Vera, aktivis '98, memaparkan pengalamannya terlibat dalam peristiwa Mei '98.

Vera, aktivis ’98, memaparkan pengalamannya terlibat dalam peristiwa Mei ’98.

“Negeri ini dibangun di atas genangan darah,” demikian ujar Vera Kartika Giantari, salah seorang aktivis ‘98. Kalimat tersebut diutarakan tatkala ia menjadi pembicara dalam diskusi film Oeke. Diskusi film telah diselenggarakan pada Selasa, 13 Mei 2014, pukul 13.00 – 16.00 di Public Space 3 FISIP UNS. Agenda kolaborasi Jejer Wadon dan Himasos FISIP UNS tersebut turut mendatangkan putra-putri Wiji Thukul, yakni Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah. Joko Narimo selaku editor film Oeke menjadi pembicara kedua menggantikan Anna Subekti yang kebetulan berhalangan hadir. Diskusi film merupakan bagian dari rangkaian agenda Merawat Ingatan Mei yang dimaksudkan untuk merefleksi sejarah kelam bangsa ini.

Mei 1998 menjadi puncak ketidakpuasan rakyat kepada pemerintah. Banyak aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa di berbagai daerah, semuanya menuntut satu hal, Soeharto turun. Heroisme mahasiswa saat itu lantas dikenang sebagai kekuatan di luar kekuasaan. Perjuangan tersebut kemudian mengabadi, sekaligus diperindah dengan sebutan khusus bagi mereka, yakni “angkatan ’98”. Kendati demikian, peristiwa Mei 1998 menyisakan secercah pilu, terkhusus bagi etnis Tionghoa saat itu. Oeke, tokoh dalam film yang didiskusikan, melukiskan jerih payah pengusaha Tionghoa, serta diskriminasi terhadapnya. Oeke terpaksa memulai bisnis dari nol dikarenakan tempat usahanya dibakar dan dijarah oleh massa yang rusuh saat itu.

Tionghoa pada masa kolonial berada di kasta kedua, di bawah pemerintah kolonial Belanda dan lebih tinggi dari pribumi. Seakan dibentuk suatu jarak antara etnis Tionghoa dan pribumi. Belum lagi di masa pasca-kemerdekaan, Tionghoa diidentikkan dengan komunisme. Faktual, sentimen anti-Tionghoa pun mengakar dalam benak pribumi. Hanya saja, sentimen tersebut baru dimanifestasikan pada Mei 1998, dan Tionghoa menjadi korban. Banyak Tionghoa yang akhirnya harus pergi meninggalkan Indonesia, banyak pula yang terluka, bahkan sampai ada yang kehilangan nyawa. Oeke sedikit lebih beruntung lantaran mampu bertahan hidup di tengah kondisi krisis yang melanda negeri ini.

Produksi roti Ganep’s (produk usaha Oeke) sempat terhenti lantaran krisis tahun 1998. Namun tak lama setelah lengsernya Soeharto, Oeke kembali memulai bisnisnya. Cukup sulit bagi orang Tionghoa mendapat kepercayaan dari pribumi setelah peristiwa tersebut. Bekas-bekas sentimen masih melekat di benak pribumi. Itulah alasan keraguan Oeke memakai nama Ganep’s yang memang sudah dikenal milik Tionghoa. Akhirnya ia memproduksi roti “tanpa nama” untuk sementara.

Oeke menjembatani masyarakat sekarang untuk melihat noktah pada garis sejarah Indonesia. Sejarah dinodai oleh darah yang menetes dari luka tembak di tubuh para mahasiswa. Sejarah dinodai oleh air mata yang mengalir di pipi etnis Tionghoa. Sejarah takkan menampakkan diri, kecuali dikonstruksi oleh penguasa negeri. Sejarah menyisakan perih, luka kehilangan di benak Fajar Merah dan Fitri Nganthi Wani. Bersama luka, Fitri menutup diskusi dengan lantunan puisi-puisi karya Wiji Thukul diiringi petikan gitar Fajar. (Udji)