Ilustrasi: Rudiyaningsih/LPM Kentingan

ROMANTISME PALSU YANG DIAGUNGKAN

Berada dalam sebuah hubungan percintaan mungkin merupakan sebuah anugerah tersendiri bagi sebagian orang. Menjalin hubungan yang didasari rasa suka satu sama lain memang agaknya mendatangkan rasa butterflies in the stomach. Layaknya orang kasmaran pada umumnya, setelah menjajaki masa pendekatan banyak pasangan memutuskan untuk berpacaran, tetapi hanya didasarkan atas rasa suka dan rasa cocok. Akibatnya ketika sudah terlanjur terikat dalam hubungan bernama “pacaran” mereka baru menyadari sisi buruk dari pasangan yang bisa jadi bertetentangan dengan prinsip mereka sendiri. Maklum, sudah menjadi hal biasa kalau yang namanya PDKT hanya memperlihatkan the best side dari diri masing-masing.

Perlu diketahui bahwa setiap journey percintaan orang itu berbeda-beda dan apa yang diperlihatkan pada khalayak umum belum tentu sama dengan realitas yang ada dalam hubungan itu sendiri. Seperti kata Rachel Vennya “hubungan tidak selamanya rainbow and butterfly”. Namun, banyak orang tidak menyadari bahwa hubungan mereka sebenarnya sudah rusak atau mungkin bisa dibilang toxic. Pasangan yang berada dalam hubungan tidak sehat tersebut cenderung untuk “mentidak apa-apakan” hal yang sebenarnya bermasalah seperti adanya sikap posesif ataupun perselingkuhan. Kemudian, tindakan yang paling umum dijadikan jalan keluarnya adalah kesepakatan sepihak dengan kata “jangan” atau “tidak boleh”.

“Kamu tidak boleh ngeboncengin cewek”
“Kamu tidak boleh chattingan sama cowok”
“Jangan follow si A, si B karena aku gak suka”
“Jangan simpen nomor cewek karena aku cemburu”

Penyelesaian dengan cara membatasi ruang gerak pasangan itu termasuk pengekangan. Padahal manusia sendiri pada dasarnya adalah individu yang merdeka. Apa kamu tidak kasihan dengan pacarmu yang terkekang? Kucing saja bisa bebas kemana-mana, masa pasangan kamu tidak. Daripada menyelesaikan masalah dengan kata “jangan” dan “tidak boleh” lebih baik cobalah melihat masalah dari banyak sudut pandang dan berusaha untuk berkompromi serta bersepakat dengan kerendahan hati yang serendah-rendahnya.
Selain pengekangan, masalah lain yang terjadi dalam hubungan yang rusak atau toxic adalah perselingkuhan yang dihalalkan. Pasangan yang berselingkuh sudah jelas memperlihatkan sisi terburuknya. Sisi buruk tersebut bagi kebanyakan orang merupakan sifat yang tidak bisa ditoleransi bagaimanapun bentuknya. Namun, mereka yang berada dalam hubungan toxic masih saja memberi kesempatan kedua pada pasangannya yang berdalih “aku masih sayang sama kamu”, “aku minta maaf”, atau yang lebih parahnya lagi “aku akan berubah untuk kamu”. Padahal berubah itu untuk kebaikan diri sendiri bukan orang lain. Jika perubahan dilakukan untuk pasangan, maka bagaimana kalau sudah putus? Selingkuh lagi?

Dikutip dari tirto.id, menurut Catatan Tahunan (Catahu) Komisi Nasional (Komnas) Anti Kekerasan terhadap Perempuan 2018, terdapat 13.384 kasus kekerasan dengan 9.609 (71%) kasus diantaranya terjadi di ranah privat. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.873 kasus merupakan kekerasan dalam pacaran. Selain itu, menurut data dari yayasanpulih.org yang merupakan penyedia layanan konseling untuk pemulihan trauma dan penguatan psikososial, terdapat data yang membuktikan bahwa kasus yang paling banyak terjadi adalah kasus kekerasan seksual, yaitu sebanyak 24,2% serta kekerasan fisik sebesar 18,1%. Pelaku yang paling banyak ditemui pun kebanyakan adalah orang-orang terdekat korban seperti pacar, tetangga, atau rekan kerja.Data yang didapatkan oleh Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) pada tahun 2016 juga berbanding lurus dengan data-data sebelumnya bahwa dari 10.847 pelaku kekerasan seksual, sebanyak 2.090 adalah pacar atau teman. Data-data tersebut membuktikan bahwa banyak pasangan terjebak dalam hubungan percintaan yang tidak sehat sehingga terjadilah kekerasan dalam pacaran (dating violence).

Terlepas dari betapa menakutkannya romantisme itu, kita jadi bisa melihat fakta bahwa mempunyai hubungan romantis dengan orang lain tidak selalu membawa dampak positif, tetapi juga bisa mendatangkan malapetaka untuk diri kita sendiri. Oleh sebab itu, kita harus mengambil pelajaran dari kasus-kasus tersebut untuk membangun relasi percintaan yang lebih sehat. Salah satunya dengan menerapkan konsep boundaries dan mindfulness. Konsep boundaries adalah konsep batasan, yaitu dengan membuat ruang antara diri kita dengan orang lain (pasangan). Singkatnya adalah dengan menerapkan batasan-batasan dalam hubungan sehingga kita mempunyai kuasa atas diri kita sendiri. Dengan demikian, orang lain (pasangan) tidak bisa bertindak seenaknya dan menyakiti kita. Selain itu, dengan mempunyai kontrol atas apa yang kita rasakan sepenuhnya, kita bisa memfilter orang-orang yang dapat mendekati kita secara fisik ataupun emosi. Intinya adalah dengan menerapkan konsep boundaries dalam hubungan, pasangan kita tidak bisa melewati batasan yang kita buat. Begitu juga sebaliknya, kita tidak bisa melanggar batasan yang dibuat sang pasangan.

Sementara itu, konsep mindfulness adalah upaya melatih diri sendiri untuk memusatkan perhatian terhadap hal-hal yang terjadi saat ini dengan kesadaran penuh dan ketidakberpihakan. Dalam hubungan romantisme, konsep ini dapat membantu menciptakan lebih banyak keseharian yang positif. Menurut jurnal Widya Cakra: Journal of Psychology and Humanities terdapat empat model usaha membangun koneksi hubungan yang penuh kesadaran. Hal pertama yaitu minding (saling berupaya mengetahui impian, harapan, dan sensitivitas pasangan dengan cara memastikannya dapat mengekspresikan diri dengan bebas). Kedua adalah attributing positive behaviors (memahami penyebab perilaku pasangan yang tidak sesuai ekspektasi dengan cara mendengarkan penjelasannya). Ketiga adalah accepting and respecting (menunjukkan empati, mampu menerima kondisi pasangan, dan mengembangkan sikap respek sehingga tidak akan terjadi penghakiman yang dapat merusak relasi). Yang terakhir adalah maintaining reciprocity and continuitity (saling berpartisipasi dalam berpikir dan berperilaku yang dapat meningkatkan kualitas hubungan).

Kalau bisa dianalogikan, berpacaran itu seperti membangun rumah. Cinta sebagai tanahnya, kompromi dan perencanaan sebagai pondasinya. Butuh banyak waktu untuk membangun sebuah rumah yang sesuai dengan harapan kita. Di sisi lain, banyak juga tantangan dan diskusi yang harus dilakukan entah dengan arsitek dan timnya ataupun desainer interior/eksteriornya. Jika perencanaan tepat dan matang, maka rumahnya pun akan jadi bagus. Kita juga akan merasa puas dengan rumah tersebut. Begitu pun dengan hubungan, untuk membangun sebuah hubungan yang sehat dan sesuai harapan diperlukan banyak perencanaan dan diskusi tentang tantangan-tantangan yang muncul. Jadi, penting untuk para pasangan mengetahui tujuan mereka berpacaran dan tidak kalah penting juga untuk menyusun pencapaian-pencapaian apa saja yang ingin dicapai bersama.

Penulis: Ndarurianti
Editor: Diana Kurniawati

Ndarurianti
Mahasiswi Diploma Bahasa Inggris 2019
[email protected]