Seperti apa pagi tanpa fajar? Seperti apa taman tanpa bunga? Dan bagaimana jika hujan tanpa awan?

Tidak lebih hidup bukan? Aku tahu seperti itulah aku tanpa anak-anakku.

Rasanya lelah, sangat lelah, semuanya kembali hening, sepi, dan menanti. Hari ini masih terlalu pagi untukku menggerutu. Buah hati yang mulai matang sudah berangkat bekerja. Aku begitu bersyukur memiliki seorang putra yang dengan ikhlas mau menyerahkan tulang punggungnya dimasa semuda ini. Buah hatiku yang lain, yang sudah memasuki masanya, juga sudah berpamitan beberapa menit yang lalu. Si cantik inilah yang selalu menjadi penyemangat dan pelipur laraku. Dia masih sangat muda, tidak penurut tapi dia tidak penuntut.

Sebagai ibu tunggal dari kedua anakku aku sangat menikmati kehidupan kami bertiga. Bryan selalu memaksaku untuk tidak bekerja. Usiannya baru 23 tahun tapi sangat dewasa. Pagi ini tidak ada yang berbeda. Semua sama, setelah mereka hilang dari pandanganku aku mulai merasakan segala penat, aku merasakan segala sunyi, ini semua memang hanya sesaat, meyakinkan logikaku.

Berbeda sekali saat aku bangun dari ranjangku tadi, aku begitu bersemangat, bukan karena aku sudah melepas seluruh letihku pada malam. Namun saat mengintip pangeranku dan bidadariku terlelap dari balik pintu kamarnya aku seperti ikut beristirahat, tenang, damai, semoga mereka tetap terjaga dan mimpi indah.

Sudah bertahun-tahun aku terbiasa bangun disepertiga malam terakhir, kemudian menuju sumur yang tertata sedikit modern. Membasuh air wudhu pada satu per satu bagian tubuh dengan tertib. Melangkahkan kaki untuk sholat malam dan berdo’a untuk kekuatan putraku dan memohon untuk kebaikan putriku.

“Ya Allah Yang Maha Mengubah dan Meneguhkan, ubah-Lah hati kami lebih beriman kepada-Mu dan teguhkan iman kami. Ya Allah Ya Ghofar untuk segala keburukan yang kami lakukan ampuni-Lah kami. Ya Allah hanya Engkau Yang Maha Mengetahui, anak-anak ku semakin tumbuh dewasa. Aku akan banyak memohon untuk keduannya. Si sulung aku percaya dia tidak akan macam-macam. Berikan kesuksesan untuknya, kekuatan fisik dan hatinya, keikhlasan dan ketabahan, serta penuhi-Lah harinya dengan kebahagiaan.”

“Semoga apa-apa yang Bryan usahakan hari ini menjadi amal ibadah dihadapan-Mu. Bryan masih muda, jalan hidupnya masih panjang, lindungi Bryan Ya Allah. Bryan belum pantas mengemban beban seberat ini, sehatkan ia Ya Allah. Jika Bryan sedang menyimpan rasa pada seorang wanita. Biarkan Bryan mencintainya karena-Mu.” Sekali lagi aku menitihkan air mata.

“Ya Allah, Engkau melihatnya bukan?” Bertanya dengan kesungguhan. “Benar, putri kecilku sudah tumbuh menjadi remaja yang cantik, terimakasih atas anugrah-Mu. Ya Allah aku tidak cukup tahu tentang kehidupnnya sekarang, kecil dia putri yang penurut dan ceria. Aku mengerti banyak beban yang sedang ditanggungnya, angkat-Lah bebannya.”

“Ya Allah lindungi Charissa. Charissaku tumbuh menjadi remaja pendiam, apa mungkin aku yang salah mengajar? Apa mungkin aku yang salah membimbing? Aku kira itu hanya satu hari dua hari, tapi sudah dua tahun ini Charissa lebih senang di dalam kamar. Semakin sibuk  dengan novelnya. Aku takut dia menjadi remaja yang kuper, tapi aku senang Charissa tinggal dirumah. Ceriakan-Lah harinya.”

“Ya Allah rumah ini kehilangan sebagian nyawa tanpa tawa Charissa, kembalikan tawanya Ya Allah. Charissa tidak banyak menuntut memang, tapi dia banyak membantah. Aku sulit mendekatinya, maafkan aku menyerahkan dan menitipkan sebagian tugasku menjaga hatinya pada-Mu. Aku takut salah bicara, aku takut salah mengajar. Ya Allah Yang Maha Mengetahui, mungkinkah ini hanya gejolak hati remaja?”

“Charissa putriku, semoga dia tumbuh menjadi lebih dewasa dan bijaksana atas permasalahannya. Ya Allah isi harinya dengan cinta-Mu. Berikan Charissa teman yang baik”

“Ya Allah bimbing hamba agar mampu membimbing keduanya. Kuatkan hamba agar bisa menguatkan keduanya. Sehatkan hamba agar hamba senantiasa dapat menjaga kesehatan keduannya. Terlebih lagi berikan kedamaian, cinta, dan kebahagian di rumah ini.” Doaku malam tadi. Aku suka berlama-lama memohon pada-Nya, karna aku tahu akan sulit berkomunikasi langsung dengan keduannya.

Pagi semakin dekat seusai sholat malam, memohon banyak, dan sholat shubuh. Aku sibuk didapur. Hati kecilku ingin memberikan keduanya yang terbaik. Bukan hanya menghidangkan lauk yang itu-itu saja. Untung saja mereka tidak banyak menuntut, Bryan dan Charissa sudah cukup dewasa untuk memahami keadaan ini.

Tepat pukul lima pelan-pelanku bangunkan Charissa. Tentu saja lebih sulit membangunkan anak gadis yang banyak bergadang di depan TV, aku tahu dia bergadang sengajaku biarkan agar dia banyak belajar.

“Charissaaaa, banguuun,” ucapku lirih dari luar kamar.

“eeemmmm IYAAA MAAAA, ini udah bangun kok,”dia berteriak

Aku tahu dia berteriak agar aku percaya ditelah bangun. Tiga menit kemudian tidak ada tanda-tanda kebangkitannya. Aku berseru sekali lagi “Charissaaaaaaaa udah jam enam, sayaaaang.” Aku mengecohnya.

“HAAAAHH, iya iya iyaaaaaa.”  Charissa terkejut seketika lari kekamar mandi.

Charissa selalu menurut dibangunkan jika ada kata jam enam. Seusai Charissa mandi aku membangunkan pahlawan mudaku. Tapi selalu saja Bryan yang lebih dulu siap. Charissa selalu saja membuat pagi menjadi riweh. Dia tidak pernah bisa menyiapakan keperluaanya malam hari. Semakin sering aku memintanya menyiapkan segala keperluannya malam hari semakin panjang daftarnya tidak patuh. Selalu paling heboh, menggegerkan seluruh isi rumah. Ini bagian yang paling menyenangkan bagiku. Berbicara banyak padanya. Seusai sarapan semuanya hilang, seketika lenyap, seiring kepergian mereka sesaat. Rumah ini kembali kehilangan energinya. Aku beristirahat sebentar dan tertawa kecil melihat dan merenung si Bungsu semakin hari semakin tumbuh.

Setelah ini banyak yang harus kuselesaikan. Pertama-tama aku memutuskan untuk mencuci bajuku, baju Bryan dan seragam Charissa, Charissa memang mencuci sendiri bajunya tapi tidak seragamnya. Setelah selesai, aku membersihkan diri. Kemudian aku berniat mengubah seluruh posisi barang-barang di rumah. Bryan selalu senang dan memuji jika aku mengubah posisi furniture. “Mama aku suka suasana baru ini, lebih segar,” katanya.

Berbeda dengan Charissa yang selalu ngomel “Aduuh, mama, kenapa dipindah siy? Jadi bingung, barang-barangku pindah semuanyakan, mama deeh.” Gerutunya, tapi aku percaya sebenarnya dia menyukainnya. Hanya dia menyesali barangnya sulit ia temukan. Charissa sangat tidak suka aku memindahkan barang-barangnya. Dia pernah keceplosan “Aku tuh malas, kalau harus tanya-tanya seputar letak barangku sendiri ke mama.” Tanpa sadarnya. Dia sudah terlalu banyak diam selama ini, tidak salahkan aku memancingnya?!

Melelahkan memang. Mengeluarkan isi furniture, mendorong, mengangkat, menggeser, menarik, mencarikan posisi baru, memasukan seluruh isi barang ketempatnya lagi. Suaranya berdecit-decit, selain terikan Charissa dan senandung Bryan aku suka suara ini. Kemudian membersihakan, menyapu, mengepel seluruh isi rumah. Aku harap mereka suka posisi baru ini. Istirahat sebentar dan menunggu Charissa. Tak terasa waktunya sudah semakin sempit, Charissa akan segera pulang aku bahkan belum sempat sarapan, aku memang sering lupa sarapan. Aku akan menunggunya sebentar dan menemaninya makan siang walau dibeda ruang. Tapi aku bahagia dia selalu makan tepat waktu.

Sesampainya Charissa dirumah aku mengajaknya sholat berjamaah. Charissa tidak menolak. Dia berganti pakaian, wudhu, dan bergegas mengambil posisi dikananku. Ibadah ini tidak panjang aku tahu benar dia lelah. Charissa mengambil nasi, selesai makan kembali mengurung diri di kamar berkutat dengan buku bacaan, ponselnya juga jarang disentuh aku khawatir dia tidak punya teman tapi tidak bertanya banyak. Aku kembali nenunggu sampai waktunya tiba Charissa keluar dari istananya dan Bryan kembali ke istananya. (Berlina Hidayati)