Oleh: Muhammad Satya

Jilid II kepemipinan Ravik Karsidi telah resmi bergulir sejak pelantikannya (13/4) di Jakarta. Program akselerasi “reputasi” internasional timbulkan noda kesenjangan di jilid sebelumnya.

Separuh tempat parkir masih sepi kala waktu menunjukkan pukul tujuh lewat lima belas pagi. Beberapa mahasiswa memarkirkan sepeda motornya, lalu seperti biasa, mereka berpantas-pantas diri lewat kaca spion. Terlihat juga sekelompok mahasiswa yang sibuk bercakap-cakap di atas tunggangan mereka. Sebentar kemudian, mereka berjalan bersama menuju sebuah gedung berlantai tiga.

Pilar-pilar gedung dengan motif bata yang mereka lalui tampak megah. Di dalam gedung, beberapa kelas kecil menyajikan aktivitas dosen yang tengah berceramah di depan anak didiknya. Jumlah penghuni kelas-kelas tersebut tidak terlalu banyak. Itu membuat suasana tampak kondusif.

Bersebelahan dengan gedung tersebut, gedung baru yang tak kalah megah berdiri. Arsitektur yang terlihat baru menjadi pembeda dengan gedung-gedung lama di fakultas lain. Saat ini proses pembangunan telah mencapai 90 persen. Meskipun begitu, gedung tersebut telah digunakan untuk rutinitas perkuliahan.

Ini merupakan penggambaran suasana yang ada di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Sebelas Maret (UNS). Pembangunan yang sedang dikebut FEB tersebut digunakan untuk menunjang dua program studi yang tengah melakukan proses akreditasi internasional, yaitu prodi S-1 Akuntansi dan S-2 Manajemen. Tidak tanggung-tanggung, kata  Wakil Rektor I, Sutarno, pihak rektorat menggelontorkan dana yang cukup besar untuk program tersebut. Sejak tahun lalu, 450 juta telah dikeluarkan untuk akreditasi. Bila dijumlah dengan penataan dan pembangunan gedung, total dana yang dikeluarkan mencapai 900 juta. “Untuk Ekonomi (FEB.red) mencapai 900 juta,” ujar Sutarno.

Pemandangan yang kontras terlihat di sebelah selatan FEB. Dari pinggir jalan saja, sudah bisa dilihat gedung yang tampak berumur. Meski siang hari, suasana suram terasa dari dalam gedung. Pencahayaan yang kurang menjadi salah satu sebabnya. Tidak ada aroma pembangunan ataupun renovasi gedung. Area yang seharusnya merupakan ladang inspirasi para calon seniman, justru menghantarkan kebekuan imajinasi. Hampir tidak ada yang istimewa kecuali papan nama bertuliskan “Fakultas Ilmu Budaya” yang belum lama terpasang.

Fakultas Sastra dan Seni Rupa (FSSR) sebenarnya bukan tanpa pembaruan. Sejak akhir tahun lalu, FSSR telah dimekarkan menjadi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD). Namun, persiapan yang kurang membuat keberlangsungan dua fakultas baru ini tersendat. FIB dan FSRD pun terpaksa berbagi gedung. Padahal, jumlah gedung yang ada, baru empat. Sebuah ironi memang, mengingat 900 juta telah dihabiskan untuk mempermegah FEB, sementara dua fakultas baru yang masih butuh sokongan, luput dari perhatian.

feb

 Akreditasi internasional – seperti yang sedang dialami dua prodi FEB – adalah salah satu program yang dicanangkan Ravik Karsidi dalam jilid pertama kepemimpinanya sebagai rektor UNS. Kepala Kantor Jaminan Mutu, Suranto, mengatakan, sumber daya manusia yang berkualitas, manajemen yang baik, serta fasilitas yang memadai, membuat FEB didorong untuk mengikuti akreditasi internasional.

“Mereka (FEB.red) punya banyak profesor. Lalu masalah manajemen, ya mereka, kan, orang-orang manajemen. Jadi bagus, lah,” kata Suranto.

Mengenai dana yang besar, Suranto menjelaskan bahwa hal tersebut memang diperlukan untuk proses akreditasi internasional yang cukup panjang. “Ada visitasi, kemudian jadi member. Nah, di situ harus meng-attend berbagai social gathering dan konferensi untuk komunitas itu,” jelas Suranto. Fasilitas yang kudu dipenuhi turut berpengaruh terhadap besaran anggaran.

Meski dana yang diperlukan sangat besar, hal ini tidak akan memengaruhi besaran uang kuliah yang dibayarkan mahasiswa. Dalam program internasionalisasi, dana seluruhnya dianggarkan dari rektorat, bukan dari pungutan mahasiswa. Suranto menambahkan, bila akreditasi internasional sudah didapat, akan berdampak pada dibukanya kelas internasional. “Sebagai contoh, UGM. Kalau satu semester yang reguler misalnya 10 juta, kelas internasional satu semester bisa 60 juta,”ujar Suranto mencontohkan.

Di samping hal-hal tersebut, kelas reguler sejatinya tidak jauh berbeda dengan kelas internasional secara kualitas. Hanya, bahasa pengantar yang digunakan adalah bahasa Inggris. Selain itu, dosen yang mengampu sebagian besar akan berasal dari luar negeri, yang tentu, akan lebih mendapatkan pengakuan dari lembaga profesi internasional terkait.

Tidak hanya itu, untuk menunjang program akselerasi UNS sebagai world class university (WCU), berbagai pembangunan infrastruktur baru turut dilakukan. Maret 2013 lalu, tujuh gedung baru diresmikan Mohammad Nuh, yang kala itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Termasuk di antaranya masjid Nurul Huda, stadion UNS, dan gedung Pusat Pendidikat dan Pelatihan (Pusdiklat). Pembangunan yang tengah berjalan tak kalah megah, gedung perpustakaan tujuh lantai digadang-gadang akan meningkatkan budaya literasi mahasiswa.

Akselerasi Reputasi Internasional

Ravik Karsidi menyisihkan Adi Sulistyono dan Ahmad Yunus dalam pemilihan rektor UNS Januari lalu. Ravik mengungguli kedua pesaingnya itu dengan 73 suara, sementara Ahmad Yunus memperoleh 34 suara dan Adi Sulistyono 18 suara. Sebagai calon inkumben, pencapaian Ravik pada jilid satu kepemipinannya jelas menjadi acuan. Berbagai kalangan menilai, Ravik berhasil memperkuat citra UNS di mata publik.

Pada jilid dua kepemipinannya, Ravik – yang mengusung jargon “UNS BISA” – telah menyusun berbagai program kerja sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) UNS. Dalam RPJP empat tahun ke depan, UNS akan melakukan akselerasi reputasi internasional. Ravik menjelaskan, telah menyiapkan berbagai program internasionalisasi dalam program kerjanya. “Kalau yang kita sebut akselerasi untuk internasionalisasi, kami ada empat belas program. 14 program ini, nanti akan secara integratif dicapai,” jelas Ravik ketika ditemui Civitas di ruang kerjanya. Empat belas program tersebut di antaranya, peningkatan publikasi riset di jurnal internasional, program studi double degree, akreditasi internasional, program credit earning, kelas internasional, serta pemeringkatan internasional.

Publikasi riset merupakan hal yang perlu ditingkatkan menuju WCU. Dalam laporan yang disampaikan pada dies-natalis Maret lalu, angka publikasi riset di jurnal internasional masih berada dalam tingkat yang sangat minim. Dari target 175 publikasi, UNS hanya mampu mempublikasikan 156 jurnal. Angka yang sangat kecil, melihat jumlah tenaga pengajar UNS yang mencapai lebih dari 1500 dosen. Kurangnya budaya menulis dosen, ditengarai menjadi penyebab minimnya publikasi. Tahun ini, Ravik kembali menargetkan 175 publikasi di jurnal internasional.

Sejak tahun lalu, UNS telah bekerja sama dengan La Rochelle University, Perancis dalam program double degree. Sementara itu, dua prodi FEB yang tengah melakukan akreditasi internasional akan terus dipantau. Menyusul akuntansi dan manajemen, prodi-prodi lain yang telah mencapai akreditasi A menurut Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), akan didorong untuk mengikuti program tersebut. “Kebijakan kami, yang sudah terakreditasi A, program studi itu kami beri dana untuk didorong menuju akreditasi internasional,” ujar Ravik. Tahun ini, prodi Teknik Mesin dan Teknik Sipil akan didorong untuk ikut serta dalam akreditasi internasional. Menunggu giliran, prodi-prodi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam akan menyusul.

UNS juga telah melakukan credit earning dengan tiga negara – Malaysia, Indonesia, Thailand (MIT). “Ada model credit earning. Misalnya sekarang sudah ada kerjasama MIT. Khususnya Fakultas Pertanian sudah mulai ikut. Satu semester di sini, satu semester di sana,” kata Ravik. Kerjasama lebih lanjut akan dilakukan dengan Australia untuk prodi pendidikan biologi. Sementara untuk kelas internasional, UNS hanya menargetkan 1 kelas yang dibuka pada 2015.

Dalam segi pemeringkatan, UNS mengalami peningkatan pada Ravik Karsidi jilid I (2011-2015). Menempati ranking ketiga perguruan tinggi se-Indonesia versi BAN-PT, UNS hanya tertinggal dari Universitas Gadjah Mada dan Institut Pertanian Bogor, serta menyisihkan nama-nama besar macam Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Lembaga pemeringkatan lain – webometrics – menempatkan UNS pada posisi enam se-Indonesia. Perlu diketahui, webometrics adalah sistem pemeringkatan berdasarkan eksistensi laman suatu perguruan tinggi.

“Ravik jilid satu sudah mengantarkan UNS terakreditasi A. Empat tahun yang akan datang, kami sudah ada target yang ditunggu oleh semua konstituen dan stakeholder kampus,” kata Ravik. Ia juga berjanji akan melaksanakan seluruh program kerja pada jilid II nanti. Demi mewujudkan UNS yang ‘Bereputasi Internasional dengan Sinergi dan Akselerasi.’ “Ini menjadi janji saya kepada publik bahwa saya harus mencapai ini (proker-red),” tambah Ravik.

Dilematis

Di kalangan mahasiswa, dilema tersendiri hadir ketika menyaksikan peringkat UNS yang menanjak drastis. Suatu kebanggan, memang, menjadi bagian dari universitas yang berkeinginan memiliki reputasi internasional. Namun, apa yang didapat mahasiswa rasa-rasanya bertolak belakang dengan peringkat UNS saat ini. “Ya, percaya enggak percaya. Karena, kita mahasiswa, kan, yang setiap hari di kampus. Pastinya mengetahui seluk beluk kampus,” tutur Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa UNS, Eko Pujianto saat ditanya mengenai prestasi yang dicapai UNS.

Bukannya tanpa cacat, pembangunan yang dilakukan pada Ravik Karsidi jilid I pun belum menyentuh aspek mendasar yang lebih dibutuhkan. Eko menambahkan, mahasiswa juga harus bersikap kritis terhadap berbagai pembangunan tersebut. “Perlu dicermati fasilitas-fasilitas seperti ruang kelas, laboratorium, toilet, dan lainnya. Seakan-akan, UNS hanya bagus dilihat dari luarnya saja, tapi tidak dari dalam,” tutur Eko mewakili suara mahasiswa. Pembangunan yang belum merata di seluruh fakultas juga menjadi pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. FIB dan FSRD hanya salah satu contoh tidak meratanya pembangunan kampus. Ia pun mengamini jika dikatakan terjadi kesenjangan pembangunan di UNS.

Reputasi UNS yang meningkat juga tidak lepas dari berbagai kunjungan tokoh nasional. Tercatat beberapa tokoh penting di pemerintahan pernah menginjakkan kaki di kampus “terbaik” kota Solo ini. Mulai dari mantan ketua Mahkamah Konstitusi, Mahfud MD, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, hingga Presiden Joko Widodo – yang kala itu masih menjabat gubernur DKI Jakarta. Pada dies natalis Maret lalu, Ravik juga menghadirkan pebisnis Chairul Tanjung yang dianugerahi doktor honoris kausa. “Pak Ravik ini juga pintar mencari jaringan ke atas, artinya ke pemerintahan,” ujar Eko.

Menurut Eko, pengemasan UNS yang baik menjadi biang naiknya peringkat UNS. “Mungkin bisa mendapat akreditasi dan peringkat yang tinggi, karena Pak Ravik bisa membungkus UNS sehingga tampak bagus dari luar,” nilai Eko.

Tingkat kepuasan mahasiswa yang rendah juga terbukti dari hasil survei yang dilakukan bagian Humas UNS pada tahun 2013. Survei yang bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan mahasiswa pada sebelas perguruan tinggi di Indonesia tersebut, menempatkan UNS di posisi paling dasar. UNS hanya memperoleh kepuasan sebesar 32,2 % dari rata-rata kepuasan 78,3 %. Bahkan, Universitas Jenderal Soedirman masih memiliki tingkat kepuasan mahasiswa yang lebih tinggi dibanding UNS, yakni sebesar 58,1 %. Sementara itu, urutan teratas masih ditempati Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, dan Universitas Brawijaya. Masing-masing dengan tingkat kepuasan 96,7 %; 94,1 %; dan 93,9 %. Poin penting yang menjadi dasar survei tersebut di antaranya, fasilitas gedung prodi, layanan kantor prodi, ruang kuliah prodi, layanan administrasi prodi, perpustakaan, serta tiga kriteria mendasar lainnya.

Melihat rekam jejak Ravik Karsidi selama satu periode, juga pengalamannya menjabat sebagai wakil rektor I, mahasiswa tentu berharap akan terjadi perubahan yang signifikan. Terlebih pada akhir 2015, ASEAN Community akan segera dimulai. Hal ini tentunya akan menjadi tantangan tersendiri bagi UNS dalam menghadapi persaingan global.[*]

(Foto: Fajar Andi/lpmkentingan.com)