Judul: Sebelas Menit

Judul Asli: Eleven Minutes

Penulis: Paulo Ceolho

Tahun Terbit: 2003

Jumlah Halaman: 357

 

 

 

Kalau menghitung waktu yang dibutuhkan untuk membuka pakaian, menunjukkan sikap pura-pura manis atau sayang, mengobrol sedikit tentang hal-hal tidak penting, lalu berpakaian kembali, waktu yang dibutuhkan untuk berhubungan intim sebenarnya hanya sekitar sebelas menit. (hlm. 115)

 

Sepak terjang pelacur dalam peradaban disebut secara terang-terangan di dalam beberapa naskah klasik, pada aksara hieroglif di Mesir, pada tulisan-tulisan kuno dari peradaban Sumeria, juga di Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian baru. Tapi profesi itu baru terorganisir pada abad keenam SM, ketika seorang senator Yunani bernama Solon berinisiatif mendirikan rumah bordil yang dikelola oleh negara, dan mulai menarik pajak dari transaksi haram itu. Di pihak lain, peringkat para pelacur ditetapkan menurut besar-kecilnya pajak yang mereka bayar kepada negara. Pelacur kelas bawah disebut pornai-mereka adalah kepunyaan pemilik bordil, budak yang berasal dari kaum barbar. Peringkat yang lebih tinggi diduduki peripatetica, penjaja cinta yang bebas memikat lelaki di jalanan. Terakhir dan tentu saja yang paling mahal, adalah hetaera atau perempuan yang menemani perjalanan pedagang atau pengusaha, makan di restoran mahal, bebas mengatur keuangannya sendiri, banyak memberi saran dan ikut andil dalam perpolitikan.

 

Pada tanggal 29 Mei 2002, ketika Paulo Coelho berkunjung ke Grotto di Lourdes, Prancis, untuk mengisi beberapa botol air suci di mata air di sana, ia bertemu seorang laki-laki berusia tujuh puluhan tahun yang mengatakan padanya bahwa buku-bukunya memberikan arti penting bagi hidupnya dan membuat pria itu berani bermimpi. Paulo Coelho lalu menulis pada kata pengantar, bahwa perkataan pria tua itu membuatnya sangat cemas, sebab ia tahu bahwa Sebelas Menit, novel barunya, bercerita tentang topik yang keras, sulit, dan mengejutkan. Tentang kepelacuran yang sarat akan bahaya, tapi membawa tokohnya pada pengalaman diri yang tidak bisa didapatkan dari tempat lain.

 

Seperti semua pelacur, dia lahir sebagai perempuan lugu, dan perawan; ketika beranjak remaja, dia berkhayal bertemu sang pria idaman (kaya, tampan, cerdas), menikah (mengenakan gaun pengantin, tentunya), mempunyai dua anak (yang setelah dewasa menjadi orang terkenal), dan tinggal di rumah yang indah (dengan pemandangan ke laut). Suatu hari, ketika ia meninggalkan Brazil untuk berlibur di Pantai Copacabana, Portugis, uang sebesar lima ratus dolar, surat ijin kerja, dan pakaian seksi membuatnya berkunjung ke dunia kepelacuran, dan dalam waktu singkat ia menjadi perempuan kesayangan si pemilik kelab. Ia bertemu dengan berbagai macam pria, bahkan baru dua bulan bekerja di sana, Maria sudah beberapa kali diajak menikah oleh direktur sebuah biro keuangan, pilot, pemilik toko, dan beberapa eksekutif muda.

 

“Aku ingin selalu berteman dengan nafsu. Bukan karena sebuah kewajiban atau pelarian untuk menepis kesunyian hatiku, namun karena nafsu memang indah. Sangat indah,” tulis Maria dalam buku hariannya ketika masih melacur. (hlm. 218)

 

Paulo Ceolho ialah novelis Brasil merupakan salah satu penulis dengan karya yang paling banyak dibaca di dunia saat ini. Sang Alkemis, novelnya yang paling terkenal, telah diterjemahkan ke dalam 67 bahasa dan telah terjual 150 juta kopi di seluruh dunia. Setelah kesuksesan novel Sang Alkemis bukan berarti Coelho berpuas diri. Coelho merupakan seorang penulis produktif yang hampir setiap tahun selalu mengeluarkan karya terbaru—baik itu berupa novel asli, novel adaptasi, kumpulan cerita pendek, maupun kumpulan artikel.

 

Sejak karyanya Sang Alkemis, tulisan Coelho terkesan simbolik yang padat akan bahasa-bahasa metafora. Setiap kata-katanya mengalir dalam kesederhanaan yang indah dan tenang. Kesederhanaan itu ada hubungannya dengan sumber-sumber bacaannya seperti The Little Prince karya Saint-Exupéry, The Old Man and the Sea karya Ernest Hemingway, Tale of Two Dreamers karya Jorge Luis Borges dan buku-buku tentang Ketuhanan yang kerap menjadi nyawa dalam karya-karya Ceolho.

 

Buku-buku Coelho tampaknya mengikuti narasi bildungsroman (Jerman: [ˈbɪldʊŋs.ʁoˌmaːn]), yakni genre sastra yang menitikberatkan tema pendidikan manusia serta proses perjalanan pribadi tokoh-tokohnya dari awal pertumbuhannya menuju kedewasaan. Bildungsroman juga dikenal sebagai sastra dengan tema peralihan masa muda menuju kedewasaan yang sering diamati dalam sosiologi sebagai keberanjakan dewasa (coming of age). Dimana Maria, sang protagonis harus menjalani siklus kejadian malang sebelum realisasi diri dan pemenuhan spiritual tercapai.

 

Dan Ceolho, dengan waktu yang amat panjang, juga melakukan penelitian sendiri tentang sejarah pelacuran. Melalui Ralf Hart, seorang pelukis muda terkenal yang dikasihi oleh Maria, Ceolho mengangkat kembali sejarah prostitusi pada abad pertengahan. Selain versi sejarah kepelacuran Yunani, nampaknya ia menginsinuasi orang-orang yang enggan menengok pada versi sejarah seks yang sakral. Dimana Babilonia mempunyai tradisi aneh, yang mengharuskan semua perempuan kelahiran Sumeria untuk – paling tidak sekali dalam kehidupan mereka – pergi ke kuil Dewi Ishtar dan menyerahkan tubuhnya ke pelukan orang asing, sebagai lambang keramah-tamahan, dan mereka juga diupah secara simbolis. Pengaruh Dewi Ishtar di kawasan Timur Tengah sampai mencapai Sardinia, Sisilia, bahkan beberapa bandar di Laut Tengah. Kemudian, semasa kekaisaran Romawi, muncul dewi lain, Vesta, yang meminta persembahan berupa keperawanan atau pengorbanan total demi menjaga nyala api suci di kuilnya.

 

Tak perlu diperdebatkan bahwa hit pertama Coelho, Sang Alkemis (1988), meniupkan aroma yang sama untuk cerita Maria. Santiago, Sang Gembala dalam novel sebelumnya itu bertekad menghidupkan renjana, atau Coelho lebih akrab menyebutnya “Legenda Pribadi” melalui perjalanan eksplorasi diri, seperti halnya Maria. Keduanya mengutuk kegagalan untuk bermimpi dan ketidakmungkinan untuk hidup dalam mimpi orang lain. Kedua karakter itu bahkan menyatukan diri dalam istilah yang hampir identik. Sang gembala, dia harus memilih antara memikirkan dirinya sendiri sebagai korban malang seorang pencuri atau sebagai petualang untuk mencari harta karunnya. Kelak Maria juga dihadapkan pada pilihan untuk menjadi korban dunia atau seorang petualang yang mencari cinta dan kebahagiannya. Tapi sementara Sang Alkemis hampir tidak menyentuh peranan seksual dalam romannya, novel Eleven Minutes bersuka ria dalam fisik cinta dan pencarian diri dalam penderitaan dan seks.

 

Maria bergumul dengan pilihannya untuk melanjutkan profesinya dan menjelajahi sisi gelap dari minat seksualnya atau memilih cintanya, sang pelukis muda. Tetapi dia mendapati dirinya berjalan pada suatu sore dan melihat konsekuensi yang sangat jelas bagi pilihannya. Dia tidak ingin kembali ke Copabana, alasannya bukanlah karena Ralf Hart, Switzerland, atau petualangannya yang belum selesai. Alasan sebenarnya sangat sederhana, yaitu uang.

 

“Uang! Selembar kertas khusus, didekorasi dengan warna-warna muram, yang disetujui semua orang bernilai sesuatu — dan Maria percaya, semua orang percaya — sampai Anda membawa setumpuk kertas itu ke bank, bank Swiss yang terhormat, tradisional, sangat rahasia, dan bertanya: ‘Bisakah saya membeli kembali beberapa jam kehidupan saya yang hilang?’ ‘Maaf, Nona, kami tak berjualan di sini. Kami hanya membeli.’” (hlm. 297)

 

Malam itu, Ralf Hart membacakan sebuah lirik tembang kuno yang disertai terjemahan bahasa Jerman kepada Maria. Perempuan itu pun menangis lirih di pelukan kekasihnya.

 

“Manakala aku duduk di pintu penginapan,

Aku, Ishtar sang dewi,

Akan menjadi seorang sundal, ibu, istri, dan dewi.

Akulah yang mereka sebut kehidupan,

Meski kalian memanggilku kematian.

Akulah yang mereka sebut Tata Aturan,

Meski kalian menyebutku Pembangkangan.

Aku yang kalian cari,

Dan kalian temukan.

Aku yang kalian campakkan

Lalu kalian pungut kembali keping demi keping.” (hlm. 271)

 

 

 

Hesty Safitri
Mahasiswa Teknik Kimia UNS angkatan 2018. Surel: [email protected]