Tahu nggak apa persamaan antara ‘sakura kuning’-nya UNS sama ‘debat capres-cawapres’-nya Pemira UNS? Iya. Sama-sama ngangenin.

***

Well, kurang afdol rasanya kalau perwakilan dari kalangan BEM UNS tidak ikut bersuara melalui tulisan. Padahal, acapkali kami menyinggung soal suara dan juga aspirasi. Maksud saya, kalau dirasa perlu menanggapi opini publik yang menilai BEM UNS sedemikian rupa, secara khusus, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran fakta mengenai BEM UNS itu sendiri, “ya mesthi dilawan!”. Lagipula, kalau nanti nggak ditanggapi, bisa-bisa kalangan BEM UNS memang benar eksklusif adanya. Lebih dari itu, tulisan ini murni saya buat sebagai medium kalangan BEM UNS untuk bersilaturahmi khususnya kepada saudara Udji Kayang selaku pemerhati politik kampus, juga kepada seluruh mahasiswa UNS.

‘Kami’ di sini, sekaligus memperkenalkan saya pribadi selaku perwakilan dari kalangan BEM UNS, juga salah seorang pemirsa Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2016 yang mendapat kesempatan sebagai penanggap kedua pada sesi tanya jawab oleh pemirsa. Setelah Emilia Naura binti The Flash, tentunya. Yang konon katanya, sangat cepat.

Kalau menurut buku Contagious, karya Jonah Berger, tulisan-tulisan Mas Udji bisa dibilang selalu mampu memicu getok tular bagi setiap orang yang diam-diam ternyata juga turut memperhatikan laga perpolitikan di kampus. Kali ini menyoal Debat Capres dan Cawapres BEM UNS 2016. BEM UNS jadi bahan gosip yang cukup menjual, banyak mahasiswa jadi tertarik untuk ngomongin politik, portal LPM Kentingan jadi naik rating, Mas Udji jadi makin dikenal, dan Emilia Naura masih belum kelihatan. Saking cepatnya. Termasuk tulisannya yang mencoba menanggapi opini Mas Udji. Kalau saya, sih, pengennya jadi Gatotkaca. Tapi pake baju koko. Warna abu-abu.

Soal debat, saya seratus persen sepakat kalau keberjalanan debat tersebut terkesan hambar. Kurang hidup dibandingkan debat capres-cawapres dua tahun sebelumnya, atau satu tahun sebelumnya. Pertama, para peserta berasal dari perguruan yang sama. Mudah diterawang kalau-kalau di sana tidak ada ‘lawan yang sebenarnya’. Atau minimal, untuk memicu keseriusan berkampanye dan berdebat. Mungkin kita perlu cari tahu alasan mengapa Partai Bara, Gerbang, dan Wali Cinta tidak ikut berlaga menerjunkan kader-kader terbaik mereka dalam kompetisi memperebutkan kursi kepemimpinan BEM UNS 2016. Kedua, panelisnya, belum mampu memicu getok tular. Yakni sensasi panas yang dinanti-nanti para pemirsa. Ketiga, hampir seluruh pemirsa lupa kalau mereka hadir di ‘Halaman Parkir Timur Masjid Nurul Huda pada hari Senin, 2 November 2015’ (HPTMNH-2.11.2015) adalah untuk mengenal kedua pasangan capres-cawapres BEM UNS 2016 lebih jauh agar makin mantab dalam menentukan pilihannya. Ndelalah, malah jadi ajang temu kangen antar simpatisan. Kan, ngeselin. Kasihan Mbak Christine sang moderator kalau begini caranya. Jujur, saya sendiri juga kesal. Kesal, karena menjadi salah satu pelakunya. Namun saya putuskan untuk meminta maaf dengan cara mengangkat tangan, mencoba peruntungan, pada termin tanya jawab yang disediakan. Dan ternyata saya diampuni.

Maaf sebelumnya, saya mencoba menanggapi Mas Udji yang merasa dirinya dibunuh lantaran tidak didengar suaranya dalam tragedi HPTMNH-2.11.2015, sehingga mengira bahwa BEM UNS telah gagal mendengar suara mahasiswa. Saya terkesima dengan perumpamaan nasib yang digunakan saudara terwakilkan dalam sajak-sajak puisi Goenawan Mohamad (GM), Tentang Seorang yang Terbunuh di Sekitar Hari Pemilihan Umum. Saya bisa saja merasa demikian andaikata saya tidak ditunjuk sebagai penanggap kedua. Jangankan soal suara, hla wong pas lagi main C.O.C, trus lost connection, raga saya serasa terbunuh, kok.  Soal gagal mendengar suara, saya pikir ini logika yang kurang bisa diterima sekalipun oleh orang-orang yang mati nalarnya macam kalangan BEM UNS. Sekedar info, Emilia Naura masih belum kelihatan. Kembali ke topik. Sebab, tidak ada kesepakatan bahwa kalangan BEM UNS mengakomodir panitia penyelenggara debat maupun moderator agar membatasi termin, ataupun siapa-siapa saja yang diijinkan untuk bertanya. Bisa jadi ini murni subjektifitas sang moderator yang terkecoh dengan ketampanan saya. Bisa juga, berhubung The Flash selaku penanggap pertama adalah seorang perempuan, lantas Mbak Na’imatur Rofiqoh jadi tidak dihitung demi memperoleh situasi yang seimbang. Lagipula, kalau masih ingin memperjuangkan aspirasi saudara yang merasa terbunuh, monggo lah mampir ke sekre BEM UNS yang terbuka lebar 24 jam {(baca: http://suararakjat.com/ndagel/Sekre-BEM-UNS-terbuka-lebar-bagi-aspirasi-mahasiswa-dan-mereka-yang-mau-main-PES). Sorry, seng iki ndagel tenanan}. Soalnya, saat lost connection pas main C.O.C sekalipun, saya pasti memperjuangkan raga ini untuk bisa connect kembali. Bagaimana dengan antum?

Maaf lagi, sebab saya pikir BEM bukanlah model pemerintahan mahasiswa yang anti-kritik, mungkin saja tidak banyak yang mengetahui cara menyampaikan aspirasi mereka. Dan Alhamdulillah, dengan demikian kami mengetahui celah kekurangan kami, yakni kurang mensosialisasikan cara menyampaikan aspirasi kepada warga kampus UNS. Berikutnya, BEM UNS juga setahu saya, nggak pernah melarang siapapun untuk menulis, apalagi berpikir. BEM UNS bukan Tuhan. Juga bukan Gatotkaca.

Evaluasi, Bukti Anti Kritik

Di FISIP sendiri, sedang ‘agak’ riuh penyelenggaraan pemilu BEM FISIP UNS 2016. Dan pagi kemarin, Jumat, 6 November 2015 mulai pukul 08.45 WIB, dilaksanakan Debat Capres BEM FISIP UNS 2016 di mana Mas Udji sendiri berperan sebagai salah satu panelisnya. Saya salut kepada Panitia Pelaksana Pemilu BEM FISIP 2016 yang dengan serius dan cekatan mempersiapkan ritual debat tersebut berdasar evaluasi debat capres-cawapres BEM UNS beberapa hari sebelumnya. Setidaknya, tulisan Mas Udji (Baca: https://www.saluransebelas.com/catatankentingan/opini/mahasiswa-dilarang-mendebat.html) turut menyumbang poin-poin yang patut dijadikan evalusasi tersebut. Jadinya, kalangan non-BEM mendapat ruang untuk beraspirasi secara kritis non-intervensi. Termasuk Mbak Na’imatur Rofiqoh yang kali ini diberi kesempatan untuk bertanya. Bahkan pada kesempatan pertama. Bukan secara khusus, tapi gesture-nya yang tak kalah cepat menandingi sang legenda Emilia Naura, memantabkan hati moderator untuk memilihnya. Saya jadi curiga seandainya mereka (Na’im-Emil) ini bersaudara.

***

“Sesekali Anda boleh memperbodohkan semua orang atau sesetengah orang sepanjang masa, tetapi Anda tidak boleh memperbodohkan semua orang setiap masa.” – Abraham Lincoln.

 

PS: Sejujurnya, saya nggak sepakat sama sekali dengan quote-nya Om Lincoln. Soalnya, memperbodohi orang, kan, jelas nggak baik. Gatotkaca tidak mungkin melakukannya juga. Tapi Om Lincoln ngotot pengen ngeksis, minta quote-nya diselipin sebab katanya cukup mewakilkan keadaan. Ya wis lah.

 

Aji Nugroho

Mahasiswa Hubungan Internasional UNS Surakarta

Fans berat Emilia Naura binti The Flash. “Sudah sampai mana, Mbak?”