Kethoprak itu membawakan sebuah kisah dari sepasang kekasih, Sukro dan Melati. Awalnya semua terasa indah. Namun, di tengah-tengah hubungan yang sudah lama terjalin di antara mereka, kedua orangtua Melati tidak merestui hubungan tersebut, terutama sang Ayah.

 

MELATI YANG mana bukanlah anak yang ingin melawan tak mampu untuk menolak perintah kedua orangtuanya. Alasan orangtua Melati tidak merestui hubungan mereka adalah perbedaan status sosial. Di mana Melati dari kecil sudah hidup enak sedangkan Sukro berasal dari keluarga yang kurang berada.

 

Hal itu membuat Sukro sakit hati bukan main. Setelah putus dari sang kekasih, Sukro mendatangi kawan-kawannya dan curhat jika ia baru saja putus dengan Melati. Tentu saja teman-temannya sangat kaget mendengar kabar tersebut.

 

Namun, ia bercerita tidak sesuai fakta. Ia mengatakan jika dirinya lah yang memutuskan Melati karena ia mengaku melihat sendiri jika orangtua Melati menggunakan tumbal sebagai pesugihan.

 

“Lah hooh, aku ndelok dewek Bapake Melati nganu dupa neng ngarep keris. Opo neh yen udu pesugihan” Ujar si Sukro.

 

Ia pun berpikiran untuk menyebarkan berita bohong (baca: hoaks). Ia menggunakan media sang Pak Lik untuk melancarkan aksinya tersebut. Bertepatan dengan sang Pak Lik yang sakit, ia mengirimnya ke media sosial dan mengarang cerita jikalau penyebab Pak Liknya sakit adalah orangtua Melati yang menggunakan tumbal. Di tambah lagi, Pak Lik Sukro juga merupakan salah satu karyawan dari keluarga Melati.

 

Dengan kekuatan media sosial, berita itu pun menyebar dengan sangat cepat. Hal ini membuat teman-teman Sukro tambah memercayai berita bohong tersebut. Pertikaian antara kedua belah pihak tak dapat dibendung.

 

Pergelutan antara pihak pembela Sukro dan pembela keluarga Melati terjadi. Agak kurang adil sebenarnya, karena 3 vs 4. Tiga dari pihak Sukro dan empat dari pihak Melati. Sang dalang di balik penyebaran hoaks ini, Sukro, tidak ikut bertarung.

 

Cukup lama durasi pertarungan tersebut. Pertarungan yang di dalamnya banyak menampilkan aksi akrobatik ini berhasil membuat riuh seisi gedung. Mungkin dapat dikata inilah klimaks dari pertunjukkan Kethoprak malam itu. Tidak hanya menampilkan keseriusan, dalam pertikaian itu banyak pula menampilkan aksi-aksi lawak yang jenaka.

 

Hampir 30 menit drama pertikaian itu berlangsung. Lalu munculah para pemain-pemain yang lainnya secara lengkap. Dimulai dari Ayah Melati dan Melati yang kebingungan kenapa ada hal ini lalu diikuti si Mbah Kakung yang menjadi penengah dalam pertikaian tersebut. Kemudian, dipanggillah Sukro yang notabenenya sebagai dalang di balik pertikaian ini semua.

 

Koe sing ora-ora jelas mbok posting. Kui kejem” Ujar si Mbah Kakung kepada Sukro setelah diceritakan jikalau penyebab kesuksesan Keluarga Melati adalah hasil usaha yang benar bukan menggunakan pesugihan.

 

Dilanjutkan kemunculan sang Pak Lik yang sebelumnya dijadikan bahan pancingan untuk menyebar hoaks. Yang setelah ditelusuri penyebab Pak Lik sakit bukan akibat dijadikan tumbal melainkan gejala malaria. Karena sudah tertangkap basah, akhirnya si Sukro meminta ampun dan sungkem kepada Ayah Melati.

 

“Informasi iku enek 3 jenis. Sing pertama iku gabah, beras, sego. Yen koe ulih berita gabah dipilih-pilih sek, nek berita beras kudu mbok dadi sego carane golek info seng jelas. Lamun nek berita sego gari maem. Nah, nek berita gabah dipadake karo sego opo ora keloloten” Ujar Mbah Kakung di saat-saat menuju akhir pentas.

 

 

PEMENTASAN KETOPRAK dengan judul Acara Kampung Kebak Kliwat Gancang Pincang ini diadakan oleh Anucara Project yang berisi mahasiswa-mahasiswa Public Relation UNS. Sarah Dibasari selaku ketua panitia mengaku jika mereka membutuhkan waktu dua bulan untuk mempersiapkan acara ini.

 

“Kalau untuk tema sudah ditentukan dari dosen, ya, Literasi Digital temanya. Kenapa kita ngambil hoaks, karena sekarang hoaks kaya sudah melekat gitu di kita. Jadi yang dipilih yang mendekati kita” Ujar Sarah.

 

Dan untuk alasan mengapa ketoprak yang dipilih sebagai media, Sarah mengatakan alasan terbesar mereka karena lebih unik dan masih jarang yang menggunakan ini ketimbang workshop, talkshow dll. “Pengin Beda” katanya.

 

Acara yang melibatkan Ketoprak Ngambung sebagai aktor-aktornya ini mendapat sambutan baik dari para pengunjung.[]

 

Reporter: Kartika Sofiyanti