“Rektor baru semoga lebih pro terhadap mahasiswa, penerapan kebijakan sesuai kebutuhan, perestasi naik, dan tentunya tidak menyusahkan mahasiswa”, Eka Ahmad, Ketua BEM FKIP UNS.

 

Teka-teki Rektor UNS pengganti Ravik Karsidi telah terjawab setelah bergulirnya Pemilihan Rektor Baru UNS. Dari hasil Pemilihan Rektor tersebut akhirnya keluar nama Jamal Wiwoho sebagai rektor terpilih UNS menggantikan Ravik Karsidi. Dengan adanya rektor baru tentunya sedikit membawa asa warga UNS yang menginginkan kampus menjadi semakin maju.

Bagi kalangan mahasiswa asa pada kepemimpinan Jamal tidaklah muluk-muluk, cukup dengan kebijakan yang ada tidak menambah susah dan miskin hidup mereka sudahlah cukup sepertinya. Akan tetapi jika djabarkan lebih lnjut, sebenarnya tidak sesederhana itu. Ada banyak ingin dan mau mahasiswa, apalagi jika dilihat dengan banyaknya maka definisi yang tidak membuat miskin dan susah sangatlah berfariatif menurut pandangan mereka masing-masing.

Namun setidaknya, menurut beberapa mahasiswa dengan naiknya Jamal membuat mereka bersepakat ingin terwujudnya transparasi pada masa kepemimpinannya. Hal tersebut seperti diungkapkan oleh Yuliana, mahasiswi Fakultas Hukum, “Dengan bergantinya kepemimpinan, harapannya dapat mewujudkan adanya transparansi di segala bidang”.

Adanya transparansi agaknya menjadi hal yang penting, mengingat dengan hal tersebut masa kepemimpinan Jamal dapat dikawal bersama. Hingga tidak memunculkan adanya kecurigaan berlebih akan terjadinya penyimpangan. Lebih lanjut lagi, Yuliana menambahkan, “Jika transparansi pada masa kepemimpinan Prof. Jamal berhasil diwujudkan, maka tidak ada lagi kecurigaan akan terjadinya penyimpangan dari kami kalangan mahasiswa. Kepemimpinan menjadi lebih dipercaya dan harapannya dapat berjalan lebih baik”.

Sejalan dengan Yuliana, Hana sebagai mahasiswa yang aktif dalam kegiatan UKM FKIP turut menuntut adanya trasnaparnsi. Menurutnya, dilaksanakannya transparansi tidak hanya menumbuhkan sikap percaya, akan tetapi juga sebagai bentuk pertanggung jawaban atas apa yang telah terlaksana.

“Harapannya rektor yang sekarang dapat mewujudkan transaparnsi atas kebijakan dan tindakan-tindakan yang dilaksanakan. Hal tersebut sebagai bentuk tanggung jawab atas kepemimpinan yang sedang diemban”, ujar Hana.

Harapan mahasiswa akan adanya keterbukaan agaknya bagaikan gayung bersambut, artinya sesuai dengan apa yang ingin Jamal wujudkan. Yaitu terwujudnya keterbukaan antara pejabat UNS dengan mahasiswa, terutama berkaitan dengan pengambilan suatu kebijakan.

Akan tetapi, keinginan hanyalah sebuah angan apabila tidak secara sungguh-sungguh diwujudkan. Keinginan akan adanya transparansi/keterbukaan telah ternodai dengan ditetapkannya SPI (Sumbangan Pengembangan Institusi) pada jalur Seleksi Mandiri penerimaan mahasiswa, yang penetapannya bagi sebagian mahasiswa terkesan mendadak karena tidak melibatkan mahasiswa dalam perumusannya.

“Mengenai penetapan SPI, dari kami tidak ada yang tahu karena tidak ikut dilibatkan dalam pemutusannya”, ujar Eka Ahmad. Ketua BEM FKIP UNS.

Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Eka, Wahid sebagai mahasiswa yang aktif dalam organisasi BEM FP juga mengungkapkan hal senada, “Katanya ingin mewujudkan keterbukaan, tetapi SPI tiba-tiba saja ditetapkan untuk tahun ini kami mahasiswa dalam perumusannya tidak dilibatkan”.

Sementara itu terkait pemberlakuan SPI yang tidak melibatkan mahasiswa dalam penetapannya, Hana berpendapat “SPI tidak masalah jika ditetapkan selagi dana tersebut digunakan dengan semestinya”, ujar Hana.

 

Perbaikan Fasilitas Sebagai Jalan Tingkatkan Prestasi

Prestasi bagus dalam hal pendidikan terutama di jenjang pendidikan tinggi dapat terwujud apabila semua elemen pendukung pembelajaran dapat berperan secara maksimal. Elemen pendukung pembelajaran tidak hanya dalam wujud dosen dan meteri yang diajarkannya, melainkan juga segala media pembelajaran dan praktek serta fasilitas yang mendukung guna terciptanya pembelajaran yang nyaman.

Berkaitan dengan ditetapkannya rektor baru, maka turut pula tumbuh asa agar UNS menjadi kampus yang berprestasi baik paling tidak di tingkat nasional. Akan tetapi sungguh hal yang ironis apabila ingin meraih prestasi baik, namun alat pendukung pembelajaran kurang memadai.

Hal tersebut seperti yang terjadi di Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, beberapa alat pendukung pembelajaran seperti LCD tidak berfungsi secara maksimal. Hal tersebut belum lagi ditambah dengan kondisi ruang kelas yang panas karena AC tidak berfungsi dengan baik.

“Saya sebagai mahasiswa FKIP juga berharap untuk perbaikan infrastruktur supaya lebih memadai lagi”, imbuh Eka.

Tidak hanya terjadi di FKIP, Fakultas Pertanian juga merasakan kurangnya alat penunjang pembelajaran yang memadai. Terutama berkaitan dengan alat di labratorium yang sering digunakan oleh mahasiswa untuk mengerjakan tugas praktikum.

“Lab kita kan masih tertinggal jauh saya rasa, maka perlu diperbaharui dan dilengkapi alat-alat praktikumnya”, jelas Wahid.

Masalah yang berkaitan dengan infrastruktur dan alat penunjang pembelajaran agaknya masih merupakan masalah dasar dalam upaya menaikan prestasi. Bagaimanapun juga sebagus apapun materi pembelajaran yang diajarkan, jika alat pembelajaran kurang memadai, maka hal tersebut tidak dapat berjalan dengan baik. Masalah tersebut mungkin saja tidak hanya terjadi di FKIP dan FP saja, akan tetapi di fakultas lainnya juga. Oleh karena itu dibutuhkan penanganan yang serius dalam penyelesaiannya.

 

Administrasi Dipermudah

Selain adanya harapan mengenai keterbukaan/transparansi dan perbaikan infrastruktur serta kelengkapan alat penunjang pembelajaran, mahasiswa juga menginginkan adanya kemudahan dalam proses pengurusan administrasi, khususnya yang berkaitan dengan kegatan mahasiswa. Hal tersebut seperti pengurusan pendanaan dan ijin tempat yang diharapkan proses administrasi yang harus diselesaikan mahasiswa tidak berbelit-belit serta seakan dipersulit.

“Usahakan dalam proses administrasi pengajuan dana jangan dipersulit, misalkan harus ada revisi langsung sampaikan semua yang perlu direvisi.”, jelas Hana.

Masalah lain yang juga dianggap dapat menghambat jalannya kegiatan mahasiswa adalah mengenai perizinan tempat. Salahsatunya proses peminjaman tempat di FP yang dianggap prosesnya terlalu bertele-tele dan seharusnya lebh dipermudah karena berkaitan dengan kegiataan yang diadakaan mahasiswa.

“Buat administrasi khususnya mengenai izin tempat di FP semoga dengan adanya rektor baru, birokrasi baru jadi dipermudah, tidak harus mengurus surat-surat segala macam. Saya pikir untuk pemjaman tempat dengan menulis di list sudah cukup, seperti di FK contohnya”, terang Wahid.[]

 

Reporter: Lulu Damayanti

 

Edisi Khusus IV/November/2019

Jamal Wiwoho Bagaimana?

 

Editorial: Yang Tumbuh Patah Yang Berganti, Bagaimana?

Laporan 1: Rektor Baru, Seribu Asa Baru

Laporan 2: Ada Apa Dengan SPI?

Laporan 3: Widodo Muktiyo: Kami Tidak Mau Diintervensi

Riset: Persepsi Mahasiswa UNS Terhadap Rektor UNS 2019-2023