Ilustrasi: Muhammad Ilham Al B/LPM Kentingan

Sisa Potongan Kue Untuk Para Pekerja

Lagi dan lagi, (1/06/2021) linimasa Twitter dipenuhi dengan perdebatan-perdepatan tentang masalah kesenjangan ekonomi. Ada Cinta Laura yang ogah membeli tas branded mahal dengan alasan uang sejumlah tas tersebut dapat digunakan untuk memberi makan banyak orang, hingga cuitan seorang penulis dengan akun @wildwestraven yang membahas perbedaan upah yang jomplang antara pekerja kasar dengan para influencer. Twit-twit tersebut ramai menjadi perbincangan warganet di Twitter. Nampaknya, masalah perekonomian menjadi salah satu bahasan yang laris apalagi jika diduetkan dengan isu politik.

Meski sempat ada sedikit tudingan mengenai kepemilikan tas branded yang ditampilkan di akun Instagramnya, Cinta Laura dengan ringan menjawab tudingan tersebut. Karena faktanya, tas-tas branded yang ia unggah hanyalah endorse semata dan Cinta Laura aktif di berbagai kegiatan sosial.

Berbeda dengan perihal Cinta Laura yang langsung klir, cuitan dari @wildwestraven menerima balasan dari beberapa influencer. Salah satu diantaranya beralasan bahwa bayaran yang tinggi untuk sebuah promosi tidak hanya masuk ke rekening mereka sendiri, tetapi dibagi untuk menggaji orang-orang yang bekerja di belakang layar. Selain akun-akun influencer, banyak juga akun-akun kelas menengah yang ikut menanggapi twit tersebut baik pro maupun kontra. Sementara itu, selagi kita ramai-ramai membahas kesenjangan upah, para pemilik modal sedang asyik menikmati kekayaannya, padahal merekalah yang bertanggung jawab atas kesenjangan upah yang terjadi.

Memang benar apa yang menjadi pembelaan influencer di atas dan tidak ada salahnya memiliki pendapatan yang sangat besar. Namun, permasalahan yang diangkat dari twit tersebut adalah minimnya gaji atau upah para buruh produksi yang kerja siang malam dibandingkan dengan biaya promosi produk. Padahal, buruh-buruh tersebut merupakan bagian penting dalam sebuah produksi. Jika tidak ada mereka, lantas siapa yang akan memproduksi barang? Selain itu, bukankah mereka pula yang akan membeli barang-barang produksi tersebut?

Ketimpangan biaya promosi dengan biaya operasional perusahaan salah satunya tergambar dalam isu mogoknya kurir karena penurunan upah. Ini terjadi pada sebuah e-commerce “oren” yang pernah menggunakan salah satu grup K-POP sebagai brand ambassador-nya. Dikutip dari Kompas.com, meski tidak ada aksi mogok, penurunan tarif antar per paket benar adanya. Kok bisa? bayar artis luar mampu, tapi bayar upah layak kurirnya tidak sanggup. Nahasnya, kesejahteraan para kurir tidak diperhatikan oleh konsumen. Sebagian dari mereka menutup mata akan rendahnya upah para kurir, selagi harga murah dan gratis ongkir, yang ada di pikiran mereka hanya beli, beli, dan beli.

Orang-orang kaya akan mempunyai kesempatan besar untuk menambah kekayaannya. Sementara orang-orang miskin kemungkinan besar akan tetap terjerembab dalam kemisikinan. Hal tersebut dapat dilihat dari situs Forbes, di mana lima orang terkaya di Indonesia, meski sempat mengalami penurunan pada tahun 2020, pada saat ini, tahun 2021, total kekayaannya sudah melebihi kekayaan pada tahun 2019 sebelum pandemi terjadi. Sementara itu, BPS mencatat jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang, meningkat 1,13 juta dari Maret 2020 dan meningkat 2,76 juta dari September 2019. Bahkan, menurut prediksi INDEF, pada 2021 angka penduduk miskin di Indonesia akan meningkat hingga 28,37 juta orang.

Kondisi ini diperparah dengan maraknya pergeseran sistem pencarian rezeki menjadi gig economy. Kata gig sendiri merupakan istilah dalam dunia hiburan khususnya dunia musik untuk menggambarkan kondisi di mana performer bekerja dalam jangka waktu yang pendek. Dengan demikian, gig economy merupakan sebuah sistem kerja jangka pendek atau sistem kerja kontrak. Dengan menggunakan sistem ini, kebanyakan perusahaan menggunakan nama kemitraan yang menyetarakan posisi pekerja dan perusahaan sehingga perusahaan dapat lari dari tanggung jawab atas tunjangan-tunjangan karyawan dan kewajiban lainnya. Selain itu, sering kali perusahaan membuat keputusan sepihak yang merugikan pekerja seperti pada kasus e-commerce “oren”. Tidak adanya regulasi yang jelas membuat pekerja sewaktu-waktu dapat diputus kemitraannya. Belum lagi ketika pekerja mengalami masalah saat bekerja, perusahaan tutup mata dan telinga seolah bukan tanggung jawabnya seperti kasus COD yang sempat viral.

Masalah-masalah di atas hanya beberapa dari sekian banyak permasalahan dan tidak akan selesai jika hanya diperdebatkan di media sosial. Jika kekayaan diibaratkan seperti sebuah kue utuh dan pemilik modal besar adalah pemotong kue, maka para pekerja kasarlah yang dapat bagian sisa potongan kue tersebut. Selagi masalah di atas masih ada, masih jauh pula kita dapat mewujudkan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Penulis: Bagaskoro
Editor: Diana Kurniawati