Oleh: Hanif Dwi Pandoyo

 

Ada sebuah kisah yang tidak akan ada habisnya diceritakan: cinta. Pertemuan dengan cinta tidak bisa tidak adalah sebuah gairah yang tiada tara. Cinta melahirkan makna unik bagi setiap pencinta.

 

 

KOS Amanah siang pertengahan September lalu nampak sepi. Padahal, banyak motor berjajar rapi di parkiran. Di salah satu kamar, saya menemukan sebuah keramaian. Saya mengabaikan keramaian itu dan bertemu Muhammad Probo Kusumo, mahasiswa jurusan Teknik Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS). Ia sedang bersantai sembari menunggu mentari tenggelam.

 

Adzan ashar mulai bersahutan saat Probo, sapaan akrab pemuda 21 tahun itu mengisahkan asmaranya. Dua kali ia pernah menjalin hubungan dengan perempuan. “Saya pernah dua kali pacaran, saat  akhir kelas tiga SMP dan saat SMA.” Tuturnya. Namun, kisah cinta ini harus menemui ajalnya setelah satu dan tiga tahun berlangsung.

 

Konon, kata mahasiswa asli Sumatera ini, salah satu sebab hubungan asmaranya tidak bertahan lama adalah timbulnya jarak diantara pasangan setelah keduanya memilih tempat study yang berbeda.  “Setelah kami lulus, sekolah kami berbeda. Dia memilih sekolah di tempat yang jauh sedangkan aku memilih sekolah yang lebih dekat.”  Jelas Probo. Cerita berlanjut ke kegagalan berkomunikasi akibat jarak yang memisahkan hingga akhirnya hubungan Probo kandas di tengah jalan.

 

Setelah berpisah, Probo yang saat ditemui memakai kaos berwarna hitam dan jeans biru ini masih belum mendapatkan pengganti mantan pujaan hati. “Kalau nyari sih iya, cuman masih belum nemuin yang pas dan nggak mau terburu-buru. Yang terpenting pengen lulus kuliah dulu,” jelas Probo.

 

Dengan duduk santai di atas kasur, dia mulai bertutur bahwa baginya cinta adalah suatu hal yang tidak bisa di ungkapkan dengan kata dimulai dari mata lalu ke hati. Dari hati inilah perasaan cinta itu mulai tumbuh hingga selanjutnya tumbuhlah rasa lain untuk memiliki orang yang dicinta. Berpacaran adalah fase penjajalan untuk memiliki apa yang dicinta tersebut.

 

Probo mengatakan saat ini sedang menikmati masa kesendiriannya tanpa kekasih untuk mengembangkan diri. Ia ikut aktif dalam berbagai organisasi di kampus serta aktif memperluas jaringan pertemanan. Karena saat sedang pacaran dahulu, hubungan pertemanannya menjadi sedikit renggang.

 

Ditanya soal rundungan atau bully jomblo yang kadang disasar padanya, dia mengaku sedikit terganggu. “Yang paling nggak aku suka sih saat yang jomblo itu ada banyak orang, tapi yang diejek cuman aku,” jelas Probo.

 

Kisah berbeda dituturkan oleh Furqon Mubarok. Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) asli Boyolali ini mengaku belum pernah merasakan pacaran. Furqon enggan pacaran karena baginya pacaran hanya membuang waktu saja. Dia lebih memilih membantu pekerjaan orang tua di rumah. “Mending ngewangi bapakku gawe roti neng ngumah dari pada pacaran (Lebih baik membantu bapakku membuat roti di rumah daripada pacaran).” Tuturnya dalam logat Jawa yang kental.  Tugas-tugas perkuliahan yang menuntut konsentrasi pun tidak dapat dia abaikan.

 

Ditanya tentang hubungan statusnya saat ini jomblo, dia malah merasa bangga. “Nggak perlu malu, jadi jomblo ya banggalah,” ungkap Furqon. Menurutnya, bagi seorang lelaki, kerja keras itu lebih penting daripada menjalani pacaran.

 

Di sisi lain, pacaran menjadi salah satu doping untuk meningkatkan proses belajar. Adalah Yashinta Kurniati, mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Sebelas Maret yang membagi ceritanya soal hubungan pacaran. Mahasiswa yang akrab di panggil Yesi ini menjelaskan bahwa pacar bisa menjadi seperti teman curhat, kakak yang sering mengingatkan kalau ada salah dan bisa juga sebagai problem solver saat sedang menghadapi kebingungan.

 

Enam tahun lamanya dia menjalani pacaran, berawal dari cinta monyet biasa yang berlanjut hingga hubungan asmara yang serius. Kenyamanan yang diberikan oleh sang kekasih menjadi salah satu hal yang membuat hubungan mereka berjalan baik hingga sekarang. Selain itu, Yesi menambahkan, bagi dirinya hubungan langgeng atau tidak itu tergantung dari bagaimana keduanya mempertahankan hubungan.

 

Hubungan asmaranya pun tidak luput dari onak-duri. “Kadang saat marahan, jadi males melakukan sesuatu,  kadang juga sering muncul pikiran negatif dengan temannya pacar,” jelas wanita kelahiran Ngawi ini.

 

Pengalaman Probo, Furqon, dan Yesi memperlihatkan bahwa bagaimana pun, cinta menjadi kebutuhan yang tidak bisa diabaikan, meski pemenuhannya melalui cara yang berbeda-beda. Menurut hierarki kebutuhan Maslow yang menyerupai bentuk piramida, ada lima tingkatan kebutuhan manusia yang tersusun secara berurutan dari paling dasar hingga paling atas: kebutuhan fisiologis, rasa aman, rasa cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri.

 

Melati Putri Pertiwi, dosen Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) menjelaskan bahwa kebutuhan ini harus dipenuhi langkah demi langkah secara berurutan. “Saat satu tingkat kebutuhan di bawahnya tidak terpenuhi, maka tingkat kebutuhan di atasnya tidak akan tercapai.” Jelas Melati saat ditemui akhir September lalu.

 

Maka, rasa cinta yang timbul dari seseorang ke orang lain pada dasarnya adalah sebuah kebutuhan yang wajar. Melati juga mengungkapkan, ketertarikan remaja pada lawan jenis merupakan salah satu indikator yang menunjukkan apakah individu remaja tersebut bersikap normal.

 

Konstruksi Masyarakat

 

Istilah jomblo dan pacaran terlahir dari kontruksi masyarakat. “Ada banyak istilah untuk menyebut jomblo dan pacaran, tetapi yang jelas kedua hal tersebut terlahir dari adanya fenomena bahasa dalam kontruksi masyarakat,” jelas Melati. Penyebutannya akan berbeda tergantung bagaimana kontruksi masyarakat tersebut memandang istilah keduanya.

 

Hina tidaknya istilah jomblo dan pacaran dapat terlihat dari bagaimana kontruksi masyarakat memandang hal tersebut. Akan menjadi hina sebutan jomblo, saat kontruksi masyarakat lebih menganggap untung pacaran. Begitu juga sebaliknya.

 

Kembali ke tinjauan teori hierarki kebutuhan Maslow, Melati menambahkan kebutuhan cinta yang dimaksud Maslow bukan hanya sebats cinta lawan jenis. Kebutuhan cinta itu bisa diapresiasikan pada objek cinta lain. Ada cinta terhadap Tuhan (Agape), cinta seorang ibu terhadap anaknya dan cinta pada objek yang lainnya.

 

Seseorang yang berpacaran akan mengarahkan cintanya pada lawan jenis, sedangkan seorang jomblo akan mengarahkan cintanya pada objek lain seperti kepada Tuhan , orang tua atau kepada bidang yang sedang diminati. Secara otomatis, tingkat kebutuhan akan cinta terpenuhi sehingga tingkat kebutuhannya akan naik ke tingkatan selanjutnya.

 

Sebagaimana telah terurai sebelumnya, lingkungan sangat berpengaruh pada pembentukan pandangan terhadap pacaran atau jomblo. Ini pula yang menentukan keputusan seseorang untuk berpacaran atau tidak. Nah, pada masyarakat yang juga telah memperoleh sebutan sebagai netizen sekarang ini, lingkungan tak hanya berkisar pada yang nyata. Lingkungan maya yang tidak dibatasi oleh keadaan geografis, agama, dan lain-lain bisa dikatakan lebih berpengaruh besar. Apa lagi pada generasi muda hari ini.

 

Konstruksi pacaran dan jomblo tidak mungkin hanya ditentukan oleh pandangan-pandangan dari lingkungan sosial yang nyata. Keakraban dengan gawai dan internet semakin membukakan pikiran mereka pada sedikit saja perubahan pandangan atau gagasan yang terjadi (bahkan) di dunia. Gagasan pacaran dan jomblo adalah satu hal saja. Melati beranggapan bahwa media akan berpengaruh pada kognisi individu, kontruksi masyarakat terbentuk dari kognisi individu tersebut dan arahnya akan terus berputar. Keduanya saling bertautan untuk membentuk gagasan pacaran dan jomblo dalam diri seseorang.

 

Pilihan. Jomblo tidak selalu menjadi hal yang memalukan. (Foto: Fajar Andi/LPM Kentingan)

Pilihan. Jomblo tidak selalu menjadi hal yang memalukan. (Foto: Fajar Andi/LPM Kentingan)

 

Kepribadian

 

Secara Psikologis, sikap seseorang ditentukan oleh kognisi yang terbentuk dari pola pikir individu tersebut. Melati menjelaskan, kepribadian sangat berpengaruh pada sikap seseorang dalam menentukan pilihan hidupnya.“Konsep jomblo dan pacaran itu dibuat oleh masyarakat, terbentuknya pola pikir yang berkembang dalam masyarakat akan melahirkan  kontruksi masyarakat,” jelas Melati.

 

Pengaruh lain seperti self esteem ( harga diri ) pada seorang individu yang dapat label jomblo. Jika seseorang tidak terpengaruh oleh kontruksi jomblo yang dilabelkan dalam dirinya, maka self esteem orang tersebut akan cenderung baik. Berbeda sekali dengan orang yang mudah terpengaruh dengan kontruksi masyarakat, self esteem orang tersebut akan cenderung menurun.

 

Aspek lain dalam kepribadian adalah self monitoring. Seseorang yang mempunyai high self monitoring, mudah sekali terpengaruh kondisi lingkungan sosialnya. Melati menjelaskan saat masyarakat menghendaki bahwa pacaran merupakan suatu hal yang harus dilakukan, maka saat itu juga akan berusaha mencari pacar. Jika hal itu tidak terpenuhi berarti dia akan menjomblo, dan akan membuatnya merasa tidak nyaman dengan kondisi seperti itu.

 

Keadaan akan berbeda jika yang mengalaminya adalah seorang yang memiliki low self monitoring. Dalam situasi semacam itu dia akan terkesan mengabaikan orang lain manakala ada orang yang melabelinya dengan istilah jomblo. Dalam kognisinya sudah tertanam ideologi yang kuat. Penilaian masyarakat tidak berpengaruh terhadap self monitoring orang tersebut.

 

Dosen yang bertempat tinggal di Solo Baru ini menerangkan, menurut Albert Bandura, seorang psikolog sosial ada tiga aspek dalam belajar sosial  yakni lingkungan, kognisi (pola pikir), dan perilaku. Ketiga aspek tersebut diibaratkan membentuk sebuah lingkaran yang saling berputar. Dari sini akan timbul tanggapan dan perilaku yang berbeda setiap  individu yang mendapatkan sebutan jomblo ini.

 

Seni Mencinta

 

Froom dalam buku The Art of Loving (2005) menjelaskan bahwa cinta adalah sikap, suatu orientasi watak yang menentukan hubungan pribadi dengan dunia keseluruhan. Kebanyakan orang beranggapan bahwa cinta adalah tentang objek. Padahal hal tersebut merupakan kekeliruan sebab banyak yang tidak melihat bahwa cinta adalah suatu aktivitas  suatu kekuatan jiwa, kebanyakan beranggpan cinta hanya mencari objek yang tepat dan setelah itu berjalan sesuai dengan sendirinya. Perumpamaannya seperti orang yang melukis tetapi dia hanya menunggu objek yang tepat. Baginya lukisan yang indah itu saat menemukan objek yang tepat, bukan mempelajari seni lukis itu.

 

Froom menambahkan, cinta merupakan suatu bagian dari seni. Maka untuk mempraktikkannya diperlukan suatu latihan tentang pelajaran seni mencintai. Berlatih seni membutuhkan tuntutan tertentu, termasuk seni mencintai. Hal pertama dalam berlatih seni adalah disiplin, selanjutnya diperlukan konsentrasi dan kesabaran serta syarat terakhir untuk mempelajari seni apa pun adalah perhatian yang tinggi.

 

Akhirnya, pacaran atau jomblo tak cuma sebatas usaha memperoleh pelampiasan hasrat memiliki pasangan. Ada banyak hal yang melingkupi keduanya: konstruksi masyarakat, kepribadian, juga seni dalam mencinta. Tetapi yang paling penting tentu keteguhan untuk berkeputusan: mau menjomblo, atau berpacaran?[]