Oleh: Udji Kayang Aditya Supriyanto

 

SOSIOLOG Daniel Bell, dalam The End of Ideology (1960), memaparkan perbedaan sarjana dengan intelektual. Bell menulis, “sarjana memiliki suatu bidang pengetahuan terbatas, dengan cara tradisi, dan mencari tempatnya di dalamnya, menambahkan, dengan cara mosaik, ke pengetahuan waktu lampau yang dikumpulkan, diuji. Intelektual mulai dengan pengalamannya, pengamatan-pengamatan individualnya atas dunia, hak-hak khususnya dan kebutuhan-kebutuhannya, dan memberikan pendapat mengenai dunia dengan dayarasa-dayarasa tersebut.”

 

 

Robert Nisbet bahkan membuat pembedaan antara filsuf, sarjana, dan intelektual. Tulisnya, “ciri-ciri seorang filsuf adalah pikiran-pikiran yang mendalam (profoundity), seorang sarjana adalah pikiran-pikiran yang tajam dan total (depth and thouroughness), dan seorang intelektual adalah pikiran-pikiran yang berbakat (brilliance).” Baik gagasan Bell maupun Nisbet, ditampilkan Wiratmo Soekito lewat esai Ketakterlanggaran Batas-Batas Kultural, yang termuat dalam buku Cendekiawan dan Politik (1983).

 

 

Sampai tahun 1980-an, sarjana adalah istilah ampuh. Sebab, sarjana tak sekadar seseorang yang lulus dan diwisuda dari perguruan tinggi. Term sarjana dipertimbangkan sepadan dengan filsuf dan intelektual. Sarjana pun dipakai untuk merujuk para peneliti asing yang melakukan riset di Indonesia. Contoh penggunaaan term “sarjana” sebagai peneliti yang cukup akrab bagi kalangan kita ada dapat dilihat di buku Indonesia dalam Kajian Sarjana Jepang: Perubahan Sosial-Ekonomi Abad XIX-XX dan Berbagai Aspek Nasionalisme Indonesia (1986).

 

 

Aduh, aku lupa, ini rubrik Lha Nggih! Mestinya aku menulis esai ringan, jenaka, dan asal-asalan, bukannya esai serius, keminter, ngintelek, seperti di atas. Ya maklum, aku kan sarjana, mesti membuktikan bahwa diriku fasih memamerkan teori dan dengan lihai mengutak-atiknya di sana-sini. Kamu-kamu yang mahasiswa kan belum ada beban intelektual, sehingga kamu-kamu masih bisa bergincu, ikut beauty class, berfoto selfie, duduk tuma’ninah menyimak seminar pranikah, dan sebagainya.

 

 

Oh iya, jangan lupa mengikuti Sekolah Penerus Bangsa yang kemarin dibuka di Markas Komando Resor Militer (Makorem) 074 Surakarta. Di sana, kamu-kamu bisa belajar hal-ihwal kebangsaan secara klise dan picisan lho, tanpa perlu menyentuh teks-teks penting Benedict Anderson, Will Kymlicka, Thomas Humphrey Marshall, Giorgio Agamben, apalagi Karl Marx. Masa kamu-kamu mau belajar hal-ihwal kebangsaan dari komunis? Ya dimarahi para tentara temannya ndoro-ndoro BEM itu dong!

 

 

Eh, mbelok meneh to. Ya beginilah repotnya menulis Lha Nggih. Kalau tak benar-benar fokus, konsentrasi, dan meneguk sebotol Asua secara berkala, niscaya alur tulisan bakal berbelok. Asal jangan sampai orientasi seksualku saja yang berbelok, nanti ukhti-ukhti pada kecewa. Baik, aku bakal mengulangi tulisanku tentang sarjana, buat rubrik Lha Nggih, setelah khilaf di tiga paragraf pertama.

 

 

Jadi sarjana itu gampang, gampang banget. Kamu tinggal memakai toga sambil berjalan secara elegan menuju rektor atau dekan (kalau aku sih, rektor) kemudian beliau-beliau bakal memindah pita di topimu ke arah kanan. Semasa mahasiswa, kepalamu boleh saja kekiri-kirian, tapi kalau nanti jadi sarjana ya tetap ke kanan!

 

 

Mengikuti budaya akademis kita, aku membagi sarjana setidaknya jadi tiga jenis. Pertama, sarjana biasa-biasa saja. Mereka adalah sarjana teladan yang memegang teguh amanat dari almamater, yakni sabar mengantri di job fair atau bersegera mendaftar S2. Kedua, sarjana rumah tangga, sepertiku. Jenis ini adalah sebentuk penyakit masyarakat tersembunyi, yang ogah-ogahan segera cari kerja dan berbangga sebagai pengangguran. Ketiga, yang ini kita semua jelas sudah tahu: sarjana pelaminan. Sarjana jenis ini lazim mengirim undangan resepsi pernikahan ke alamat kamu-kamu, padahal baru kemarin ia diwisuda. Halah, lha wong yang belum yakin jadi sarjana, tapi sudah berani ijab sah saja banyak kok. Rasah nggumun!

 

 

Kira-kira begitulah kategorisasi sarjana menurut Udji Kayang Aditya Supriyanto, S.Sos. Aduh, namaku sudah panjang, masih ditambah gelar lagi, bikin repot saja! Kalau begitu, kamu tidak usah panggil atau menulis namaku dengan menyertakan gelar segala, deh! Aku ingin kamu menyebut namaku dengan kasih sayang, bukan dengan sebal dan ngampet misuh gara-gara kelewat panjang.

 

 

Aku sudahi saja tulisan asal-asalan ini. Jika kamu masih belum puas, mainlah ke rumahku. Selain dapat obrolan, kamu tidak akan pulang dengan tangan kosong. Nanti aku kasih CD lagu-lagu dangdut OM Monata, aku punya banyak lho (ini serius). Tapi kalau kamu maunya lebih, bawa pulang buku atau majalah misalnya, ya mesti berinfak sembako, cemilan, atau minimal bawakanlah kopi. Maklum, sarjana rumah tangga. Lha nggih… []


Udji KayangUdji Kayang Aditya Supriyanto. Sarjana rumah tangga, dapat dijumpai di @udjias, adiksikopi.blogspot.com, dan tentunya: di rumah.