengeksploitasi satwa endemik orangutan.

“Orangutan memiliki 97% DNA yang sama dengan manusia, orangutan bisa memiliki rasa sedih, tertekan, jatuh cinta, dan sakit. Sirkus dan foto dengan orangutan adalah bentuk pemaksaan terhadap orangutan yang sudah sepantasnya, kita sebagai masyarakat tidak mendukung dengan tidak mengunjungi sirkus dan berfoto dengan orangutan,” ungkap koordinator kampanye Orangufriends Solo, Indira Nurul Qomariah.

Selain di Solo, kampanye sejenis juga diadakan serentak di delapan kota lain di Indonesia, yaitu Jakarta, Denpasar, Aceh, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Malang, dan Samarinda. Di Solo sendiri, kampanye dimulai dari ujung jalan protokol Slamet Riyadi. Kemudian dilanjutkan dengan membagi-bagikan stiker dan memberikan edukasi kepada para pengunjung Taman Satwa Jurug.

“Ketika pengunjung tidak membayar untuk foto bersama orangutan, bisnisnya jadi menurun, atau bahkan ditutup. Peran kami sebagai mahasiswa ya menyadarkan masyarakat untuk tidak berfoto bersama satwa,” imbuh Indira yang juga merupakan mahasiswa jurusan Biologi Universitas Sebelas Maret itu. (Ifa)