lpmkentingan.com—Solo pada malam Minggu ialah serupa etalase seni. Beragam komunitas seperti komunitas motor, mobil kuno, dan lain-lain memanjang di kawasan jalan utama Solo. Di salah satu sudut kota, tepatnya di Balai Soedjatmoko (21/11), Sapardi Djoko Damono meluncurkan novel terbarunya, Suti.

Seperti acara-acara sebelumnya yang dihadiri tokoh besar, jumlah pengunjung membludak. Hal ini bisa dilihat dari sesaknya kondisi ruangan utama Balai Soedjatmoko. Bahkan beberapa pengunjung harus rela berada di luar ruangan. Pengunjung yang datang tidak hanya dari kota Solo, beberapa di antaranya berasal dari Semarang, Kediri, Jakarta, dan lain sebagainya. Selain asal kota yang beragam, para pengunjung juga berasal dari berbagai latar belakang. Mulai dari mahasiswa hingga yang paruh baya, lelaki maupun perempuan. Banyak di antara mereka yang datang membawa buku-buku Sapardi.

Sekalipun sempat mundur dari jam yang dijadwalkan, acara malam itu berlangsung cukup meriah. Sebagai pembukaan, beberapa pengunjung yang hadir diminta memberikan komentar terhadap novel Suti. Indah Darmastuti mengaku menemukan kembali masa kecilnya melalui cerita yang terdapat dalam novel Suti. Sumur di luar rumah, sungai, makam, gagak, semua itu mengingatkan pada masa kecilnya.

Berbeda dengan beberapa ulasan yang diberikan beberapa pembaca sebelumnya, esais Bandung Mawardi memberikan penilaian tersendiri terhadap novel Suti. “Aku memberikan tiga titik airmata sesudah asar untuk novel Suti. Bukan memuji.” Di atas kursinya, Sapardi tersenyum ke arah Bandung Mawardi sembari bertepuk tangan.

Selain komentar yang disampaikan oleh beberapa pengunjung hasil tunjukkan moderator, pengunjung secara umum juga diberi kesempatan berkomentar dan bertanya. Diana yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI)  sempat mengajukan pertanyaan: di antara proses penulisan hingga publikasi, puisi, cerpen, atau novel kah yang memberikan kepuasan tertinggi bagi diri Sapardi.

“Karena sudah tua, saya lebih suka ndongeng. Ini kan ndongeng,” jawabnya sembari mengacungkan novel Suti. Kemudian, ketika ditanya perihal penulis muda Indonesia yang berbakat. Sapardi sempat menyebut Rio Johan dengan embel-embel: cah ndek ingi sore, kok iso nulis ngono iku. Di sela-sela acara malam itu, terjadi tiga kali pembacaan puisi milik sang maestro. Salah satu di antaranya ialah Dalam Doaku (1989) yang dibacakan oleh pengunjung asal Pare Kediri.

Acara malam itu ditutup dengan suara tiupan suling yang membawakan lagu Mongol berjudul Jejak yang Abadi di Padang Rumput yang usai sekitar pukul 21.30 WIB. (Ifa)