Saluransebelas – Ratusan massa yang tergabung dalam aliansi Solo Bergerak memblokade ruas jalan di bundaran Simpang Tugu Kartasura, Senin (28/10). Aksi itu mengakibatkan lalu lintas sempat macet total dari ketiga arah yakni Solo, Jogja, dan Semarang.

 

Aksi Solo Begerak (Sorak) kali ini membawa sepuluh tuntutan dan salah satunya menyerukan penolakan terhadap Undang Undang (UU) bermasalah bahkan hingga menolak kembalinya rezim orde baru dengan meneriakkan pemerintahan saat ini “Oligarki”.

 

“Tuntuan kami adalah tolak UU KPK yang sudah disahkan DPR dan pemerintah, termasuk batalkan pimpinan KPK bermasalah yang telah dipilih DPR,” kata humas Aliansi Solo Bergerak, Muhammad Hisbun Payu.

 

Aksi ini merupakan rangkaian dari aksi-aksi sebelumnya, yakni aksi 24 dan 30 September lalu yang masih membawa tagar #ReformasiDikorupsi. Lokasi demonstrasi sengaja dipindah dari beberapa aksi sebelumnya di DPRD Solo. “Lokasi Tugu Kartasura ini adalah titik temu dari Solo, Semarang, dan Jogja. Kami ingin pesan kami bisa tersampaikan kepada lebih banyak orang,” kata pelaksana humas aksi lainnya, Moh Zalhairi.

 

Aksi tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kekecewaan rakyat terhadap pemerintah Indonesia yang mengeluarkan beragam regulasi dan kebijakan yang mengancam ruang demokrasi dan kehidupan rakyat. Seperti diketahui, dua aksi sebelumnya mendapat tindakan represif dari aparat dengan menembakkan gas air mata dan peluru karet, pemukulan hingga penangkapan. Akibatnya, puluhan mahasiswa menjadi korban luka-luka.

 

Yang menarik dari aksi kali ini adalah maskot joker yang menjadi simbol dari rakyat. “Joker adalah rakyat baik yang disakiti, dan hari ini rakyat disakiti. Maskot Joker bukanlah untuk menghina Jokowi, melainkan sebagai bukti kebohongan Jokowi. Jokowi pernah berjanji untuk menguatkan lembaga anti rasuah serta menguatkan HAM di Indonesia, tapi apa nyatanya? Pemerintah malah menyetujui UU KPK yang jelas-jelas tidak menguatkan lembaga anti rasuah dalam hal ini KPK, serta makin memperlancar penindasan HAM”, tukas salah satu orator dari BEM ISI Surakarta.

 

Massa juga meminta pemerintah mengusut kematian lima aktivis dalam rangkaian aksi demonstrasi beberapa waktu lalu. Sang orator pun menggambarkan aktivitis tersebut sebagai Pandawa yang berhati baik dan aparat pemerintah sebagai Kurawanya. Bahkan sang orator meneriakkan dengan lantang  bahwa polisi dan Jokowi adalah antek oligarki.

 

Meski sempat memacetkan jalan raya simpang ke Semarang dan Jogjakarta, namun aparat melakukan rekayasa jalan. Puluhan aparat juga dikerahkan untuk mengamankan aksi, dipimpin langsung oleh Kapolres Sukoharjo AKBP Bambang Yuga.

 

“Kita pengamanan sesuai protap, kita amankan masyarakat yang melakukan aksi dan masyarakat pengguna jalan,” tandas Kapolres.

 

Meski aksi ini sempat memanas ketika salah satu demonstran menyalakan petasan kembang api. Namun, akhirnya aksi ini berakhir dengan kondusif, di mana aksi itu ditutup dengan aksi sholawat bersama ketika adzan maghrib berkumandang.

 

Reporter: Aulia Anjani