Oleh: Ririn Setyowati

BALAIKOTA Solo pukul 18.45 tampak lengang. Beberapa pemuda berjaket merah terlihat berjaga di depan pendopo. Beberapa yang lain tampak sibuk, bersiap untuk acara malam itu. Kursi-kursi telah ditata dalam kolom dan baris yang teratur. Meja untuk pembicara telah tersedia. Makanan ringan yang dibungkus dalam kardus pula telah siap menyambut para tamu. Pukul 19.10, orang-orang mulai berdatangan. Ragam pakaian yang mereka kenakan dan wajah-wajah dengan kerut merut bervariasi menandakan acara ini bukan cuma buat mahasiswa.

 

Acara itu bertajuk Rembug Kota Solo. Gawe gedhe ini rupanya telah digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UNS sejak April 2016 lalu. Acara yang dihelat pada Rabu, 31 Agustus 2016 bermaksud mempertemukan warga Solo dengan walikotanya, F. X. Hadi Rudyatmo. Wakil presiden BEM UNS, Wildan Wahyu Nugroho menuturkan, telah berkali-kali mahasiswa (BEM UNS) mengrim surat permohonan rembug permasalahan kota Solo pada walikota. Tetapi baru Agustus ini, janji pertemuan tersebut mendapat konfirmasi dari pihak Rudy.

 

Sesuai tajuk, agenda malam itu akan membahas tiga permasalahan: pemindahan lokasi pedagang kaki lima gerobak kuning dari City Walk, polemik pungutan liar dalam sistem pendidikan kota Solo, serta pro dan kontra penerapan Sistem Satu Arah (SSA) Purwosari – Gendengan.

 

Mulanya, kami tak tahu menahu ihwal rembugan ini. Beberapa jam sebelum rembug, kami menemukan pamflet acara yang bergambar siluet walikota Solo itu tertempel di majalah dinding kampus. Momen langka tersebut tak mungkin kami lewatkan begitu saja. Sebagai masyarakat yang tinggal dan menikmati hiruk pikuk kota Solo selama hampir seumur hidup, rasanya tak adil bila tak ikut andil.

 

Jagongan Karo Gegojekan

Menarik bahwa kali ini rencana pertemuan warga dan walikotanya dikonsepkan dengan istilah rembug. Sebagaimana kedekatan kata rembug dengan masyarakat Jawa, rasanya tidak luput jika kami mengimajinasikan acara ini bakal berlangsung dengan hangat dan penuh rasa kekeluargaan. Judul acara seakan mengajak semua yang hadir untuk duduk lesehan di atas tikar yang luas dibentangkan, bersuguh pisang kukus atau gorengan yang dihidangkan panas-panas, tak ketinggalan teh panas sebagai penghangat di malam yang mulai menggigit.

 

Acara Rembugan Kota Solo seolah mengajak masyarakat, mahasiswa, dan pemerintah kota Solo jagongan karo gegojekan, melipat jarak antara pejabat dan rakyat biasa. Mereka saling tenggelam dalam keakraban yang guyub, rukun, walau bahan obrolannya terkadang suka serius. Kurang lebih seperti yang kerap terjadi pada saat rapat lingkup RT maupun RW. Singkatnya, jalinan keakraban.

 

Ternyata imajinasi rembugan sederhana seperti itu memanglah cuma ada di angan-angan cah ndeso yang dibesarkan dengan jalinan sosial ala kampung seperti kami belaka. Konsep rembug ndeso yang kami bayangkan di awal buyar seketika. Rembugan itu serius dan birokratis! Kami mesti mengisi kertas presensi, juga duduk di kursi-kursi yang telah terbagi kedalam tiga sektor. Rupanya, untuk duduk pun kami tak boleh sembarangan. Kursi-kursi telah terbagi untuk tamu undangan dan untuk mahasiwa/umum. Para pejabat seperti lurah mesti duduk bersama lurah, pedagang dengan pedagang, dan tentu saja mahasiswa dengan mahasiswa saja.

 

Tidak ada gelaran tikar dan duduk melingkar. Hanya suasana pendopo yang remang dan beberapa kali iringan alunan Stasiun Balapan dari Didi Kempot yang menggambarkan suatu keluwesan berkonteks rembug. Zaman makin edan. Rembug pun ternyata telah bergeser makna, tak beda seperti sebuah seminar atau kelas-kelas dalam perkuliahan.

Woro-Woro

Disamping penyebaran pamflet dan pemberitahuan agenda rembug secara viral, undangan resmi yang dibagikan awak BEM UNS ke 51 kelurahan di Kota Solo merupakan salah satu upaya yang dilakukan guna memublikasikan acara ini. Undangan juga disebar ke perwakilan BEM setiap fakultas di UNS.

 

Namun, taring dari masyarakat Solo inilah yang tak tampak garang. Perwakilan masyarakat paling banyak datang dari Laweyan. Dua PKL yang hadir rupanya tak betah lama-lama tinggal di acara. Disekitar balaikota, penjaja angkringan dan ronde santai-sanati saja menikmati malam. Gaung kehadiran Rudy dan peliknya permasalan kota Solo yang tengah dirembug di pendopo ditelan kayuhan becak dan gerungan motor yang masih bersliweran di depan balaikota.

 

 

Kadung Janji

Peserta yang hadir mengikuti acara dengan setengah khidmat sembari memainkan gawai dan mengobrol santai. Acara diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Disela nyanyian, beberapa kali kami bertanya-tanya dimanakah sang lakon utama, Pak Walikota yang tak kunjung hadir hingga jarum jam menunjukkan pukul 19.30.

 

Saat sambutan, Presiden BEM UNS, Doni Wahyu Prabowo, baru memberi penjelasan bahwa walikota tak jadi hadir dalam rembug kota Solo kali ini. Dalam penjelasan, Doni memberi keterangan bahwa ketidakhadiran itu  “tanpa alasan yang jelas”. Ia juga menyuarakan pengawalan isu serta jargon tentang hidup mahasiswa dan rakyat Indonesia.

 

Kami tak menangkap momen enggannya Walikota menghadiri acara baik dan santun semacam Rembug Kota Solo tersebut. Anggota Kementrian Aksi dan Propaganda BEM UNS, Hasan Hanafi menerangkan, Rudy memang dikatakan sempat memasuki balaikota sebelum memutuskan untuk pergi. Wildan Wahyu Nugroho pun mengiyakan keterangan itu. Ia juga menambahkan, alasan ketidakdatangan Rudy karena ia harus mengahdiri suatu acara yang lain di Sky Bridge Tirtonadi. Inisiatif penjemputan ke Sky Bridge Tirtonadi juga sempat dilakukan, namun pencarian berakhir nihil.

 

Kekecewaan tergambar jelas dari wajah-wajah para awak BEM, apalagi empat perwakilan dari kelurahan beranjak pergi dari kursi sebelum acara berakhir. Beberapa awak BEM fakultas pun meninggalkan ruangan setelah beberapa saat. Agenda jadi kurang semringah. Saat sang lakon pergi, banyak peserta yang permisi.

 

Tak tampak lagi dua orang perwakilan dari pedagang kaki lima yang tadinya hadir. Sebelum sempat kami wawancarai, jejaknya sudah hilang dan tidak dapat kami susul. Orang-orang yang duduk dibangku wakil dari kelurahan pun berangsur pergi, tinggal tiga orang berbaju batik yang tersisa. Tetapi, ketika beberapa hadirin pergi, justru perwakilan dari warga Laweyan yang menolak adanya sistem satu arah ini baru saja hadir, meramaikan kembali bangku-bangku yang ditinggalkan.

 

Meski tak lagi semarak, acara mesti terus berlanjut. Agenda rembug tetap berjalan dengan urutan pemaparan isu dan tanya jawab antara moderator dengan pembicara, dengan pakar dari dosen UNS dan dengan hadirin tentang ketiga permasalahan yang telah disebutkan sebelumnnya.

 

Namun, dibalik teka-teki dengan judul rembugan dan absennya Rudy serta perginya beberapa komponen masyarakat,  seperti mengisyaratkan romansa belum berbalas antarmahasiswa, masyarakat dengan pemerintah. Tetapi terwujudnya acara rembug ini diakui Wildan telah menjadi salah satu upaya untuk membuktikan bahwa yang dilakukan BEM UNS tidak hanya sebatas demonstrasi melainkan juga dialog atau audiensi yang transparan.

 

“Yang kita lakukan ini adalah cara baik-baik, namun apabila tanggapannya seperti ini lagi, maka, kita juga tidak akan segan turun ke jalan,” sambungnya.

 

Hidup Mahasiwa! Hidup rakyat Indonesia![]

(Foto: Sholahudin Akbar/LPM Kentingan)


Ririn SetyowatiRirin Setyowati. Seorang mahasiswi pembelajar pesan. Sering dikatakan terlalu belia dan belum pantas. Namun, menepis stempel dini bukan merupakan hal yang salah. Mencoba mengimplikasikan ‘manusia bermoral’ seperti apa yang diharapkan Moctar Lubis dalam pahamnya. Surel: [email protected]