KEPADA dua muda-mudi yang tengah menggelisahi sastra, di tengah gejolak batin kalian yang kurasai benar melalui pembacaan luguku terhadap tulisan kalian yang dimuat saluransebelas.com, laman milik pers mahasiswa (persma) yang belakangan ini kelimpungan sebab para awaknya tak banyak menaruh keprihatinan pada keperluan terisinya laman mereka dengan tulisan-tulisan. Ijinkan aku menyela.

 

Terkait pemuatan tulisan kedua dara manis yang kusebut di awal, kumaknai sebagai upaya untuk menyentil naluri para awak persma. Kendati hanya merujuk pada praduga, entah mengapa diri ini yakin betul bahwa pembacaan terhadap tulisan Faith dan Ririn menimbulkan pikiran dan hati kawan-kawan persma Kentingan sekalian koyak.  Daku  yakin, kawan-kawan Kentingan menaruh niat untuk turut berkata-kata di saluransebelas.com, dan bahwa niatan tersebut segera lenyap tersebab berbagai bayangan ngeri terkait kepenulisan di Kentingan. Termasuk silih bergantinya kelebatan wajah-wajah mereka yang lebih dulu berani menapaki jalan ngeri itu. Ah, daku malah jadi sesumbar!

 

Oiya, tulisan  Faith dan Ririn membawa ingatanku berpulang kepada percakapan dengan dua kawan perempuanku tempo hari. Polemik bersastra di Subrubrik Mimbar Mahasiswa Solopos secara kuantitas diungguli tulisan-tulisan bernada pembelaan terhadap sastra. Celakanya tulisan-tulisan tersebut sama-sama ditulis awak persma Kentingan. Oleh karena itu, wajar sahaja kalau kemudian Faith ini melabeli Kentingan sebagai persma yang awak-awaknya sibuk mojok dengan sastra dan celakanya abai terhadap keberfungsian sastra yang lain. Sastra sebagai bumbu aksi massa seperti yang kerap dilakukan Faith dan kawan-kawan aktivis yang dimuliakan Tuhan.

 

Sastra dibela habis-habisan, menampik tulisan lain. Sekalinya muncul di halaman koran kota (menyitir sebutan Faith dalam Nikmat Sastra Mana Lagi yang Kamu Dustakan?), Joko Priyono, mahasiswa eksakta Jurusan Fisika itu bahkan harus menuai dua tulisan sekaligus sebagai balasan. Sudah dituduh berprasangka buruk terhadap sastra, masih pula dicurigai fakir asmara (Solopos edisi 20 dan 27 Desember 2016). Pengakuan Joko Priyono sebagai fakir sastra tak mendapat pemakluman dari kawan-kawan pembela sastra garis kiri itu. Pembacaan terhadap sastra malah jadi mirip pemaksaan, tentu ini seturut pembacaanku yang lugu dan kerapkali wagu ini.

 

Para pembela sastra garis kiri itu berhasil mensyiarkan data-data sahih tentang hal-hal baik berkat pembacaan terhadap sastra, termasuk menjejer nama-nama tokoh dunia yang ternyata bersastra dalam kehidupannya. Sayangnya, para pemebla sastra itu abai terhadap keberagaman kehidupan dan perasaan para pembaca non-sastra. Ini yang daku sesalkan. Entah mengapa, diri yang lugu ini muak terhadap pendewaan demi pendewaan terhadap pandangan tertentu yang berbuntut pada pengebirian terhadap pandangan lain. Bahkan daku yakin, kata-kataku bagian ini akan dengan cepat memedaskan mata kawan-kawan sekalian. Mirip semburan harga cabai akhir-akhir ini. Daku yang sedang sok plural ini patut dicurigai tak mafhum pada kemelut pemikiran yang memang sebaiknya terus-menerus saling memburu dan memungkiri satu sama lain. Demi kehidupan yang lebih beradab dan tumpah-ruah akan pemikiran-pemikiran kritis. Iya, kan?

 

 

Jalan Lain Bersastra

 Percakapan dan lebih luas lagi kehidupanku dengan kedua kawan perempuan yang kebetulan mengimani sastra membuahkan hasil yang kira-kira sesuai penceriteraanku pada kalimat-kalimat berikut. Pembacaan puisi-puisi yang ditulis oleh beragam penyair ternyata menimbulkan permufakatan di antara kami bertiga: masing-masing penyair memiliki puisinya sendiri. Oleh karena itu, daku merasa tak layak bila diharuskan membuat studi perbandingan jika hanya berbuah pada penilaian puisi karya penyair mana yang lebih baik.

 

Puisi memiliki mata pisaunya sendiri-sendiri. Puisi Wiji Thukul yang disebut-sebut dalam tulisan Faith dan Ririn tentu tak bisa disandingkan dengan puisi Joko Pinurbo (Jokpin) bila sekadar hendak membuat penilaian puisi mana yang lebih baik. Puisi Jokpin tentu saja tak memiliki dampak semasif puisi-puisi Wiji Thukul dalam mempengaruhi tata kehidupan sosial kemasyarakatan. Sementara seturut pembacaanku yang papa, puisi-puisi Jokpin menimbulkan daku kembali mempertanyakan sikapku selama ini dalam memaknai hal-hal agamis. Kedua penyair ini selain hidup di jaman berlainan, juga menapaki jalan kepenyairan lain melalui puisinya. Keberagaman puisi itulah kiranya yang menelusup dalam benak untuk menyikapi kehidupan. Daku pribadi jadi menuhankan keberagaman.

 

Perempuan pertama, -dalam obrolan yang kusebutkan tadi- menjadi sosok yang kurasa paling teteg dalam memaknai keberagaman. Selain cenderung menahan diri untuk bertingkah, kiranya ia juga menahan diri untuk menuliskan pandangannya terhadap hal-hal yang penuh polemik. Termasuk polemik bersastra yang gaungnya masih santer hingga kini. Daku yakin sekali ia punya pandangan lain menyikapi pembelaan-pembelaan yang dituai sastra, dan berhasil meredam gejolaknya dalam kesunyian. Sementara daku dan perempuan ketiga lebih radikal. Kendati tak gamblang menyatakan, berdua kami menyesalkan pembelaan-pembelaan kaum pembaca sastra garis kiri dan menyepakati untuk maklum pada pribadi-pribadi eksakta macam Joko Priyono yang sudah rela berpeluh pikiran demi menuliskan pandangannya ihwal sastra, ditambah rela mengakui dirinya fakir sastra. Ini bukan kode supaya Joko Priyono membalas kebaikan kami berdua hlo ya!

 

Doa kami, pribadi-ribadi eksakta macam Joko Priyono ini akan kian mantap menggauli bidang keilmuannya tanpa khawatir dicemooh bila tak sempat baca sastra. Meminjam perkataan Enzensberger dalam sebuah wawancara bertahun 1970 yang dituliskan dalam pengantar Berthold Damshauser dalam kumpulan puisi Hans Magnus Enzensberger bertajuk Coret yang Tidak Perlu (2009): “Sastra bukan hal yang terpenting bagi saya. Ia tak pernah menjadi yang terpenting dalam hidupku dan mudah-mudahan itu takkan berubah.” Pembaca non-sastra atau yang hanya sesekali membaca sastra sebagai upaya rehat dari kehidupan yang menjemukan boleh hlo mengamini perkataan penyair kontemporer Jerman ini.

 

Faith dan Ririn, daku bukan golongan aktivis pembela rakyat yang penuh cita-cita mulia, juga bukan golongan awak persma yang berada di jalan lurus dalam menjalankan agama jurnalisme. Daku cuma gadis fakir sastra dan tak pernah ikut aksi massa. Penggalan-penggalan puisi yang pernah kubaca mengantarkan daku menapaki jalan yang sama sekali berlainan dengan kalian berdua. Jalan tepian yang lebih kerap sepi. Seperti lantunan lagu yang kebubarannya menimbulkan kelu berminggu-minggu dalam kehidupan perkawananku dengan kedua perempuan tadi. “…dan hal-hal yang tak kita bicarakan. Biar jadi rahasia, menyublim ke udara biru”

 

Penggalan-penggalan puisi yang sudah terbaca menghujam jauh, melesat sampai inti diri. Mencuat sebagai gelisah-gelisah dalam menapaki setapak kehidupan. Persenggamaan dengan puisi dan terutama rengkuhan tangan sebuah komunitas sastra di Solo membawa daku pada pengembaraan lain. Daku misalnya lebih masyuk memberangkatkan diri untuk belajar menulis dan membaca puisi bersama anak-anak untuk keperluan penampilan mereka di Festival Hujan yang dihelat di Kartasura beberapa waktu lalu. Sastra membawaku masyuk menapaki kehidupan ragam rupa: perkawanan lintas agama, lintas pemikiran, pun lintas usia yang kesemuanya tak menggebu-gebu. Buntutnya, kini daku sendiri curiga kalau-kalau sudah jadi ekstremis jenis lain. Ekstremis yang mendewakan pluralisme yang tak bersekat dan senantiasa bersahaja. []

 


Rizka Nur Laily Muallifa

Anggota diskusi kecil. Senang bertualang dengan damai dan berkawan dengan tumbuh-tumbuhan.