TAK SEPERTI hari-hari biasanya, lobi perpustakaan penuh sesak. Antre mahasiswa yang menitipkan tas memanjang sampai ke pintu masuk. Si Dab yang mau cari tempat tidur usai kuliah, bingung dengan keramaian yang terjadi.

 

“Ada apa tho, Mas?” Tanya Dab ke salah satu pengantre.

 

“Cari berkah, Mas.”

 

“Cari berkah gimana, Mas?” Si Dab kembali bertanya terheran-heran.

 

“Si Pakdhe penjaga tempat penitipan tas itu, lho. Doanya mujarab, Mas. Kemarin kan ada mahasiswa yang udah empat tahun skripsinya enggak selesai-selesai. Waktu dia ke sini buat nitipin tas, si Pakdhenya mengalungkan nomor laci sambil berdoa, ‘semoga cepat lulus. Habis lulus semoga cepat dapat.’ Eh, minggu depan dia dikabari kalau dosen pembimbingnya meninggal. Terus sidangnya dipercepat gara-gara udah enggak ada lagi dosen yang mau mbimbing dia. Lulus deh akhirnya.” Cerita si pengantre.

 

Si Dab yang IPK-nya semester kemarin jiglok dan lagi bingung cari judul skripsi tergoda untuk didoakan. Antrelah ia di urutan paling belakang.

 

Satu jam berlalu, sampailah Si Dab di depan meja penitipan tas. Si Pakdhe berdiri mematung, bersedekap, memejamkan mata. Dab menaruh tasnya di atas meja.

 

“Pakdhe, tolong saya didoakan ya.”

 

Tiba-tiba angin berembus kencang. Kilat menyambar-nyambar. Gemuruh petir memekakkan gendang kuping. Semua manusia di lobi perpustakaan gempar. Ada yang lari ketakutan, sisanya tengkurap di titik masing-masing.

 

Perlahan Si Pakdhe membuka matanya sambil berkata lirih. “Mau minta doa apa kamu?”

Si Dab yang masih setengah ketakutan menjawab bergetar. “Tolong didoakan supaya saya cepat dapat judul skripsi, Pakdhe.”

 

Petir menyambar sekali lagi. Kali ini diiringi senyuman sinis Si Pakdhe. “Mahasiswa perantauan ya?”

 

“Iya Pakdhe.”

 

“Orang tua masih lengkap?”

 

“Bapak udah enggak ada, Pakdhe.”

 

Si Dab bingung kenapa Si Pakdhe malah bertanya hal-hal pribadinya.

 

“Ibukmu kerja?”

 

“Iya Pakdhe.”

 

“Kamu tahu kan, kalau surga ada di telapak kaki Ibuk? Terus ngapain kamu minta doa ke saya?”

 

“Kalau itu saya tahu Pakdhe. Tapi telapak kaki yang sebelah mana ya? Wkwkwk.”

 

“Menurutmu itu lucu?!” Kali ini Si Pakdhe berteriak sambil melotot.Angin mengamuk.

 

Si Pakdhe berkata dengan nada tegas. “Kamu jam segini biasanya tidur kan? Ibukmu pasti lagi kelelahan karena kerja dari pagi untuk menghidupimu.Setiap hari apa yang kamu makan? Steak? Spagetti? Rice Bowl? Atau makanan mahal lain yang mahal cuma gegara namanya pakai bahasa Inggris? Di rumah, kamu enggak tahu kan kalau Ibukmu cuma makan nasi berlauk ikan teri?”

 

Si Dab gemetaran.

 

“Setiap bulan kamu minta sepatu baru kan? Padahal duit Ibukmu cuma cukup buat dia membelikan sandal japit dirinya sendiri. Belum kalau kamu merengek minta dikirim duit di akhir bulan. Setiap hari untuk Ibukmu itu bagaikan akhir bulan, Dab!”

 

Si Dab masih gemetaran. Air mata perlahan mengalir tenang di pipinya.

 

“Masih mau minta berkah ke saya?!” Si Pakdhe berteriak sambil mendobrak meja.

Si Dab berlari keluar sambil berteriak dalam hati. “Ibuk, aku rindu padamu!”[]

 

 


[author title=”Satya Adhi” image=”https://www.saluransebelas.com/wp-content/uploads/2016/05/Satya-Adhi.jpg”]Mahasiswa yang gemar berjalan kaki. Surel: [email protected][/author]