Syukurlah, akhirnya tulisanku di Mimbar Mahasiswa Solopos edisi 28 April lalu ditanggapi oleh Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sebelas Maret (BEM UNS). Pada awalnya aku ragu, apakah esai berjudul Cukup Satu Strategi, Jokowi Pasti Pulang akan ditanggapi oleh BEM UNS atau tidak? Tapi rupanya yang menanggapi malah presidennya langsung, luar biasa!

Aku hargai betul kesediaan Presiden BEM UNS yang rela meluangkan waktunya. Padahal kemarin-kemarin beliau pasti sibuk mengurus posko dan memburu konfirmasi dari Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) ihwal surat yang dititipkan buat Jokowi. Bahkan mereka sampai mewacanakan “penculikan Jokowi” segala. Pokoknya #CulikJokowi! Tapi hebatlah, kalau Presiden BEM UNS mau menulis di media cetak ternama di Kota Solo itu (Solopos, 5 Mei 2015). Beda dengan yang lain, yang memilih jadi pemungut like di Facebook.

*****

Maaf yang terhormat Presiden BEM UNS, bila saya terlalu bersemangat. Mari dimulai saja perbincangan kita ini. Saya mencatat beberapa kritik yang Anda lontarkan. Pertama, soal lagu Mars Mahasiswa yang dianggap melegitimasi demonstrasi. Kedua, soal kebahasaan. Tanpa disangka, rupanya Anda memerhatikan betul perkara tersebut. Di luar itu, saya sebetulnya juga hendak menanyakan beberapa hal. Tapi nanti saja ya.

Sejujurnya saya tidak terlalu suka melagukan Mars Mahasiswa. Bahkan hampir lupa liriknya, semisal bagian yang merindukan kejayaan, meleset jadi yang merindukan kemenangan. Atau yang luput sedikit, seperti di persimpang jalan jadi di persimpangan jalan. Mahasiswa jelata seperti saya memang rentan melupakan hal-hal seperti itu. Saya yakin hanya aktivis mahasiswa yang hafal Mars Mahasiswa berikut makhrajnya.

Soal kebahasaan, bukankah bahasa inheren dengan zaman? Maksud saya, duhai Presiden BEM UNS, bagaimana mungkin ketika “turunkan Jokowi” memekik di sana-sini, “penjemputan” diartikan bukan sebagai pelengseran? Tentu saja saya jadi bingung dengan pernyataan “menjemput Jokowi adalah untuk mendorongnya meniti kejayaan Indonesia,” apalagi dikaitkan dengan sejarah proklamasi Indonesia. Semoga tak sekadar utak-atik gathuk.

Saya yakin, sepenuh keyakinan, kalau BEM UNS cuma ingin dialog, tak mungkin pakai istilah “penjemputan”. Untuk mengutarakan kritik dan tuntutan secara langsung juga tak perlu memberangkatkan 1.000 mahasiswa ke Jakarta buat menjemput Jokowi biar pulang ke Solo. Kalau berangkat ke Jakarta dan berdialog dengan Jokowi di sana, masih bisa dinalar. Tapi kalau harus dijemput dulu ke Solo? Ben piye? Padahal kalau di Solo, mahasiswa pasti kalah, sebab massa PDI-P luar biasa besar. Wani?

Masih soal kebahasaan, sekiranya saya perlu mengaku satu kesalahan. Di tulisan yang pertama, saya menyebut Posko Relawan Penjemputan Jokowi. Setelah saya cek ulang (kebetulan cuma lewat, bukannya mau mendaftar), ternyata di spanduk tertulis Posko Relawan Penjemputan Bapak Jokowi. Maaf atas ketidaktelitian saya. Tapi, dari sini saya justru mempertanyakan pemakaian kata “bapak”.

Dalam buku yang sama dengan yang Anda kutip, duhai Presiden BEM UNS, kata “bapak” sebetulnya bernada kuasa. Saya Sasaki Shiraisi memaparkan secara renyah melalui Pahlawan-Pahlawan Belia: Potret Keluarga Indonesia dalam Politik (2009). Karenanya, saya mengutip Saya, “Anak-anak harus menerima apa yang diberikan oleh ‘bapak’ dengan rasa hormat dan terima kasih.” Dengan memakai kata “bapak”, BEM UNS justru menegaskan relasi bapak-anak antara pemerintah dengan rakyat (termasuk mahasiswa). Yen nakal, dislenthik bapak lho!

Pertanyaan

Apakah BEM UNS sudah mempertimbangkan bagaimana respon masyarakat atau mahasiswa pada umumnya saat pendirian Posko Relawan Penjemputan Bapak Jokowi? Mahasiswa sebagai agent of change mestinya lebih dulu meminta pendapat pihak yang mereka bela. Masalahnya, BEM UNS itu membela segenap masyarakat Indonesia atau hanya membela “siapa” yang mendonasikan dana ke rekening donasi Posko Relawan Penjemputan Bapak Jokowi? Saya mendengar bahwa ada selebaran yang mencoba mengestimasi dana untuk suksesi posko penjemputan tersebut, yang konon mencapai Rp 372.000.000,00. Ada baiknya bila BEM UNS transparan soal pendanaan aksinya, sehingga tak perlu ada selebaran gelap yang lantas dianggap propaganda.

Saya heran sepenuh-penuh heran, apakah ada banyak mahasiswa UNS yang mau berdonasi? Maaf kalau “kelewat jahat” tapi saya pikir yang pasti berdonasi tentu lawan politik Jokowi. Terlebih kalau boleh mengevaluasi aksi-aksi BEM UNS, pertimbangan logis rupanya jadi perkara ke sekian, yang utama adalah sentimen anti-Jokowi. Maka, sungguh saya penasaran sebetulnya “siapa” di belakang BEM UNS? “Siapa” yang bisa membuat BEM UNS jadi anti-Jokowi sementara masyarakat sendiri belum ambil satu suara? Aduh, saya malah tambah kelewat jahat!

Sebetulnya sederhana saja, kalau BEM UNS tidak anti-Jokowi, mestinya mereka menyerang menteri atau DPR yang jelas-jelas menangani langsung ihwal subsidi BBM, harga sembako, blok Mahakam, korupsi, kasus HAM, dan sebagainya. Apa sih yang diharapkan lewat dialog langsung dengan Jokowi. Sudahlah, tunjuk hidung menteri-menteri dan petinggi DPR itu, berani tidak?

Ketika BEM UNS terlalu fokus ke Jokowi, maka DPR posisinya “aman”. Padahal kita semua tahu, presiden, dan petinggi DPR berangkat dari kubu yang berbeda, koalisi yang berlawanan. Mestinya BEM UNS paham dengan segala kemungkinan yang akan terjadi. Ada risiko besar yang menggentayangi, bisa saja kemelut politik di lingkaran kuasa itu semakin menjadi-jadi, dan nasib bangsa ini? Jangan ditanya lagi. Maka, akan sangat nyebelin kalau BEM UNS ternyata malah sengaja menyerang Jokowi semata.

Duhai Presiden BEM UNS, jangan mengira saya menuduh yang bukan-bukan ya. Saya cuma menanyakan perihal yang barangkali juga terngiang di benak mahasiswa lain, atau bahkan masyarakat umum. BEM UNS juga jangan menyalahkan mahasiswa seperti saya kalau pada akhirnya kalian tak mendapat dukungan massa. Setiap BEM UNS menjumpai kegagalan, yang disalahkan selalu kami, selalu dicap apatis (dengan dalih tak mau berkontribusi). Padahal mahasiswa seperti kami butuh pertimbangan, tak bisa langsung ikut-ikutan. Lantas, siapa yang kelewat jahat?

Baiklah, sebagai penutup, terima kasih atas tanggapan Anda terhadap tulisan saya, Presiden BEM UNS. Semoga saja tulisan Anda yang berjudul Seandainya Saya Presiden BEM UNS mampu mewakili suara BEM UNS dalam polemik di Mimbar Mahasiswa Solopos akhir-akhir ini.

*****

Tapi tunggu dulu, kenapa judulnya Seandainya Saya Presiden BEM UNS? Walah, ternyata penulisnya Hanputro Widyono yang sedang berandai-andai jadi Presiden BEM UNS! Aku sampai mengira betul-betul berdebat dengan mahasiswa nomor satu di UNS itu. Maklum, Hanputro semasa SMA pernah bergiat di teater, jadi ya pintar acting!

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Mahasiswa Sosiologi FISIP UNS