DI HARI KASIH SAYANG yang kesekian kalinya ini, si Dab ingin merayakan kebakohannya sebagai fakir asmara. Bagi Dab, kuat menjomblo sejak lahir adalah prestasi yang sarat prestisi. Tak kalah prestisius dengan Budhe Adele yang memborong lima hadiah Grammy.
Datanglah ia ke tempat makan yang jarang ia datangi. Sebuah kafe di belakang kampusnya. “Sekali-kali lah, aku harus beranjak dari angkringan dan burjo,” pikir Dab.

 

Si Dab melangkah masuk dengan percaya diri.  “Selamat datang, Kak. Mau pesan apa?” Tanya si Mbak pelayan kafe ramah.

 

Si Dab tergetar hatinya. Senyum manis si Mbak pelayan kafe, dan panggilan “Kak” yang ditujukan kepadanya membuat Dab baper. Baru kali ini ada perempuan yang dengan mesra memanggilnya “Kak.”

 

“Kak, mau pesan apa?” Tanya si Mbak pelayan sekali lagi.
Lamunan Si Dab buyar. Lekas ia membolak-balik daftar menu.  “Ehm, es kampul satu, Mbak.”

 

Si Mbak pelayan tersenyum sengak. “Wah, kalau itu kami enggak punya, Kak.”
“Lha ini ada di menu. Ada gambar es kampul.” Dab membela diri.

 

“Ooo, itu lemon tea, Kak.”

 

“Ya, sama aja tho. Kampul, lemon tea. Itulah pokoknya.”

 

“Makanannya apa, Kak?”

 

“Saya mau nasi mawut aja.”

 

 

Kali ini si Mbak pelayan tersenyum lebih sengak lagi. “Itu juga kami enggak punya, Kak.”

 

“Lha ini ada gambarnya, kok. Gimana tho?”

 

“Itu Magelang fried rice, Kakak.”

 

Horok. Kan ya sama aja, Mbak. Kenapa sih harus sok-sokan pakai bahasa Inggris segala?”

 

“Lhoh, gimana tho Kakak ini. Kami enggak mau kalah sama kampus sebelah dan Agnes Monica. Kami mau go internasional. Makanya di sini semuanya pakai bahasa Inggris.”

 

“Memangnya kalau udah pakai bahasa Inggris makanannya jadi tambah enak gitu? Terus, kenapa enggak bikin kafe makanan Inggris sekalian aja, biar marem?”

 

“Ah, Kakak ini bisa aja. Memangnya ada yang doyan makanan Inggris? Wong Jawa nek ora mangan sego ora mangan, Kak. Kan yang penting gaya hidup internasional, walau perut tetap lokal.”
Si Mbak pelayan beranjak sejenak,  lalu kembali dengan segelas es kampul dan nasi mawut.

 

“Semuanya berapa,  Mbak? Tanya Dab setelah selesai makan.

 

“20 ribu, Kak.”

 

Byadalah! Saya cuma pesan es kampul, eh lemon tea sama Magelang fried rice lho, Mbak. Kok mahal amat?”

 

“Kan go internasional, Kak. Kalau pakai bahasa Inggris, semuanya lebih mahal, Kak. World Class Cafe gitu lhoh!” Si Mbak pelayan yang awalnya manis, berubah sadis dan sinis.

 

Jadilah Si Dab harus merelakan uang makannya untuk sehari dihabiskan dalam sekali makan.

 

Pergilah Dab ke kampus. Sampai di sana, Si Dab kembali tergetar hatinya.
Kali ini karena melihat Bu Prof menangis sesenggukan di pojok kantin. Sebagai lelaki yang peka terhadap perasaan wanita, Si Dab mendatangi Bu Prof.

 

“Permisi, Bu Prof.”

 

“Eh, kamu Dab.”

 

“Ada apa tho, Bu Prof. Kok nangis sendirian di pojokan?”

 

“Ini lho, Dab. Saya habis dimarahin Pak Dekan. Katanya kerja saya enggak bener. Nilai mahasiswa saya anjlok semua. Saya disuruh ngatrol nilai. Ya saya enggak mau lah. Eh,  malah saya dipisuhi. Saya dibilang dosen enggak
tahu diri. Dosen brengsek.”

 

“Walah-walah. Kok tega Pak Dekan bicara gitu?”

 

“Enggak tahu, Dab. Saya merasa harga diri saya direndahkan.
Dab terdiam. Ia merasa harus menolong Bu Prof mengembalikan kepercayaan dirinya. Harga diri Bu Prof harus naik kembali!

 

“Bu Prof. Bu Prof enggak brengsek kok.”

 

“Makasih ya Dab. Kamu memang mahasiswa yang baik.”

 

“Iya. Bu Prof memang enggak brengsek. You’re asshole, Mam!“[]

 

 

 


[author title=”Satya Adhi” image=”https://i2.wp.com/saluransebelas.com/wp-content/uploads/2016/05/Satya-Adhi.jpg?w=618″]Mahasiswa yang gemar berjalan kaki. Surel: [email protected][/author]